Langsung ke konten utama

SYARAT MENGIRING YESUS DIPERLUKAN PENYANGKALAN DIRI

SYARAT MENGIRING YESUS DIPERLUKAN PENYANGKALAN DIRI 

(BACAAN Lukas 14:26 (TB) 
 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Lihatlah bagaimana Kristus dalam pengajaran-Nya menyesuaikan diri dengan orang-orang yang sedang diajak-Nya berbicara, Ia memberikan makanan kepada setiap orang sesuai bagiannya. Kepada orang-orang Farisi Ia mengajarkan kerendahan hati dan kasih, sementara dalam perikop ini Dia mengarahkan perkataan-Nya kepada orang banyak yang sedang berduyun-duyun mengikuti-Nya, tampaknya mereka sangat bersemangat. Kepada mereka ini Ia menasihati agar mereka memahami syarat-syarat untuk menjadi murid-Nya sebelum mereka membuat suatu pengakuan, dan agar mereka mempertimbangkan apa yang mereka lakukan itu. Lihatlah di sini,

I. Bagaimana bersemangatnya orang banyak dalam mengikuti Kristus (ay. 25): Banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus. Banyak yang mengikuti-Nya karena kasih, dan lebih banyak lagi yang hanya sekadar mengikuti-Nya, sebab bila ada banyak, pasti ada lebih banyak lagi. Di sini ada campuran macam-macam orang, seperti kumpulan macam-macam orang yang mengikuti Israel keluar dari Mesir. Demikian pula yang kita harus sadar ada dalam jemaat, dan karena itu penting bagi para hamba Tuhan untuk memisahkan dengan hati-hati apa yang berharga dan apa yang hina.

II. Betapa Ia meminta mereka untuk penuh pertimbangan di dalam semangat mereka itu. Orang yang ingin mengikuti Kristus harus mempertimbangkan apa yang terburuk dan bersiap-siap menghadapinya.

. Ia memberi tahu mereka hal terburuk apa yang harus mereka hadapi, hampir sama dengan apa yang telah dilalui-Nya sebelum mereka dan untuk mereka. Ia tahu bahwa mereka mau menjadi murid-murid-Nya supaya bisa memenuhi syarat untuk memperoleh kedudukan dalam kerajaan-Nya. Mereka berharap bahwa Ia akan berkata, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ingin menjadi murid-Ku, ia akan mendapatkan kekayaan dan kehormatan yang berlimpah. Biarlah Aku sendiri yang akan menjadikannya orang hebat." Namun Ia justru memberi tahu mereka hal yang sebaliknya.

(1) Mereka harus rela melepaskan apa yang sangat mereka kasihi, dan karena itu mereka harus datang kepada-Nya sesudah benar-benar terlepas dari segala kenyamanan dunia, dan mati terhadapnya. Mereka harus benar-benar merasa gembira untuk memilih berpisah dari semuanya itu daripada harus melepaskan keinginan mereka untuk mengikuti Kristus (ay. 26). Tidak ada orang yang bisa menjadi murid Kristus jika ia tidak membenci bapanya, ibunya, dan bahkan nyawanya sendiri. Ia tidaklah tulus, dan juga tidak akan setia dan tekun, jika ia tidak mengasihi Kristus lebih daripada apa pun di dunia ini. Ia harus rela melepaskan apa yang dapat dan harus ia tinggalkan, baik sebagai suatu pengorbanan, yang dengannya Kristus akan dipermuliakan (seperti para martir yang tidak menyayangkan nyawa mereka sendiri), ataupun sebagai suatu godaan, yang bila dilepaskan, kita semakin lebih mampu dalam melayani Kristus. Demikianlah Abraham meninggalkan bangsanya sendiri, dan Musa meninggalkan istana Firaun. Di sini tidak disebutkan tentang rumah dan tanah. Filsafat mengajar kita untuk memandang hina keduanya, tetapi Kekristenan berbuat lebih mulia daripada itu.

[1] Setiap orang yang baik pasti mengasihi sanak saudaranya, akan tetapi, jika ia mau menjadi murid Kristus, ia harus membenci mereka dalam pengertian tertentu. Ia tidak boleh mengasihi mereka lebih daripada Kristus, seperti Lea yang dikatakan dibenci sedangkan Rahel lebih dikasihi. Ini tidak berarti bahwa kita harus membenci orangnya, melainkan bahwa rasa nyaman dan kepuasan kita terhadap mereka harus dihilangkan dan tertelan habis oleh kasih kita kepada Kristus, seperti orang Lewi yang berkata tentang ayahnya, aku tidak mengindahkannya (Ul. 33:9). Apabila kewajiban kita terhadap orangtua jelas-jelas bersaing dengan kewajiban kita terhadap Kristus, maka kita harus lebih mengutamakan Kristus. Jika kita harus memilih antara menyangkal Kristus atau diusir dari keluarga dan kaum kerabat (seperti yang banyak dialami oleh jemaat Kristen mula-mula), maka kita harus lebih memilih kehilangan hubungan dengan mereka daripada kehilangan kebaikan Kristus.

