♥ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ♥
สแดษดแดษดษขแดษด สแดสแด, 21 าแดสสแดแดสษช 2024 | แดสษชษด_แดsสแดษด | 19 แดแดษดษชแด สแดแดแด
๐ฏ️ Bagaimanakah Caranya Untuk Memiliki Kehidupan Kristen_Yang Produktif ?
๐ท๐น๐ถ๐ณ๐ถ๐ฎ
Renungan ini terinspirasi saat penulis sedang komunikasi tentang seorang pelayan Tuhan ( Gembala Umatv) yang seharusnya menjadi teladan bagi manusia tapi malah menjadi biang kerok bagi sesama !
๐ฏ️ Kenapa Biang Kerok ?
๐จ️ Karena Menerut Penulis Pribadi Manusia yang tidak produktif perusak dimata Tuhan & keluarga serta sesama . Baiklah tidak usah panjang lebar kita akan bahas apa itu produktif & kenapa orang kristen harus produktif, silakan dengar sampai habis
Produktivitas adalah topik yang marak dibicarakan hari ini. Begitu banyak artikel dan buku ditulis untuk menolong kita hidup produktif.[1] Produktivitas biasanya dikaitkan dengan kuantitas yang dihasilkan dalam satu kurun waktu tertentu. Makin banyak yang dihasilkan, makin produktif seseorang.
Sebagian orang menyamakan hidup yang sibuk dengan bentuk hidup yang produktif. Akan tetapi, kesibukan sebenarnya juga dapat menjadi kedok untuk menutupi kemalasan kita. Ada orang yang malas mengerjakan tanggung jawab utamanya dan memilih untuk menjadi orang yang sibuk mengurusi hal-hal yang tidak penting. Orang seperti ini adalah orang yang perhatian hidupnya teralihkan ke berbagai macam hal. Di dalam 1 Timotius 5:13, Paulus mendeskripsikan wanita pemalas yang busybody, yakni wanita yang suka sibuk ikut campur urusan orang lain. Orang yang demikian adalah orang yang sibuk, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Di sisi lain, kita juga mendapati orang yang memang tidak produktif, yaitu orang yang malas melakukan segala sesuatu. Amsal banyak berbicara mengenai orang seperti ini. Pertama, orang yang malas adalah orang yang suka tidur. “Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya” (Amsal 26:14). Kedua, orang yang malas adalah orang yang enggan menyelesaikan apa yang ia sudah mulai. “Si pemalas mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi ia terlalu lelah untuk mengembalikannya ke mulutnya” (Amsal. 26:15). Ketiga, orang yang malas adalah orang yang penuh dengan dalih (excuse). “Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana” (Amsal. 26:16). Terakhir, orang yang malas adalah orang yang kabur dari kesusahan. “Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa” (Amsal. 20:4).
Jadi, kita mendapati bahwa di satu sisi, orang yang malas hidupnya pasti tidak produktif. Namun di sisi lain, orang yang sibuk dan bekerja keras pun belum tentu produktif. Jadi, produktivitas bukanlah terutama mengenai banyak sedikitnya usaha kita.
Produktivitas juga bukan mengenai cara (how) kita mengerjakan sesuatu. Produktivitas tidak dapat direduksi menjadi sekadar teknik belaka, misalnya Pomodoro® Technique. Teknik tidak dapat mendefinisikan hidup karena “teknik” bersifat mekanis. Teknik adalah bahasa untuk mesin, input-process-output, sedangkan manusia bukanlah mesin.
Dari pembahasan singkat narasi penciptaan manusia ini, penulis ingin menawarkan arti “hidup yang produktif” sebagai berikut: Hidup yang produktif adalah hidup yang menjalankan panggilan melayani sesama kita dengan talenta kita dan demi kemuliaan Tuhan.
