π Όπ °π Ίπ ½π ° π ³π Ύπ ° π ±π °π Ώπ ° π Ίπ °π Όπ Έ π Ώπ °ππ 1️⃣ ; 2️⃣ ; 3️⃣
π
Όπ
°π
Ίπ
½π
° π
³π
Ύπ
° π
±π
°π
Ώπ
° π
Ίπ
°π
Όπ
Έ 1️⃣
Doa Bapa Kami (1)
π
°π
»π
Ίπ
Έππ
°π
± Matius 6:9-15
“Bapa kami…”
Dalam bagian ini kita akan melihat doa yang diajarkan Tuhan Yesus, yaitu Doa Bapa Kami. Doa ini dimulai dengan kata-kata yang hanya boleh diucapkan oleh umat tebusan Tuhan. Panggilan “Bapa” adalah panggilan yang menjadi hak Kristus. Tetapi orang percaya boleh memanggil Dia “Bapa” karena Kristus. Kristus yang melayakkan kita karena Dia menebus kita. Di dalam Kristus kita boleh memanggil Allah dengan “Bapa”. Tetapi doa ini mengingatkan kita bahwa umat tebusan itu tidak terdiri dari satu orang saja, melainkan terdiri dari banyak saudara-saudara. Itulah sebabnya doa ini dibuka dengan memanggil Allah sebagai “Bapa kami”, bukan “Bapaku”. Ini berarti Tuhan Yesus sedang mengajarkan umat Tuhan untuk berdoa dengan kesadaran bahwa seorang percaya memiliki banyak saudara yang dikasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan. Setiap orang Kristen tidak boleh lupa bahwa ada orang-orang lain yang juga percaya kepada Kristus dan mereka telah dipilih dan dijadikan anak oleh Bapa.
“…yang di surga,”
Dalam kata-kata doa yang berikut, Tuhan Yesus mengajarkan umat Tuhan untuk menyadari bahwa Tuhan ada di tempat yang Mahatinggi. Meskipun kita memanggil Dia “Bapa”, tetapi kita tidak boleh kehilangan hormat yang seharusnya diberi untuk Dia (Mal. 1:6). Salah satu cara untuk mengingat siapa Allah adalah dengan mengingat bahwa Dia berada di surga (Pkh. 5:1). Allah ada di surga yang mulia, sedangkan kita di bumi. Dia adalah Sang Pencipta yang bertakhta atas seluruh ciptaan, sedangkan kita adalah ciptaan yang begitu kecil dan lemah. Kedekatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita tidak boleh membuat kita lupa bahwa kita di bumi, sedangkan Allah ada di surga.
“dikuduskanlah nama-Mu,”
Permohonan ini adalah permohonan yang sewajarnya dikatakan oleh manusia yang menyadari kemuliaan Allah. Dia yang agung dan layak dipuji, biarlah nama-Nya ditinggikan dan diagungkan sebagaimana seharusnya. Ini menjadi doa yang benar-benar dirindukan oleh umat Tuhan yang sejati. Tidak ada kerinduan yang lebih besar daripada kerinduan agar nama Tuhan dipermuliakan. Siapa pun orang yang mengenal Tuhan menyadari bahwa tidak ada hal yang lebih rusak daripada ciptaan yang menghina nama Penciptanya. Manusia berdosa meremehkan Tuhan. Mereka menolak menyembah Tuhan dan menolak menghormati nama-Nya yang kudus. Tetapi orang-orang yang telah mengenal Dia menjadi sadar betapa tidak pantasnya kalau orang-orang yang diciptakan dan ditopang oleh anugerah-Nya tidak sujud menyembah di dalam nama-Nya dengan segala perasaan hormat dan kagum. Inilah permohonan kita ketika menyadari keagungan nama-Nya, yaitu biarlah semua manusia sujud dan menyembah Allah ketika mereka mendengar nama-Nya yang kudus. Biarlah semua manusia menjadi gentar dan hormat ketika nama-Nya yang kudus disebut. Biarlah semua manusia mempersembahkan hidup yang kudus dan benar jikalau melalui mulut mereka nama Tuhan yang kudus disebut.
