π Όπ ΄π ½π Ήπ °π ³π Έ π Ώππ Έπ ±π °π ³π Έ ππ °π ½π Ά πππ ·π °π ½ π Ώπ ΄ππ ²π °ππ °
Mikha 7:6 (TB) Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
Matius 10:21 (TB) Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.
KATA KUNCI
Di Sini Terdapat: Kewaspadaan Dan Ketekunan Ditekankan Berkali-kali (12:41-53)
I. Pertanyaan Petrus, yang diajukannya kepada Kristus setelah ia mendengar perumpamaan di atas (ay. 41), "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu, kami yang adalah pengikut-pengikut setia-Mu, kami yang adalah para pelayan-Mu, atau juga kepada semua orang yang datang untuk menerima ajaran dari-Mu, semua orang yang mendengarkan-Mu, termasuk semua orang Kristen?" Petrus sekarang, seperti sebelum-sebelumnya, menjadi juru bicara bagi murid-murid yang lain. Kita patut bersyukur kepada Allah atas orang-orang pemberani seperti ini, yang mempunyai karunia berbicara.
Namun, orang-orang seperti ini harus berjaga-jaga supaya mereka tidak menjadi sombong. Nah, Petrus ingin agar Kristus menjelaskan sendiri apa yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu, dan agar Ia mengarahkan anak panah-Nya pada sasaran yang dituju. Petrus menyebutnya perumpamaan, karena perkataan itu tidak hanya bersifat kiasan, tetapi juga berbobot, padat, dan mengandung suatu ajaran. Tuhan, kata Petrus, kami ataukah semua orang yang dimaksudkan dengan perumpamaan itu?
KRISTUS MEMBERIKAN JAWABAN LANGSUNG UNTUK PERTANYAAN INI (Mrk. 13:37),
"Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang." Namun, dalam penjelasan selanjutnya dalam ayat-ayat di atas tampaknya Ia menunjukkan bahwa para rasullah yang terutama dimaksudkan dengan perumpamaan itu.
Perhatikanlah, kita semua harus memperhatikan apa yang dirancang Kristus dalam perkataan-Nya kepada kita, dan sesuai dengan itu kita harus menanyakan hal-hal yang berkaitan dengannya. Kamikah yang Engkau maksudkan? Akukah? Berbicaralah Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Apakah perkataan ini ditujukan kepadaku? Berbicaralah kepada hatiku.
II. Jawaban Kristus terhadap pertanyaan ini, yang ditujukan kepada Petrus dan murid-murid yang lain.
Bila apa yang sudah dikatakan Kristus sebelumnya tidak menyangkut mereka secara khusus, melainkan berkaitan dengan orang-orang Kristen lain secara umum, sebagai hamba-hamba-Nya, yang semuanya harus berjaga-jaga dan berdoa bagi kedatangan Kristus, maka perkataan-Nya ini secara khusus ditujukan kepada para hamba, yang merupakan pengurus di rumah Kristus. Nah, Yesus Tuhan kita dalam hal ini memberi tahu mereka,
. Apa kewajiban mereka sebagai pengurus-pengurus rumah, dan apa kepercayaan yang diberikan kepada mereka.
(1) Mereka diangkat sebagai kepala atas rumah tangga Allah, di bawah Kristus, yang merupakan pemilik rumah itu. Hamba-hamba Tuhan mendapat wewenang dari Kristus untuk mengabarkan Injil, untuk menjalankan ketetapan-ketetapan Kristus, dan untuk menerapkan meterai-meterai kovenan anugerah (yaitu menjalankan baptisan dan perjamuan kudus ).
(2) Tugas mereka adalah memberikan makanan kepada anak-anak dan hamba-hamba Allah, makanan yang pantas bagi mereka dan yang sudah disediakan bagi mereka, meyakinkan hati dan memberi penghiburan bagi mereka yang memerlukannya. Suum cuique -- kepada setiap orang apa yang menjadi bagiannya. Ini berarti berterus terang memberitakan perkataan kebenaran (2Tim. 2:15).
(3) Memberikan makanan itu kepada mereka pada waktunya, pada waktu dan dengan cara yang paling sesuai dengan sifat dan keadaan mereka yang akan diberi makan. Alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya kepada yang lelah.
(4) Dalam hal ini mereka harus berlaku setia dan bijaksana, setia kepada Tuan mereka, yang oleh-Nya kepercayaan besar ini ditanamkan di dalam diri mereka, dan setia kepada hamba-hamba yang lain, yang untuk kebaikan merekalah kepercayaan ini diberikan, dan bijaksana dalam memanfaatkan kesempatan untuk memberikan kehormatan bagi Tuan mereka dan pelayanan bagi keluarga-Nya. Hamba-hamba Tuhan haruslah terampil dan juga setia.