Untuk mengerti produktivitas dengan benar, kita perlu kembali ke pengertian dasar. Di awal kita menyebutkan bahwa produktivitas adalah mengenai banyak sedikitnya hasil dari usaha kita. Pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan adalah: “Siapakah yang menilai hasil tersebut?” Orang Kristen tahu bahwa Tuhanlah yang menilai perbuatan kita (Yohanes 15:1). Alkitab juga mengajarkan bahwa Tuhan juga yang mencari buah dari hidup manusia (Matius. 21:43). Oleh sebab itu, marilah kita kembali ke Alkitab untuk mengerti hidup yang produktif menurut kacamata Tuhan.
Mari kita melihat kisah penciptaan manusia di Kejadian 1:26-30 dan 2:18-23. Pertama, Tuhan adalah Pencipta manusia (1:26). Artinya, Tuhan adalah pemilik hidup manusia. Dari sini ada sedikitnya dua implikasi. Pertama, Tuhan sajalah yang dapat mendefinisikan hidup manusia. Kedua, tujuan hidup manusia adalah untuk Tuhan. Kemudian, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial (1:27; 2:18-23). Setiap manusia tidak pernah diciptakan hanya untuk dirinya sendiri saja. Kita dapat mendapati petunjuk ini dari penciptaan wanita. Wanita diciptakan sebagai penolong pria yang sepadan dalam menghidupi panggilan Tuhan (2:18). Jadi, setidak-tidaknya, panggilan Tuhan perlu dilakukan secara komunal. Ketiga, Allah memanggil manusia untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan (1:28). Artinya, hasil yang Tuhan tuntut adalah hasil dari usaha kita menjalankan tugas yang diberikan-Nya kepada kita. Terakhir, Tuhan memberikan pemberian dan bekal untuk manusia dapat hidup (1:29-30).
Dari pembahasan singkat narasi penciptaan manusia ini, penulis ingin menawarkan arti “hidup yang produktif” sebagai berikut: Hidup yang produktif adalah hidup yang menjalankan panggilan melayani sesama kita dengan talenta kita dan demi kemuliaan Tuhan. Kita akan menjabarkan konsep “hidup yang produktif” dalam tiga poin: 1) menjalankan panggilan melayani sesama, 2) dengan talenta kita, 3) demi kemuliaan Tuhan.
Pertama, hidup yang produktif adalah hidup yang menjalankan panggilan melayani sesama kita. Panggilan bukanlah cita-cita kita, bukan mengejar mimpi dan keinginan diri (passion) kita, dan juga bukan sesuatu yang berada di masa depan. Panggilan kita adalah melayani sesama kita, di sini dan sekarang (here and now). Jangan seorang pun mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain (1Korintus. 10:24). Barang siapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Tuhan dapat tetap di dalam dirinya (1Yohanes. 3:17)? Produktivitas berbicara mengenai hasil. Hasil apakah yang mungkin keluar dari usaha kita melayani sesama kita?
Hasil yang pertama dan terutama adalah keuntungan bagi orang lain. Ketika kita menjalankan panggilan melayani sesama kita, fokus kita adalah pada keuntungan bagi orang lain dan bukan pada diri. Apakah pekerjaan kita atau perusahaan tempat kita bekerja memberikan manfaat atau keuntungan bagi pelanggan, klien, dan masyarakat luas? Jika perusahaan tempat kita bekerja terkenal sebagai polutan lingkungan yang hebat, lintah darat, pengeksploitasi tenaga kerja, kurir online, dan lingkungan, bagaimanakah mungkin kita dapat berkata saya bekerja untuk melayani orang lain? Sebagai contoh, seorang kurir online Kristen yang setia berjerih lelah 12 jam sehari dan 6 hari seminggu demi mengirimkan puluhan paket pelanggan dan hanya mendapatkan upah kotor Rp2.000,00 per paket, lebih melayani sesama, daripada seorang Kristen bergaji Rp200.000.000,00 per bulan, yang bekerja sebagai direktur perusahaan e-commerce, yang melayani jutaan pelanggan, tetapi menggunakan media untuk membuat masyarakat bersikap konsumtif dan menolak memperhatikan kesejahteraan serta kemanusiaan tenaga kerja dan kurirnya. Jika saya menjadi petinggi perusahan tersebut, bukankah lebih tepat jika dikatakan bahwa saya bekerja membantu perusahaan saya mengeksploitasi dan merusak banyak orang? Lalu, jika karier kita menyedot seluruh waktu kita sehingga kita menelantarkan pasangan dan anak, serta membuat kita meninggalkan persekutuan dengan orang-orang kudus, untuk siapakah sebenarnya kita bekerja? Untuk kemuliaan diri atau untuk orang lain?