“datanglah Kerajaan-Mu…”
Bagian ini adalah permohonan agar kuasa, kesucian, keadilan, kebenaran, kedamaian, dan kemuliaan Allah bertakhta di seluruh bumi dengan segera. Semua kejahatan, ketidakadilan, penghinaan terhadap nama Tuhan, penindasan, dan semua hal lainnya akan dihakimi dan dibersihkan dari Kerajaan Allah. Kedatangan Kerajaan Allah adalah permohonan untuk sifat Allah yang benar dan adil dinyatakan untuk menghancurkan segala kecemaran, kejahatan, dan ketidakadilan di dunia ini.
“jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga…”
Doa dilanjutkan dengan memohon kepada Bapa agar apa yang Bapa rencanakan di bumi dapat terjadi sama seperti di surga kehendak-Nya jadi. Ini adalah permohonan yang menyatakan kebertundukan mutlak kepada Allah. Orang Kristen sejati harus berdoa dengan menyadari hal ini. Kebertundukan kepada kehendak Allah adalah hal yang paling penting untuk mematikan sifat mementingkan diri sendiri. Tidak ada cara lain! Utamakan Allah, bukan diri. Utamakan kemuliaan Allah, bukan kedamaian hidup diri. Utamakan menyenangkan Allah, bukan kesenangan sendiri. Inilah paradoks hidup manusia. Ketika kita mencari damai bagi diri sendiri, damai tidak akan pernah tiba. Ketika kita mencari ketenangan bagi diri sendiri, justru ketenangan menjauh dari kita. Tetapi ketika kita menjalani hidup dengan penuh ketaatan akan kehendak Allah, di situlah bahagia sejati bermula. Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu jadilah (Luk. 22:42).
Untuk direnungkan:
Perhatikan bagaimana Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengutamakan Allah di dalam doa kita. Allah sebagai Bapa kita yang harus kita tinggikan. Allah yang nama-Nya harus dikuduskan. Allah yang Kerajaan-Nya harus ditegakkan di bumi ini. Allah yang kehendak-Nya harus terjadi di bumi ini seperti di surga. Semua berfokus kepada pribadi Allah dan kehendak-Nya. Tidak ada yang lain yang boleh mengambil tempat utama ini. Jika kehidupan kita adalah kehidupan yang terus menerus mengesampingkan Tuhan, maka kita bukan orang Kristen sejati. Doa yang sejati juga merupakan ekspresi kerohanian yang dewasa. Tidak ada cara yang lebih baik untuk menilai diri kita selain dengan melihat isi doa-doa yang kita panjatkan dengan segenap hati dan ketekunan. Adakah kita bertekun agar nama Tuhan dipermuliakan? Adakah kita bertekun dalam doa supaya Allah kita menyatakan kemuliaan-Nya dan ditinggikan oleh seluruh ciptaan-Nya? Jika doa-doa kita tidak memiliki permohonan suci seperti ini, maka kita akan menjalani kehidupan dengan keinginan-keinginan yang makin tidak selaras dengan kehendak dan rencana Allah. Biarlah kita boleh belajar untuk memiliki doa yang benar-benar memberikan segala kerinduannya kepada Allah, nama-Nya yang kudus, dan kehendak-Nya yang mulia.
Tetapi orang-orang Kristen makin terseret oleh penyesat-penyesat yang mengaku sebagai hamba Tuhan. Ajaran-ajaran yang makin rusak menekankan kuasa doa dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Alkitab. Banyak orang Kristen sekarang menggunakan doa sebagai cara untuk meraih semua hawa nafsu duniawinya untuk menjadi kaya atau terkenal. Allah diperlakukan tidak beda dengan dewa-dewa palsu dan dijadikan media bagi mereka untuk memperoleh kemewahan dan kenikmatan hidup. Manusia sudah tersesat dan di dalam kesesatannya mereka meminta dengan cara yang sangat tidak pantas kepada Allah yang Mahatinggi. Doa bukan cara untuk kita melihat mujizat untuk dipamerkan. Doa juga bukan cara kita dapat memperoleh ilmu-ilmu sakti. Doa orang Kristen harus berbeda dengan doa orang-orang kafir, tetapi mengapa tetap ada gereja-gereja yang mengajarkan orang Kristen berdoa seperti orang-orang kafir berdoa. Isi doa hanya meminta hal-hal yang berkait dengan kesuksesan diri dan kebahagiaan diri. Meminta keuntungan yang berlipat ganda di dalam usaha, meminta dimuluskan bisnisnya, meminta agar naik pangkat atau naik gaji, dan lain-lain. Semua permintaan yang didorong oleh motivasi memuaskan diri sendiri adalah permintaan yang salah (Yak. 4:3). Kita salah berdoa karena semua mau dipakai untuk memuaskan hawa nafsu.