[2] Setiap orang pasti mengasihi nyawanya sendiri, belum pernah ada orang yang membencinya. Namun, kita tidak dapat menjadi murid-murid Kristus jika kita tidak mengasihi-Nya sebegitu rupa lebih daripada nyawa kita sendiri, sampai bersedia hidup sengsara di bawah kekejaman, bahkan sampai nyawa diambil melalui kematian yang keji, daripada harus menghina Kristus atau meninggalkan kebenaran-Nya dan jalan-jalan-Nya. Pengalaman kehidupan rohani yang menyenangkan dan iman pengharapan akan kehidupan kekal akan membuat perkataan yang keras ini menjadi ringan. Apabila penderitaan dan penganiayaan datang karena firman, maka ujian yang utama adalah, siapakah yang lebih kita kasihi, Kristus atau sanak saudara dan nyawa kita. Namun demikian, bahkan dalam masa-masa tenang pun ujian ini terkadang datang juga. Orang yang menolak melayani Kristus dan tidak mau memanfaatkan kesempatan untuk mengenal-Nya, serta malu untuk mengakui-Nya karena takut menyinggung perasaan saudara atau teman, atau kehilangan pelanggan, menunjukkan tanda-tanda bahwa ia lebih mengasihi mereka daripada Kristus.

(2) Bahwa mereka harus rela menanggung beban yang sangat berat (ay. 27): Barangsiapa tidak memikul salibnya, tidak mau menjalaninya seperti orang yang dihukum salib, yang menerima hukuman itu dan menantikan pelaksanaannya, dan mengikut Aku ke mana pun Aku membawanya, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Maksudnya, menurut Dr. Hammond, ia bukanlah bagian-Ku, dan pelayanan-Ku, yang pasti akan mendatangkan penganiayaan, bukanlah bagiannya. Meskipun tidak semua murid Kristus disalibkan, mereka semua memikul salib mereka, seolah-olah sedang menunggu disalib. Mereka harus tahan dikata-katai orang dan dicerca secara keji dan menjijikkan, sebab tidak ada nama lain yang lebih tercela daripada Furcifer -- penggotong tiang gantungan. Ia harus memikul salibnya dan mengikut Kristus. Maksudnya, ia harus memikul salib itu ketika sedang melaksanakan kewajibannya, kapan pun ia menjumpainya. Ia harus memikulnya apabila Kristus memanggilnya untuk salib itu, dan ketika memikulnya, matanya harus tertuju pada Kristus dan meminta dorongan dari-Nya, serta hidup dalam pengharapan akan mendapat imbalan bersama-Nya.

. Ia meminta mereka untuk menghitung-hitung hal ini, lalu menimbang-nimbang. Karena Ia sudah begitu adil terhadap kita dengan memberitahukan secara terus terang kesulitan-kesulitan apa yang akan kita hadapi dalam mengikuti-Nya, maka marilah kita bersikap adil terhadap diri kita sendiri dengan mempertimbangkan masalah ini masak-masak sebelum kita memilih hidup beriman. Yosua menyuruh orang Israel mempertimbangkan apa yang mereka lakukan ketika mereka berjanji untuk melayani Tuhan (Yos. 24:19). Lebih baik tidak pernah memulai sama sekali daripada nanti tidak sanggup melanjutkan, dan oleh karena itu, sebelum kita memulai kita harus benar-benar mengetahui apa yang akan dituntut dari kita untuk selanjutnya. Dalam hal ini kita bertindak dengan akal sehat, dan memang demikianlah seharusnya manusia bertindak, seperti juga dalam hal-hal lainnya. Perkara Kristus yang kuat boleh diuji terlebih dahulu. Iblis hanya memperlihatkan yang terbaik, namun menyembunyikan yang terburuk, karena apa yang terbaik darinya tidak sebanding dengan apa yang terburuk yang ditimbulkannya; tetapi, Kristus akan mengimbanginya secara berkelimpahan. Pertimbangan seperti ini sangatlah penting supaya kita bisa tabah, terutama dalam masa-masa penderitaan. Juruselamat kita di sini menggambarkan pentingnya masalah ini dengan dua perumpamaan. Perumpamaan yang pertama menunjukkan bahwa kita harus memperhitungkan harga yang harus kita bayar dalam hidup beriman, sementara yang kedua menunjukkan bahwa kita harus mempertimbangkan bahaya-bahaya yang akan mengancam kita.