Hasil yang kedua dari melayani sesama kita adalah kerugian bagi diri. Di dalam Alkitab, hidup melayani bukan dilakukan dengan pertama-tama menaiki tangga pencapaian dan kemuliaan menurut dunia, dan baru kemudian melayani sesama ketika sudah menjadi “besar”. Hidup melayani bukan dilakukan dengan cara menghabiskan 30 tahun waktu hidup kita untuk mengejar pencapaian karier sebagai direktur bergaji besar di perusahaan ternama, dan kemudian menghabiskan 30 tahun berikutnya untuk “melayani” di gereja. Ini adalah cara kafir menurut Yesus (Matius. 20:25). Cara Kristen adalah menjadi hamba setiap saat, meneladani Yesus Kristus yang juga menjadi hamba (Matius 20:26-28). Secara konsisten Alkitab menggambarkan menjadi hamba sebagai jalan penderitaan. Seperti Yesus yang memberikan tubuh-Nya untuk dipecah-pecahkan demi orang lain, demikian juga kita memberikan diri kita untuk dipecah-pecahkan demi orang lain, ketika kita melayani orang lain. Jangan salah sangka, meski Yesus Kristus menjadi hamba seumur hidup-Nya, Ia pun sempat menjadi terkenal dan banyak orang mengikut Dia (Lukas 12:1). Menjadi hamba mungkin juga membawa kemuliaan menurut dunia. Namun, hal ini hanyalah bonus dari Tuhan.
Ia datang ke bumi untuk hidup selama 33,5 tahun saja. Hidup-Nya begitu singkat, tetapi hidup-Nya begitu produktif. Sebab hidup-Nya adalah hidup yang seturut dengan kehendak Bapa-Nya.
Mengapakah seorang Kristen mau merugikan diri demi menguntungkan orang lain? Pertama-tama, karena kita sudah menerima kasih dan belas kasih Allah di dalam Yesus Kristus terlebih dahulu. Kasih yang sudah kita terima seharusnya menjadi modal bagi kita untuk memberikan kasih kepada orang lain (1Yohanes 4:7-8). Kedua, Roh Kudus telah memperbarui hidup kita sehingga kita tidak lagi hidup untuk diri, tetapi untuk orang lain (Filipi 2:1-8). Ketiga, ketika kita rugi karena melayani orang lain, justru kita akan mendapatkan sukacita (1Ptr. 4:13), dan pemeliharaan dari Allah sendiri (Filipi. 4:19).