. Apa kebahagiaan yang akan mereka peroleh jika mereka didapati setia dan bijaksana (ay. 43): "Berbahagialah hamba,"
(1) Yang bekerja, yang tidak bermalas-malasan atau bersantai-santai. Bahkan kepala rumah tangga harus bekerja dan menjadi hamba bagi semua.
(2) Yang sedang melakukan tugasnya, seperti yang sudah seharusnya, yaitu memberi makanan kepada hamba-hamba-Nya, dengan cara berkhotbah kepada jemaat dan memberi teladan mengenai apa yang diajarkannya itu.
(3) Yang didapati sedang melakukan tugasnya ketika Tuannya datang, yang bertahan sampai akhir, kendati menjumpai berbagai kesulitan di tengah jalan. Nah, kebahagiaannya ini digambarkan dengan diberikannya kedudukan yang lebih tinggi kepada pengurus rumah yang bertugas untuk melakukan pelayanan yang lebih rendah. Ia akan diberi kedudukan untuk melakukan tugas-tugas yang lebih besar dan lebih tinggi (ay. 44): Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Yusuf pernah mendapat kedudukan seperti ini juga di istana Firaun. Perhatikanlah, hamba-hamba yang mendapat belas kasihan dari Tuhan untuk menjadi setia akan mendapat belas kasihan yang lebih banyak lagi dan akan diberikan imbalan yang berlimpah atas kesetiaan mereka pada hari Tuhan.
. Betapa mengerikannya penghakiman yang akan menimpa mereka jika mereka berlaku jahat dan tidak setia (ay. 45-46). Jika hamba itu mulai bertengkar dan berbuat cemar, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan akan dihukum dengan berat. Kita sudah membahas semuanya ini dalam Injil Matius, dan karena itu di sini kita hanya akan mengamati,
(1) Pandangan kita bahwa kedatangan Kristus yang kedua kali itu merupakan suatu peristiwa yang masih lama lagi baru akan terjadi merupakan penyebab dari banyaknya kekacauan yang membuat pikiran kita mengenai kedatangan-Nya itu terasa menyusahkan: Hamba itu berkata di dalam hatinya, "Tuanku tidak datang-datang." Kesabaran Kristus sering kali disalahartikan sebagai suatu perbuatan yang menunda-nunda, yang membuat umat-Nya kecewa dan membuat musuh-Nya senang.
(2) Para penganiaya umat Allah biasanya merasa aman-aman saja dan dikuasai oleh kesenangan duniawi, mereka memukul sesama hamba, lalu makan minum dan mabuk, sama sekali tidak peduli dengan dosa mereka sendiri atau dengan penderitaan-penderitaan saudara-saudara mereka, seperti halnya raja dan Haman, yang duduk minum-minum ketika kota Susan menjadi gempar. Demikianlah mereka minum-minum, untuk menekan suara hati nurani mereka sendiri, dan untuk mengacaukannya, karena kalau tidak demikian, hati nurani mereka pasti sudah menegur mereka dengan keras.
(3) Kematian dan penghakiman akan menjadi suatu hal yang sangat mengerikan bagi semua orang fasik, dan terutama bagi hamba-hamba Tuhan yang jahat. Mereka akan dibuat terkejut olehnya, karena kematian itu datang pada hari yang tidak disangkakannya. Pada hari itu mereka akan ditentukan untuk mengalami kesengsaraan yang tiada akhir. Mereka akan dipisahkan dan disatukan dengan orang-orang yang tidak percaya.
. Dosa dan hukuman mereka akan semakin bertambah karena mereka tahu kewajiban mereka, namun tidak melakukannya (ay. 47-48). Hamba yang tahu kehendak tuannya, tetapi yang tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya itu akan menerima banyak pukulan, akan mendapatkan hukuman yang lebih menyakitkan; sedangkan hamba yang tidak tahu akan menerima sedikit pukulan, dan hukumannya, dengan mempertimbangkan ketidaktahuannya itu, akan diperingan. Ini tampaknya merujuk pada hukum yang membedakan dosa yang tidak disengaja dan dosa yang disengaja (Im. 5:15 dst.; Bil. 15:29-30), dan juga pada hukum lain yang berkaitan dengan banyaknya pukulan yang harus diberikan kepada orang yang bersalah sesuai dengan tindak kejahatannya (Ul. 25:2-3).