(1) Ketika kita memilih hidup beriman, kita seperti orang yang mau mendirikan sebuah menara, dan karena itu kita harus memperhitungkan anggaran biayanya (ay. 28-30): Siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara, atau rumah megah untuk dirinya sendiri, tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya? Di samping itu, ia pun harus menyediakan anggaran yang jauh lebih banyak daripada yang dikatakan para pekerjanya. Biarlah ia membandingkan terlebih dulu biaya yang diperlukannya dengan uang yang ada di dompetnya, sebab kalau tidak, ia akan ditertawakan, karena ia mulai mendirikan, tetapi tidak sanggup menyelesaikannya.


Perhatikanlah:

[1] Setiap orang yang menjalani kehidupan beriman sedang mendirikan sebuah menara, bukan seperti menara Babel yang menentang Sorga dan karena itu tidak terselesaikan, melainkan menara yang taat kepada Sorga dan karena itu akan menjadi batu utama. 

Mulailah dari bawah, dan letakkanlah dasarnya di tempat yang dalam. Letakkanlah dasarnya di atas batu karang, lalu pastikan semuanya baik, dan dirikanlah setinggi langit.

[2] Orang-orang yang berniat mendirikan menara ini harus duduk dahulu membuat anggaran biayanya. 

Biarlah mereka tahu bahwa mereka harus bayar harga dengan menanggalkan dosa-dosa mereka, bahkan nafsu-nafsu yang paling mereka cintai. 

Mereka harus bayar harga dengan hidup menyangkal diri dan waspada, dan terus menjalankan kewajiban-kewajiban suci. 

Mereka juga mungkin harus mempertaruhkan nama baik mereka di hadapan semua orang, atau kehilangan harta milik dan kebebasan mereka, dan segala sesuatu yang mereka sayangi di dunia ini, bahkan nyawa mereka sendiri. 

Dan bila kita harus membayar semuanya ini, bagaimana bandingannya dengan apa yang dibayar Kristus untuk menebus segala keuntungan bagi iman kita, yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma tanpa bayaran?

[3] Banyak orang yang mulai mendirikan menara ini kemudian tidak melanjutkannya atau bertekun di dalamnya, dan itu merupakan kebodohan mereka sendiri. Mereka tidak mempunyai keberanian dan keteguhan hati, tidak memiliki prinsip-prinsip hidup yang berurat akar, sehingga tidak dapat mewujudkan sesuatu apa pun. 

Memang benar bahwa kita tidak mempunyai suatu apa pun dalam diri kita yang cukup untuk menyelesaikan menara ini, tetapi Kristus telah berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu", dan kasih karunia itu tidak akan kurang dalam diri kita, jika kita berusaha mencarinya dan memanfaatkannya.

[4] Tidak ada yang lebih memalukan daripada orang yang sudah memulai dengan baik dalam hidup beriman, namun kemudian putus di tengah jalan. 

Semua orang pasti akan mengejek dia sebagai orang yang kehilangan segala jerih payahnya karena tidak tekun. 

Kita kehilangan apa yang telah kita kerjakan (2Yoh. 1:8), dan segala sesuatu yang kita alami sia-sia belaka (Gal. 3:4).

(2) Ketika kita memilih untuk menjadi murid-murid Kristus, kita seperti orang yang hendak pergi berperang, dan karena itu kita harus mempertimbangkan risikonya, serta kesulitan-kesulitan apa yang akan dihadapi (ay. 31-32). 

Raja yang ingin menyatakan perang melawan raja lain pasti mempertimbangkan terlebih dulu apakah ia mempunyai cukup kekuatan yang akan membawa kebaikan kepada pihaknya, dan jika tidak, maka ia akan membatalkan rencananya untuk berperang.


Perhatikanlah:

[1] Orang Kristen di dunia ini diumpamakan sedang dalam keadaan perang. Bukankah kehidupan kristiani itu merupakan peperangan? Ada banyak hal yang merintangi jalan kita, yang harus kita tebas dengan sebilah pedang. Bahkan, kita harus berperang setiap kali kita melangkah, sebab musuh-musuh rohani kita terus melawan tanpa kenal lelah.