Berikutnya, panggilan bersifat “sekarang” dan bukan “nanti”. Misalnya, seorang laki-laki yang sekarang sedangmenikah tidak boleh memutuskan untuk menceraikan istrinya dengan alasan, “Saya tidak punya panggilan menikah.” Atau, wanita yang sekarang sedang menikah dan memiliki anak tidak boleh memutuskan untuk menceraikan suaminya dengan alasan, “Saya tidak punya panggilan menjadi orang tua.” Karena panggilan bersifat sekarang, artinya jika sekarang saya sedang menikah, panggilan saya adalah menjadi suami yang mengasihi istri dengan pengorbanan (Efesus 5:25) atau istri yang tunduk kepada suami (Efesus 5:22). Jika sekarang saya sudah menikah dan memiliki anak, panggilan saya adalah melayani anak dengan menjadi orang tua yang mendidik anak di dalam Tuhan (Efesus 6:4). Kemudian, panggilan bukan hanya bersifat “sekarang”, tetapi juga bersifat “di sini”. Artinya, di mana pun kita ditempatkan, di sanalah panggilan kita. Singkatnya, panggilan adalah peran pelayanan kita. Di dalam keluarga, kita berperan melayani sebagai suami, istri, anak, kakak, dan/atau adik. Di lingkungan rumah kita, kita berperan melayani sebagai tetangga. Di gereja, kita berperan melayani sebagai sesama anggota tubuh Kristus, jemaat, diaken, penatua, dan sebagainya. Di sekolah, kita berperan melayani sebagai murid. Di tempat kerja, kita berperan melayani sebagai pekerja, bawahan, atau atasan. Di dalam negara, kita berperan melayani sebagai warga negara. Di dalam dunia ini, kita berperan melayani sebagai sesama manusia dan sebagai saksi Kristus. Di mana pun kita ditempatkan, kita memiliki peran pelayanan tersendiri. Setiap orang memiliki berbagai peran (roles) dalam hidup dan setiap peran memiliki tanggung jawab (responsibilities) pelayanan terkait. Panggilan kita di dalam hidup ini adalah untuk bertanggung jawab atas setiap peran yang Allah berikan kepada kita (1Korintus. 7:17). Bagaimana kita mengetahui tanggung jawab dari suatu peran? Kita dapat membaca Alkitab. Misalnya, tanggung jawab sebagai tuan dan hamba (Kolose 4:1), sebagai orang Kristen (1Tesalonika. 4:3-7), sebagai gereja (Roma. 12:1-15:13), dan sebagainya.
Patut diperhatikan bahwa panggilan dalam hidup kita bersifat dinamis. Artinya, panggilan dapat berubah seiring waktu. Peran kita dapat berkurang atau bertambah seiring waktu. Ketika orang tua kita meninggal, kita berhenti berperan sebagai anak. Ketika kita menikah, kita menambah peran sebagai suami atau istri.
Selain itu, kita perlu memprioritaskan (bukan meniadakan) satu panggilan di atas panggilan lain. Sebab manusia adalah makhluk waktu. Waktu membatasi kita dalam menjalankan semua panggilan kita. Setiap orang hanya memiliki 24 jam dalam satu hari dan 168 jam dalam satu minggu. Jadi kita perlu memprioritaskan panggilan kita. Bagaimanakah caranya? Tidak ada formula yang baku! Sebagai orang Kristen, kita perlu hidup dengan iman dan pimpinan Roh Kudus dan firman-Nya (Galatia. 5:25). Kita perlu hidup fokus menjalankan tanggung jawab dari masing-masing peran kita. Jangan sampai kita menjalankan yang satu dan mengabaikan yang lain. Oleh sebab itu, penting untuk kita menyusun jadwal kita menurut peran dan tanggung jawab utama kita. Kita dapat melihat dua contoh di dalam Alkitab. Pertama, dalam Kisah Para Rasul 6:1-4, kedua belas rasul menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan diakonia janda-janda, tetapi mereka memilih untuk berfokus kepada pelayanan firman dan doa. Sebab kedua hal ini adalah tanggung jawab utama mereka sebagai rasul, sedangkan hal diakonia adalah tanggung jawab utama para diaken, dan karena itu dapat diserahkan kepada mereka. Tentu bukan berarti para rasul sama sekali mengabaikan pelayanan belas kasih. Namun di sini kita berbicara mengenai fokus dan tanggung jawab utama dari jabatan rasul. Kedua, dalam Ayub 2:11-13, tiga teman Ayub diberi kepekaan untuk datang dari tempatnya masing-masing untuk menghibur Ayub. Mereka melihat penderitaan Ayub yang begitu berat sebagai momen yang tak dapat dilewatkan. Oleh sebab itu, mereka meninggalkan keluarga, rumah, dan pekerjaan mereka untuk menemui Ayub dan berdiam diri menemaninya dalam kesakitan. Kisah ini menunjukkan bahwa apa yang “penting” dapat berubah seiring waktu. Oleh karena itu, kita perlu meminta kepekaan dan kebijaksanaan dari Roh Kudus dalam menjalankan berbagai peran kita.