Di sini terlihat bahwa:
(1) Ketidaktahuan akan kewajiban kita bisa menjadi alasan keringanan atas dosa kita. Orang yang tidak tahu kehendak tuannya, karena kecerobohan dan kelalaian, dan tidak mempunyai kesempatan-kesempatan seperti yang dimiliki sebagian yang lain untuk mengetahui kewajiban itu, dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, maka ia akan dipukul, tetapi dengan sedikit pukulan, karena sebenarnya ia bisa saja mengetahui kewajibannya dengan lebih baik. Ketidaktahuannya itu dapat meringankan hukumannya sebagian, tetapi tidak seluruhnya. Demikianlah karena ketidaktahuan orang-orang Yahudi menghukum mati Kristus (Kis. 3:7; 1Kor. 2:8), dan Kristus memandang ketidaktahuan itu sebagai suatu alasan bagi perbuatan mereka: mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
(2) Jika kita tahu kewajiban kita namun tidak melakukannya, maka dosa kita pun lebih berat. Hamba yang tahu akan kehendak tuannya, namun melakukan kehendaknya sendiri, akan menerima banyak pukulan. Allah dengan adil akan memberinya hukuman yang lebih berat karena ia menyalahgunakan sarana pengetahuan yang sudah didapatnya, yang mungkin akan digunakan dengan lebih baik oleh orang lain, karena hal itu menunjukkan kehendak hati dan penghinaannya terhadap pengetahuan yang sudah diperolehnya. Ah, berapa berat lagikah hukuman yang selayaknya diberikan kepada mereka ini, selain banyaknya pukulan yang mereka terima dari hati nurani mereka sendiri? Anakku, camkanlah ini! Inilah alasan baik yang ditambahkan untuk itu: setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut, terutama apabila hal itu diberikan sebagai kepercayaan yang harus ia pertanggungjawabkan. Orang yang mempunyai kemampuan berpikir yang lebih tinggi daripada orang lain, yang mempunyai lebih banyak pengetahuan dan pendidikan, dan yang lebih mengenal Kitab Suci, kepada mereka banyak diberi, dan mereka pun akan dimintai pertanggungjawaban yang lebih besar.
III. Pembicaraan lebih lanjut tentang penderitaan-penderitaan-Nya sendiri, yang sudah disadari-Nya, dan tentang penderitaan-penderitaan para pengikut-Nya, yang Ia ingin agar mereka pun terus menyadarinya dalam kehidupan mereka. Secara umum (ay. 49), "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi." Sebagian orang mengartikan perkataan ini dengan pemberitaan Injil dan pencurahan Roh Kudus, api suci. Api ini dikirim Kristus dengan tugas untuk memurnikan dunia, untuk mengangkat sisa-sisa kotoran di dalamnya, dan untuk membakar sekamnya, dan api itu telah menyala. Injil sudah mulai diberitakan, dan sudah ada persiapan bagi pencurahan Roh Kudus. Kristus membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api. Roh ini turun dalam lidah-lidah api. Namun demikian, dari perkataan selanjutnya, tampak bahwa api ini harus lebih dimengerti sebagai api penganiayaan. Kristus bukanlah penyebab dari penganiayaan ini, sebab penganiayaan terjadi karena dosa para pengacau, para penganiaya. Namun, Ia mengizinkannya, bahkan menugaskannya, sebagai api yang memurnikan untuk menguji mereka yang dianiaya. Api itu telah menyala dalam bentuk permusuhan orang-orang Yahudi yang tidak saleh terhadap Kristus dan para pengikut-Nya. "Betapakah Aku harapkan api itu telah menyala! Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera. Jika api itu telah menyala, apakah yang hendak Kuperbuat? Haruskah Aku menunggu sampai api itu dipadamkan? Tidak, sebab api itu harus melekat kepada-Ku dan kepada semua orang, dan dengannya Allah akan semakin dipermuliakan."
. Ia sendiri harus menderita banyak hal, Ia harus melewati api yang telah menyala ini (ay. 50), "Aku harus menerima baptisan." Penderitaan-penderitaan biasanya dibandingkan dengan api atau air (Mzm. 66:12; 69:2-3). Penderitaan-penderitaan Kristus adalah keduanya, api dan air. Ia menyebut penderitaan-penderitaan-Nya ini sebuah baptisan (Mat. 20:22), sebab Ia dibenamkan di dalam air atau diperciki dengan air, seperti Israel yang dibaptis dalam awan dan dibenamkan ke dalamnya, seperti Israel yang dibaptis dalam laut (1Kor. 10:2). Ia harus diperciki dengan darah-Nya sendiri, dan dengan darah musuh-musuh-Nya (Yes. 63:3).