Tetapi jika di satu sisi orang-orang Kristen yang telah tersesat di dalam konsep doa yang salah itu sangat tekun berdoa, maka di sisi yang lain ada orang-orang Kristen yang tidak memiliki kehidupan doa yang hidup dan intim dengan Allah. Mereka ini hanya berdoa seperlunya. Doanya pun hanya mengulang-ulang kata-kata klise yang tidak lagi keluar dari hati yang sungguh-sungguh memanjatkan doanya. Doanya menjadi kering dan rutinitas saja. Tidak ada kehangatan di dalam doanya. Tidak ada kerinduan kepada Allah yang tercermin dari kata-kata doanya. Tidak ada relasi yang dekat dengan Allah. Semuanya kering dan kosong. Jika ini kehidupan doa kita, kita harus bertobat dan memohon hati yang sungguh-sungguh memiliki kerinduan berelasi dengan Allah.
Doa:
Tuhan, kami rindu mengutamakan Engkau di dalam hidup kami. Berikanlah kami hati yang senantiasa merindukan Tuhan dan merindukan Kerajaan Tuhan dinyatakan. Tolong kami, ya Tuhan, agar hanya Engkau yang senantiasa kami rindukan di dalam hati kami, dan agar hati kami itu dapat dipelihara oleh Roh-Mu melalui firman-Mu. Biarlah kerinduan itulah yang mendorong kami mengatakan: “dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu…”
π
Όπ
°π
Ίπ
½π
° π
³π
Ύπ
° π
±π
°π
Ώπ
° π
Ίπ
°π
Όπ
Έ 2️⃣
DOA BAPA KAMI (2)
π
°π
»π
Ίπ
Έππ
°π
± π
³π
°ππ
Έ Matius 6:9-15
“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”
Kita melanjutkan pembahasan Doa Bapa Kami ini dengan permohonan berikutnya, yaitu di dalam ayat 11. Setelah mendoakan hal-hal yang paling utama tentang Allah dan kehendak-Nya, Yesus mengajarkan murid-murid-Nya perihal meminta kepada Tuhan. Anak-anak Allah tentu berhak meminta kepada Bapa mereka yang di surga. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan di sini untuk meminta karena kebergantungan kepada Tuhan, bukan karena keserakahan. Ini dua motivasi yang berbeda sama sekali. Yang satu meminta karena dia tahu bahwa Tuhan adalah penopang hidupnya. Tetapi yang lain meminta karena dia menginginkan sesuatu dan sesuatu itu harus dipenuhi dengan segera. Motivasi memohon harus dipelihara dan dijaga. Maka Tuhan Yesus mengajar umat-Nya untuk meminta kepada Bapa sebagai pengakuan bahwa Bapa di surgalah yang memelihara dan menopang hidup mereka. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan di dalam ayat 11 agar permintaan umat Tuhan adalah permintaan mengenai hal yang mendasar. Hal-hal yang harus kita cari dan tanpanya kita tidak bisa hidup. Tuhan tidak mengajarkan umat-Nya untuk meminta udara. Udara tidak perlu dicari. Tetapi makanan adalah sesuatu yang sangat dasar dan harus diusahakan dengan tangan kita sendiri. Permohonan ini mencegah kita untuk bergantung kepada tangan kita sendiri dalam mendapatkan makanan, juga menyatakan pengakuan kita bahwa Tuhanlah yang memelihara hidup kita.
Ayat 11 mengatakan “berilah kami pada hari ini”. Ini berarti kebergantungan kita kepada Allah harus dilakukan hari demi hari. Sebab jika permintaan kita adalah agar Tuhan mencukupkan untuk hari ini saja, berarti besok kita harus berdoa lagi kepada Tuhan. Doa ini mengajarkan kepada kita untuk menyadari bahwa tidak ada apa pun yang pasti di dunia ini, bahkan makanan pokok kita pun tidak tentu bisa kita dapatkan lagi. Hanya penyertaan Tuhan saja yang pasti, dan hanya dengan mengandalkan Dialah kita dapat memperoleh ketenangan. Itulah sebabnya doa ini mengatakan “berilah makanan kami pada hari ini”. Lalu selanjutnya dikatakan “yang secukupnya”. Ini kalimat yang mencegah kita menjadi serakah. Doa bukanlah agar kita dapat hidup mewah. Doa adalah supaya kita dapat bergantung kepada Tuhan. Jangan serakah jikalau permintaan itu untuk diri sendiri. Makanan secukupnya untuk hari ini. Ini adalah permintaan agar Tuhan memberikan kita hidup yang sederhana.