Kedua, kita perlu menjalankan panggilan melayani sesama kita dengan talenta yang diberikan Tuhan kepada kita. Talenta yang dimaksud di sini adalah talenta yang dimaksud di Matius 25:14-30. Talenta dalam perikop tersebut tidak merujuk kepada bakat alami saja, tetapi kepada apa pun yang Tuhan berikan kepada kita: bakat alami, karunia Roh, jabatan, sarana, waktu, kemampuan, kekuatan, dan kesempatan.[2] Tuhanlah yang empunya talenta. Jika kita terpanggil untuk menjalankan peran tertentu yang asing bagi kita, kita dapat memohon talenta dari Bapa kita di sorga (Lukas 11:9; bdk. Keluaran 4:11).
Patut diperhatikan bahwa panggilan dalam hidup kita bersifat dinamis. Artinya, panggilan dapat berubah seiring waktu. Peran kita dapat berkurang atau bertambah seiring waktu.
Setiap kebutuhan di gereja adalah talenta yang dipercayakan kepada kita. Jika kita mendapati seorang saudara seiman yang bergumul dengan keinginan bunuh diri, mari kita melayani dia. Memang orang seperti ini butuh konseling dengan konselor Kristen yang profesional. Namun, pertemuan dengan konselor paling lama hanya dua jam seminggu. Di luar waktu tersebut, siapa yang seharusnya menemani orang tersebut? Saudara seiman di gereja. Kita, orang awam, memang tidak memiliki keahlian konseling secara profesional. Namun kita juga diberikan tanggung jawab untuk menasihati satu sama lain (Ibrani 3:13). Tentu, kita tidak boleh menasihati sembarangan dan perlu belajar menasihati supaya kita tidak menjadi penghibur sialan seperti teman-teman Ayub.
Terakhir, kita menjalankan panggilan kita bukan hanya untuk keuntungan sesama kita, tetapi kita perlu melakukannya untuk kemuliaan Tuhan sendiri (1Korintus 10:31). Tuhan dimuliakan ketika kita melakukan apa yang menjadi perintah-perintah-Nya (Mikha 6:8). Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kita untuk berbuat belas kasih kepada satu sama lain karena Dia memperhitungkan perbuatan belas kasih kepada murid-Nya sebagai perbuatan belas kasih kepada diri-Nya sendiri (Matius 25:31-46).
Marilah kita hidup tidak mengikuti gagasan produktivitas menurut dunia, tetapi menurut Allah. Janganlah kita hidup dipenuhi dengan berbagai kesibukan yang sia-sia, hidup sibuk untuk diri, hidup berfokus pada diri, hidup mengaktualisasikan potensi diri. Sebaliknya, marilah kita menjadi pelayan sesama yang memberikan berkat bagi sesama kita dan menyenangkan Allah melalui karya tangan kita.
Sebagai penutup, mari kita mengingat hidup Tuhan kita Yesus Kristus. Ia datang ke bumi untuk hidup selama 33,5 tahun saja. Hidup-Nya begitu singkat, tetapi hidup-Nya begitu produktif. Sebab hidup-Nya adalah hidup yang seturut dengan kehendak Bapa-Nya (Yohanes 10:37-38). Ia melayani orang lain dengan memberikan diri-Nya sendiri sebagai tebusan bagi orang-orang berdosa (Matius 20:28) dan dengan demikian memuliakan Bapa-Nya di sorga (Yohanes 13:31-32). Ia datang untuk memberikan kita pengampunan dosa dan hidup yang baru, yakni hidup yang tidak lagi melayani diri sendiri, tetapi melayani orang lain. Oleh sebab itu, marilah kita datang kepada Yesus Kristus untuk menerima hidup yang baru tersebut, hidup yang sungguh-sungguh produktif. Amin.