Perhatikanlah di sini:
(1) Kristus sudah melihat sebelumnya penderitaan-penderitaan-Nya. Ia tahu apa yang harus dialami-Nya, dan bagaimana pentingnya Dia mengalami penderitaan-penderitaan itu: "Aku harus menerima baptisan." Ia menyebut penderitaan-Nya dengan sebuah istilah yang membuatnya terdengar ringan. Penderitaan itu adalah baptisan, bukan luapan air. Aku harus dibenamkan, bukan ditenggelamkan, di dalamnya. Ia menyebutnya dengan suatu istilah yang menguduskan segala penderitaan-Nya itu, sebab baptisan adalah nama yang menguduskan penderitaan itu, sebab baptisan adalah upacara yang kudus. Kristus dalam penderitaan-Nya mempersembahkan diri-Nya bagi kehormatan Bapa-Nya, dan menahbiskan diri-Nya sebagai imam untuk selama-lamanya (Ibr. 7:27-28).
(2) Keberanian Kristus dalam menghadapi penderitaan-Nya: "Betapakah Aku harapkan api itu telah menyala!" Ia rindu akan saat Ia harus menderita dan wafat, mata-Nya tertuju pada kemuliaan yang akan diperoleh dari penderitaan-penderitaan-Nya. Secara tidak langsung, ini seperti keadaan seorang wanita di dalam penderitaannya hendak melahirkan, ia menyambut rasa sakitnya, karena penderitaan itu mempercepat kelahiran anaknya, ia berharap rasa sakit itu menusuk tajam dan hebat, supaya ia tidak usah berlama-lama menderita. Penderitaan-penderitaan Kristus adalah kesengsaraan jiwa-Nya, yang dengan senang hati dijalani-Nya, dengan harapan bahwa melalui penderitaan itu Ia akan melihat keturunan-Nya (Yes. 53:10-11). Betapa hati-Nya terpatri pada penebusan dan keselamatan umat manusia.
. Ia memberi tahu mereka yang ada di sekeliling-Nya bahwa mereka juga harus menanggung berbagai kesusahan dan kesulitan (ay. 51): "Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi, untuk memberimu ketenangan dalam memiliki bumi, dan hidup berkelimpahan secara lahiriah di dalamnya?" Di sini tersirat bahwa mereka cenderung berpikiran seperti ini, malah bahwa mereka terus beranggapan demikian, bahwa Injil akan diterima di mana-mana, bahwa semua orang akan memeluknya dengan suara bulat dan bahwa oleh sebab itu mereka akan berusaha membuat para pengabarnya merasa tenang dan hebat, bahwa Kristus, kalaupun Ia tidak memberi mereka kemegahan dan kekuasaan, setidaknya akan memberi mereka kedamaian. Dalam hal ini mereka didorong oleh bacaan-bacaan dari Perjanjian Lama yang berbicara tentang kedamaian dalam kerajaan Mesias, yang hanya ingin mereka mengerti sebagai kedamaian lahiriah. "Tetapi," kata Kristus, "kamu keliru, sebab apa yang akan terjadi justru bertentangan dengan itu, dan karena itu janganlah kamu menghibur dirimu dengan gambaran Firdaus orang-orang bodoh.
Kamu akan melihat":
(1) "Bahwa pemberitaan Injil akan mengakibatkan pertentangan." (Yeh. 37:7; 1Kor. 11:18; Rm. 14:1-2).
(2) "Bahwa pertentangan ini akan dialami juga oleh keluarga-keluarga, dan pemberitaan Injil akan menimbulkan perpecahan di antara kerabat-kerabat terdekat",ini terjadi apabila yang satu menjadi Kristen dan yang lain tidak,di mana pun Injil diberitakan, orang-orang dihasut untuk melakukan penganiayaan. Injil di mana-mana mendapat perlawanan, dan menimbulkan huru-hara besar mengenai Jalan Tuhan. Oleh karena itu, janganlah murid-murid Kristus mengidam-idamkan damai di bumi bagi diri mereka, sebab mereka diutus seperti domba di tengah-tengah serigala.1Kor. 7:16 ; Mat. 10:35 dan Mat. 24:7)
π
Έπ
½π
΅π
Ύ π
Άπ
΄ππ
΄π
Ήπ
° π
²π
Όπ
² π
·π
Ύπ
»π ππ
Ώπ
Έππ
Έπ
http://holyspiritesronministry.blogspot.com/2021/04/blog-post_21.html
Komentar
Posting Komentar