“ampunilah kami akan kesalahan kami”
Kalimat berikutnya mengajarkan kita untuk mengakui kesalahan kita kepada Allah dan melihatnya sebagai hal yang sangat besar dan sangat kotor. Tuhan Yesus mengajarkan betapa pentingnya untuk memohon pengampunan di dalam doa. Tetapi perlu diingat bahwa ini adalah doa yang diajarkan Tuhan Yesus untuk didoakan oleh para murid, bukan doa yang didoakan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak perlu berdoa meminta ampun karena Dia tidak berdosa. Pengakuan dosa di dalam doa ini akan terus mengingatkan kita akan posisi kita dan anugerah Tuhan. Permohonan ini bukanlah suatu formula kalimat saja. Ini tidak berarti setiap kali kita berdoa harus ada kalimat “ampunilah kami…” tetapi ini berarti bahwa setiap kali kita berdoa kita sadar betapa besar dosa-dosa kita dan betapa kita tidak layak untuk menghadap Dia di dalam doa. Pengertian ini sangat menyadarkan kita akan anugerah-Nya yang tetap memperbolehkan kita datang kepada Dia untuk berdoa kepada-Nya meskipun kita cemar dan penuh dosa.
“seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”
Pada bagian ini Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menyadari bahwa besarnya dosa-dosa kita membuat kita tidak mempunyai alasan untuk tidak mengampuni kesalahan orang lain kepada kita. Salah satu tanda kita sadar anugerah pengampunan adalah kita pun sanggup mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Tidak adil jika kita memohon diri kita diampuni sedangkan orang lain tidak kita ampuni. Itu sebabnya di dalam ayat 14 dan 15 Tuhan Yesus memberikan nasihat tambahan bahwa kerelaan kita mengampuni kesalahan orang lain akan dipakai Tuhan untuk menjawab doa kita. Tuhan tidak akan menjawab doa-doa kita sebelum kita mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Betapa pun beratnya, mengampuni adalah sesuatu yang harus kita lakukan karena Tuhan memerintahkannya kepada kita. Kerelaan kita mengampuni menunjukkan bahwa kita telah memahami sifat Allah yang penuh kasih.
Untuk direnungkan:
Dua permohonan yang kita bahas pada hari ini sangat berkait dengan kehidupan sehari-hari kita. Setiap hari kita memerlukan makanan. Setiap hari juga kita bertemu dengan orang lain. Setiap hari juga kita perlu menyadari ketidaklayakan kita dan betapa besar anugerah-Nya (Rat. 3:22-23). Dua permohonan ini mutlak diperlukan setiap hari. Tetapi sudahkah kita mendoakannya dengan kesungguhan hati? Tentu sulit berdoa memohon makanan setiap hari kalau persediaan makanan kita begitu melimpah. Bagaimana kita bisa meminta makanan untuk hari ini dengan segenap hati kalau kita tidak pernah melihat kekurangan? Hal pertama untuk menjawab pertanyaan ini adalah bahwa doa kita bukan hanya untuk diri sendiri. Bukankah kata yang dipakai adalah “kami”, dan bukan “saya”? Kalau kita berkelimpahan makanan, apakah itu berarti seluruh umat Tuhan tidak ada yang kekurangan? Cara berpikir yang egois membuat permohonan ini menjadi tidak relevan. Kita berdoa untuk umat Tuhan, bukan untuk kita saja. Bahkan jika kita mau tarik lebih luas lagi, kita sedang berdoa untuk orang-orang lain yang kekurangan meskipun mereka belum mengenal Tuhan Yesus (Luk. 4:25-26). Dan, sebagaimana pembahasan kita di hari yang lalu, doa yang hanya perkataan mulut, tanpa ada kerinduan yang sejati dari dalam hati untuk bertindak dan berkorban, adalah palsu. Kita berdoa agar Tuhan memberikan makanan secukupnya? Sudahkah kita juga memberikan makanan bagi mereka yang lapar? Hal kedua adalah bahwa meskipun kita mengalami kelimpahan makanan, kita tidak bergantung pada persediaan yang kita miliki. Persediaan makanan, uang, tabungan, investasi, semua itu bisa hancur hanya dalam satu hari (Ayb. 1:13-19). Kita mau mengandalkan kemampuan bisnis kita? Dalam satu hari bisa terjadi krisis ekonomi yang membuat bisnis kita hancur total. Kita mau mengandalkan ilmu pengetahuan kita? Dalam satu hari teknologi bisa berkembang ke arah yang membuat pengetahuan kita tidak lagi terpakai. Tidak ada yang bisa kita andalkan untuk terus menjaga adanya makanan meja kita setiap hari. Maka, meskipun sekarang kita sedang dalam keadaan limpah, tetaplah berdoa: “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya…”.