✍️ ๐๐๐๐
Melayani Tuhan tidak selalu harus terlihat mewah, namun bisa juga terlihat sangat biasa. Murid-murid Yesus Kristus adalah orang-orang biasa, ibu-ibu biasa, dan ayah-ayah biasa, dengan pekerjaan biasa. Kehidupan mereka dapat memiliki ritme kehidupan yang biasa, namun mereka berkobar dengan semangat akan Tuhan. Terlebih lagi, zaman sekuler kita meremehkan perempuan yang menjadi ibu rumah tangga dan ibu penuh waktu, karena mereka tidak memiliki “pekerjaan nyata” atau karier. Itu adalah kebohongan dari Iblis dan masyarakat kita telah menekan perempuan untuk mengikuti agenda dan ideologi dunia. Perempuan bisa saja mempunyai karier & menjadi pelayan Tuhan , Oleh karena itu Penulis tekankan ; Jangan biarkan dunia menentukan kesuksesan Anda, tetapi temukan kepuasan penuh melayani di dalam Tuhan Yesus Kristus yang sanggup memerdekakan anda dari trauma masa lalu ( citra diri buruk) yang menghambar anda menjadi produktif.
๐ฏ️ Ingin citra diri Pulih ?
๐จ️ Hubungi Kami Konseling Yang Tuhan Percayakan sesuai HikmatNya
D♥I♥ I♥L♥H♥A♥M♥I♥
๐️ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐
๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ช ๐๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐๐บ๐ข ; ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ข ๐๐ถ๐ณ๐บ๐ข๐ฏ๐ช ๐๐ท๐ข๐ญ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฐ๐ณ๐ข, ๐๐ข๐ณ๐ซ๐ข๐ฏ๐ข ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฏ.
๐จ️ ๐บ๐จ๐ผ๐ซ๐จ๐น๐จ ๐ซ๐ฐ ๐ฉ๐ฌ๐น๐ฒ๐จ๐ป๐ฐ ?
๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ช ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฏ๐ช, ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต, ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ต๐ข ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ถ๐ด, ๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฌ๐น๐ฌ๐ฑ๐จ ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ ๐บ๐ท๐ฐ๐น๐ฐ๐ป ; ๐ฉ๐๐๐๐, ๐ฐ๐๐, ๐บ๐๐๐
๐๐๐, ๐บ๐๐๐
๐๐๐ ;
---> ๐๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ด๐ง๐ฆ๐ณ ๐๐ฆ๐ธ๐ข๐ต ;
(1) ๐๐๐๐ ๐๐๐ 1392 3149 576
๐จ/๐ต : ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ ๐บ๐ท๐ฐ๐น๐ฐ๐ป
(2) ๐๐๐๐ ๐๐๐ 5790-4086-42
๐จ/๐ต : ๐ฌ๐บ๐น๐ถ๐ต ๐ท๐จ๐ต๐ซ๐จ๐ท๐ถ๐ป๐จ๐ต. ๐ท ๐บ๐ป๐ฏ
✍️ ๐ก๐ข๐ง๐
๐ฑ๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐๐, ๐ฐ๐๐, ๐บ๐๐๐
๐๐๐, ๐บ๐๐๐
๐๐๐ ;
๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ด๐ง๐ฆ๐ณ ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ณ ๐๐ข๐ฏ๐ฌ, ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฏ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ณ ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ , ๐ฌ๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฌ, ๐๐ถ๐ซ๐ถ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ณ๐ข๐ฏ๐ด๐ง๐ฆ๐ณ & ๐๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐๐ข๐ฏ๐ฌ ๐๐๐ ๐๐ข๐ต๐ถ ๐๐ช๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช.
๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐
๐ฌ๐บ๐น๐ถ๐ต ๐ด๐ฐ๐ต๐ฐ๐บ๐ป๐น๐ ๐ช๐จ๐น๐ฌ ๐ณ๐ถ๐บ๐ป ๐บ๐ถ๐ผ๐ณ๐บ
(๐ผ๐ด๐ป๐ฐ๐๐ฐ๐ฝ๐ธ ๐ธ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ถ๐๐๐๐๐
๐ ๐พ๐๐๐ ๐ข๐๐ก๐๐ ๐ ๐พ๐๐๐ข๐๐๐๐ & ๐ฝ๐๐๐โ
๐ ๐ท๐๐ ๐
๐โ๐๐ ๐๐ ๐ฝ๐๐๐๐
๐ ๐ท๐๐ ๐พ๐๐ ๐๐๐๐ขโ๐๐
๐ ๐ท๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐
๐ ๐พ๐ข๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก
๐ ๐ผ๐๐๐๐โ ๐๐๐๐ ๐ป๐๐ข๐ ๐/๐๐๐๐๐๐
๐ ๐พ๐๐๐ข๐๐๐๐, ๐พ๐๐๐๐ก๐๐๐, ๐๐๐๐โ๐๐๐ข๐๐๐
๐ ๐๐๐๐๐ฆ๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐ ๐ฝ๐๐๐๐ง๐โ (24 ๐๐๐ )
๐ ๐พ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐โ
๐ ๐ผ๐๐๐๐โ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐โ
๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐
โ๐ก๐ก๐๐ ://๐๐๐๐๐๐-๐๐๐๐โ-โ๐๐๐ฆ-๐ ๐๐๐๐๐ก-๐๐ ๐๐๐-๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐ฆ.๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐ .๐ ๐๐ก๐/
๐ ๐๐ญ๐ข๐ต ๐๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฆ๐ณ๐ซ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐๐ฎ๐ข๐ต๐๐บ๐ข ๐๐จ๐ข๐ณ ๐๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ,
๐ ๐๐ช๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ต๐ณ๐ข ๐๐ช๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฑ ๐๐ธ๐ข๐ญ ๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ฆ๐ณ๐ต๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ช๐ข๐ฏ,
๐ ๐๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ-๐๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ช ๐๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ต ๐๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฏ,
๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐
๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐ถ๐ฑ๐ข๐ณ๐ฆ๐ท, ๐๐ถ๐ญ๐ฐ๐ฎ๐ข๐ด ๐๐ข๐ณ๐ข๐ต 12, ๐๐ฐ 23, ๐๐ 04, ๐๐ 09, ๐๐ข๐บ๐ถ ๐๐ถ๐ต๐ช๐ฉ, ๐๐ถ๐ญ๐ฐ๐จ๐ข๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ, ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ณ๐ต๐ข ๐๐ช๐ฎ๐ถ๐ณ
๐๐๐
๐ ๐๐๐ & ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
( 24 ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ )
๐๐ 0818 77 9370 & 0851 0060 9654
๐๐ฉ๐ถ๐ด๐ถ๐ด ๐๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ ๐๐ 0852 1736 1142
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ :
๐
๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐ผ๐๐ ๐พ๐๐๐๐๐; ๐๐๐ข๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐, ๐พ๐๐๐๐๐๐ก ; ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐ ๐พ๐๐ก๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ฆ๐, ๐๐๐๐ก ๐๐๐๐ข๐ ๐๐ ๐๐ขโ๐๐ ๐๐๐ ๐ข๐ ๐พ๐๐๐ ๐ก๐ข๐
๐จ️ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ❓
๐ซ๐ท๐ท ๐ช๐ด๐ช ๐ซ๐ฒ๐ฐ ๐ฒ๐จ๐ฉ๐ฐ๐ซ ๐ฏ๐ผ๐ฒ๐ผ๐ด
๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ก๐ข ๐๐๐ข๐๐๐๐ ; ๐๐๐๐๐๐ก๐ ๐ธ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ป๐ข๐๐ข๐, ๐๐๐๐๐๐๐ ๐โ๐๐๐๐๐๐ฆ, ๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐
๐ธ๐๐
๐๐ & ๐๐ด๐
๐๐๐ธ๐
๐ต๐ผ๐
๐ ๐ป๐๐พ๐๐
https://maps.app.goo.gl/LXp1ukc1m8BUd8Bm8
๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ☝️
Komentar
Posting Komentar