Mari renungkan juga relasi sosial kita! Apakah kita memiliki musuh? Apakah ada orang yang merugikan kita dengan sangat? Apakah ada orang yang membuat kita sakit hati dan tidak bisa pulih? Biarlah kita merenungkan ini, yaitu bahwa kita dahulu adalah musuh Tuhan. Kita merugikan Tuhan dengan menghina Dia dan kekudusan nama-Nya dengan berbuat dosa. Kita menyakiti hati Tuhan karena meskipun Tuhan terus memelihara kita hari demi hari, kita tidak mau menyembah Dia dan bersyukur kepada-Nya. Kita telah melakukan tindakan yang sangat berdosa kepada Dia yang menopang hidup kita. Jika Dia rela mengampuni kita, apalagi kita, yang tidak pernah menopang hidup siapa pun seperti Tuhan menopang kita. Pernahkah kita berjasa untuk tarikan nafas orang lain? Pernahkah ada orang yang berutang nyawa kepada kita karena setiap hari kitalah yang menyebabkan jantungnya terus berdenyut? Dosa kita kepada Allah jauh lebih besar daripada dosa musuh-musuh kita kepada kita. Ingatlah kasih dan pengampunan Tuhan! Ampunilah musuh-musuh kita! Kebencian adalah penyakit yang memakan habis emosi, jiwa, dan kesehatan kita. Pengampunan, sebaliknya, adalah kuasa kemenangan yang sejati atas kebencian dan murka. Tuhan rela mengampuni kita dengan mengorbankan Anak Tunggal-Nya. Kita harus rela mengampuni orang yang bersalah kepada kita dengan mengorbankan emosi di dalam diri kita.
Doa:
Tuhan, berikanlah kepada kami hati yang sadar bahwa kami bergantung mutlak kepada-Mu. Engkaulah pemelihara hidup kami. Engkaulah penuntun hidup kami langkah demi langkah. Engkaulah yang melampaui semua kerajaan dan kuasa dengan rencana-Mu yang adil dan mulia. Ajari kami, ya Tuhan, supaya sekali kami melihat kemuliaan-Mu, tidak ada lagi hal lain yang lebih kami kagumi.
π
Όπ
°π
Ίπ
½π
° π
³π
Ύπ
° π
±π
°π
Ώπ
° π
Ίπ
°π
Όπ
Έ 3️⃣
Doa Bapa Kami (3)
Devotion from Matius 6:5-15
“janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”
Kita tiba pada permohonan terakhir, yaitu supaya Tuhan menjauhkan kita dari pencobaan. Tuhan Yesus mengajarkan kita agar kita senantiasa bergantung kepada Tuhan untuk melawan dosa. Iblis terus mencari cara untuk memperdaya kita dan membuat kita jatuh ke dalam dosa. Kesadaran akan hal ini membuat kita sadar bahwa kita tidak sanggup lepas dari jeratnya sekali kita terjatuh di dalamnya. Tuhan Yesus ingin agar seluruh umat Tuhan sadar betapa berbahayanya dosa itu dan betapa lemahnya kita semua untuk melawan dosa. Tetapi kata-kata “janganlah membawa kami…” ini perlu dipahami lebih dalam lagi. Kalimat ini dipakai sebagai cara umat Tuhan menyatakan kelemahan iman mereka. “Memimpin ke dalam pencobaan” ini berarti Tuhan membawa iman seseorang kepada kemurnian setelah dihadapkan dengan ujian iman. Misalnya di dalam Kitab Ayub di mana Tuhan dengan sengaja mengizinkan setan membujuk, menggoda, bahkan menghancurkan Ayub agar dia jatuh ke dalam dosa (Ayb. 1:12; 2:6). Ayub dipimpin oleh Tuhan ke dalam segala bentuk ujian iman yang sangat berat. Tetapi jika itu adalah cara Tuhan memurnikan Ayub, mengapa Tuhan Yesus mengajar umat-Nya berdoa agar Bapa di surga tidak memakai cara itu untuk mereka? Sebenarnya Tuhan Yesus bukan mengajarkan bahwa cara Tuhan memurnikan iman dengan kesulitan dan penderitaan sebagai hal yang salah. Tuhan Yesus mengajarkan ini agar umat Tuhan dengan rendah hati menyatakan dirinya tidak sanggup melewati pencobaan. Ayub sanggup bertahan dengan kebenarannya, tetapi kita akan gagal terus. Jadi kata-kata yang diajarkan Yesus berarti, “Jangan uji kami karena kami akan gagal.” Tuhan Yesus tidak mau mengajarkan murid-murid-Nya menjadi super hero rohani, yaitu orang-orang yang merasa cukup kuat menghadapi apa pun karena kekuatan rohani yang telah dia miliki. Orang seperti ini akan berdoa, “berikanlah aku pencobaan karena aku sanggup menghadapinya.” Ini doa yang sombong sekali. Tuhan Yesus mengingatkan murid-murid-Nya untuk berkata, “jangan beri pencobaan, karena aku pasti gagal…”
“lepaskanlah kami dari pada yang jahat”
Tetapi lanjutan dari doa itu mengatakan: “lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Ini berarti kita tetap yakin bahwa Tuhan sanggup menopang dan membebaskan kita dari segala pencobaan terhadap iman kita. Saya sendiri tidak akan berhasil menang. Tetapi jikalau kuasa Tuhan membebaskan saya dari yang jahat, saya akan menang. Jadi bukan karena kekuatan saya yang hebat yang mendorong saya untuk meminta Tuhan memberi pencobaan atau ujian iman, tetapi karena kepercayaan bahwa Dia menopang saya sepenuhnya. Tanpa Dia saya tidak akan menang melewati apa pun. Jangan membawa kami ke dalam pencobaan karena pasti kami gagal. Tetapi jika memang kami harus masuk ke dalam pencobaan, maka kami memohon supaya kekuatan-Mu sajalah yang menopang kami, memelihara iman kami, dan memberikan kemenangan kepada kami. Inilah pengertian dari bagian doa ini.
“karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin”
Bagian terakhir dari doa ini adalah pernyataan pujian bagi Tuhan. Doksologi. Ucapan yang menyatakan pengakuan kita akan kemuliaan Tuhan. Doa yang sejati harus mengandung puji-pujian yang tulus kepada Allah yang mulia. Memuji Tuhan karena sifat-sifat-Nya yang mulia dan memuji Tuhan karena kasih-Nya yang besar. Ketika kita mengatakan, “Tuhanlah yang memiliki Kerajaan”, ini berarti kita menyadari Kerajaan-Nya sebagai sesuatu yang akan dinyatakan di bumi ini. Kita mengakui bahwa Dia adalah Sang Raja seluruh alam semesta. Ketika kita mengatakan, “Tuhanlah yang memiliki kuasa”, ini berarti kita sama-sama mengakui dengan bersujud bahwa tidak ada kemuliaan dan kuasa yang boleh dinyatakan selain kuasa Tuhan. Semua kuasa lain yang muncul adalah kuasa yang akan menghancurkan iman Kristen, tetapi kuasa Tuhan jauh melampaui kuasa apa pun. Dia jugalah satu-satunya yang layak dipermuliakan. Seluruh kemuliaan hanya bagi Allah. Tidak ada keindahan, kemuliaan, dan terang sejati yang dapat disandingkan dengan kemuliaan Allah. Kemudian seluruh doa ditutup dengan kata “Amin”. Ini berarti pernyataan bahwa segala kalimat yang telah diucapkan di dalam doa adalah kalimat-kalimat yang sungguh benar adanya.
Untuk direnungkan:
Biarlah semua hal yang diajarkan melalui doa ini boleh menjadi bagian dari hidup kita juga. Biarlah kita boleh menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh rendah hati dan menyadari kelemahan diri sendiri. Kesadaran ini akan membawa kita menjauhkan diri dari dosa. Jika kita tidak merasa kuat menghadapi godaan dosa, maka kita akan menjauhi setiap sumber godaan itu. Jika kita tidak merasa sanggup bertahan, maka kita tidak akan main-main dengan membawa diri sendiri menuju godaan dosa. Bagaimana mungkin Tuhan berkenan jika seseorang yang memohon agar tidak dibawa oleh Tuhan ke dalam pencobaan ternyata malah membawa diri sendiri ke dalam pencobaan. Biarlah kita menyadari kelemahan diri kita. Jika kita pernah diikat oleh suatu dosa tertentu, biarlah kita menyadari bahwa diri kita sangat lemah di dalam dosa itu. Jauhkanlah diri dari apa pun yang membawa kita jatuh kembali ke dalam dosa yang sama. Kesadaran inilah yang mendorong kita memohon kepada Allah agar kita tidak dibiarkan melewati pencobaan karena dengan kekuatan sendiri kita akan gagal.
Tetapi di dalam doa ini juga diajarkan bahwa Tuhan Allah adalah pengharapan untuk menang dari dosa. Kekuatan kita sendiri hanya membuahkan kegagalan, tetapi kekuatan Tuhan adalah penopang yang sejati dan dapat diandalkan. Tuhan memberikan kekuatan kepada kita sehingga kita sanggup. Tidak ada satu orang pun mempunyai kemampuan untuk mengalahkan dosa, tetapi Tuhan memampukan kita. Ini tidak berarti kita pasif dan tidak melakukan apa pun. Setiap orang Kristen harus berjuang menjauhkan dirinya dari pencobaan, seperti permintaan di dalam doa ini. Menjauhkan diri dari apa pun yang dapat membuat kita jatuh ke dalam dosa. Mengandalkan Tuhan harus selalu dibarengi dengan menjauhkan diri dari dosa. Jika kita memohon kekuatan dari Tuhan untuk meninggalkan dosa, tetapi kita selalu merasa diri kuat dan terus membiarkan diri dekat pada situasi yang memungkinkan kita jatuh, maka Tuhan pasti tidak mengabulkan permohonan kita. Jika kita tidak menjauhkan diri dari dosa, tetapi meminta Tuhan menjauhkan dari dosa, ini berarti kita sedang mencobai Tuhan.
Hal berikut yang menjadi renungan kita adalah memuji Tuhan di dalam doa. Memanjatkan doksologi di dalam seruan doa kita adalah sesuatu yang sangat indah. Doa bukan hanya berisi daftar permintaan kita kepada Allah. Doa adalah cara kita memanjatkan kerinduan akan Tuhan, dan juga kekaguman akan Dia. Hati orang percaya seharusnya terbiasa berdoksologi bagi Tuhan. Puji-pujian dan sembah kita kepada Tuhan dinyatakan dengan sangat indah di dalam kalimat penutup Doa Bapa Kami ini. Tuhan adalah yang mempunyai Kerajaan, kuasa, dan kemuliaan selama-lamanya. Lalu kata terakhir untuk menutup doa ini adalah “amin”. Kata yang berarti “sungguh benar demikian” atau “jadilah sesungguhnya demikian” adalah penutup yang menunjukkan pengharapan dan iman kita akan apa yang kita doakan. Kata “amin” juga digunakan sebagai kata meresponi kalimat doksologi atau puji-pujian kepada Tuhan. Kata ini menunjukkan bahwa yang kita doakan bukan kalimat kosong yang diserukan tanpa didengar siapa pun. Kata ini menunjukkan bahwa apa yang kita doakan didengar oleh Allah yang berkuasa atas langit dan bumi. Tidak ada doa yang sia-sia diucapkan karena ternyata diabaikan oleh Bapa di surga. Kata “amin” menunjukkan iman kita bahwa Allah yang mendengar sanggup menyatakan kehendak-Nya atas jawaban doa bagi anak-anak-Nya. Kata ini juga menunjukkan pengharapan kita supaya apa yang didoakan benar-benar menjadi nyata.
Doa:
Tuhan, kami bersyukur karena kami boleh berdoa kepada-Mu. Kami bersyukur karena Engkaulah pemelihara kami yang senantiasa mendengar seruan kami. Kami bersyukur karena Engkaulah yang maha kuasa dan akan menyatakan rencana-Mu yang agung agar Kerajaan-Mu datang. Kami bersyukur karena kami memiliki Allah yang mengenal kami dan yang rela menjawab permohonan kami untuk mempertumbuhkan iman kami.
Komentar
Posting Komentar