[2] Kita harus mempertimbangkan apakah nanti kita sanggup bertahan dalam kesusahan, yang harus dihadapi oleh setiap serdadu Yesus Kristus yang baik, sebelum kita bergabung dan maju di bawah panji-panji-Nya; 

Apakah kita mampu menghadapi kekuatan neraka dan dunia, yang menyerang kita dengan kekuatan dua puluh ribu orang❓

[3] Melihat semua itu, lebih baik kita benar-benar memikirkan sekarang apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap dunia, daripada kita mengaku meninggalkannya, 

TETAPI kemudian, ketika pencobaan dan penganiayaan datang karena firman, kita berbalik lagi kepadanya. 

Orang muda itu, yang tidak rela meninggalkan harta kekayaanya demi Kristus, memang lebih baik pergi dari hadapan-Nya dengan sedih daripada tinggal bersama-Nya dengan menyesal.


Perumpamaan ini juga bisa dilihat dengan cara lain, yaitu sebagai pedoman yang mengajar kita untuk memulai hidup beriman dengan segera, dan bukan dengan hati-hati, dan mungkin mempunyai maksud yang sama dengan yang tertulis dalam Matius 5:25, segeralah berdamai dengan lawanmu. Perhatikanlah,


PERTAMA, orang yang terus-menerus berbuat dosa berarti mengadakan peperangan melawan Allah, yang sungguh tidak pada tempatnya dan paling tidak dapat dibenarkan. Mereka memberontak melawan Penguasa mereka yang sah, yang pemerintahan-Nya sungguh teramat adil dan benar.


Kedua, Pendosa yang paling sombong dan berani sekalipun bukanlah tandingan Allah. Dalam hal ini, kekuatan dari kedua pihak sangatlah tidak seimbang, lebih daripada yang digambarkan di sini, yaitu antara sepuluh ribu orang dan dua puluh ribu orang. 

Maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan❓

Apakah kita lebih kuat dari pada Dia❓

Tentu saja tidak, siapakah yang tahu kekuatan murka-Nya❓

Karena itu, kalau menimbang-nimbang hal ini, lebih untung kalau kita berdamai dengan Dia❓

Kita tidak perlu menanyakan syarat-syarat perdamaiannya❗

Semua syarat itu sudah ditawarkan kepada kita, tanpa pengecualian, dan sangat menguntungkan kita❗

Marilah kita pelajari syarat-syarat-Nya itu baik-baik dan buatlah perdamaian dengan-Nya❗

Lakukanlah ini selagi masih ada waktu, selama musuh masih jauh, sebab akan sangat berbahaya jika ditunda-tunda, dan akan jauh lebih menyulitkan bila dilakukan setelah masa Akhir itu.

Namun demikian, penerapan dari perumpamaan ini di sini (ay. 33) adalah mengenai pertimbangan yang harus kita buat dalam kehidupan iman kita. 

Salomo berkata, "Berperanglah dengan siasat" (Ams. 20:18). Orang yang menarik pedang pasti membuang sarungnya, demikian pula dengan siasat yang baik dalam menjalani kehidupan beriman. 

Kita tahu bahwa jika kita tidak membuang segala yang kita miliki, maka kita tidak akan dapat menjadi murid-murid Kristus. 

☝️Maksudnya, kita harus mau dan bersedia untuk meninggalkan semuanya itu, sebab semua orang yang ingin hidup saleh dalam Kristus Yesus harus menderita penganiayaan, dan harus terus hidup saleh.

IA menyuruh mereka waspada terhadap kemurtadan dan kemerosotan dalam semangat serta tingkah laku kristiani yang sejati, sebab ini akan membuat mereka tidak berguna sama sekali (ay. 34-35).

(1) Orang-orang Kristen yang baik, terutama hamba-hamba Tuhan yang baik (Mat. 5:13), adalah garam dunia, dan garam ini memang baik serta sangat berguna. 

Dengan pengajaran dan teladan mereka, orang-orang Kristen memberikan penyedap rasa kepada semua orang yang bergaul dengan mereka, mencegah mereka dari kebusukan, serta menyegarkan dan menyedapkan mereka.

(2) Orang-orang Kristen yang merosot akhlaknya, yang lebih memilih meninggalkan jalan kesalehan daripada harus melepaskan apa yang mereka miliki di dunia ini, dan yang tentu saja kemudian hidup menurut nafsu duniawi, dan sama sekali tidak mempunyai roh kristiani lagi, adalah seperti garam yang menjadi tawar, yang oleh para ahli kimia disebut caput mortuum, garam yang kadar keasinannya sudah terkikis habis. 

Garam seperti ini merupakan barang yang paling tidak berguna dan paling tidak berharga di dunia. Tidak ada lagi nilai di dalamnya, tidak ada gunanya lagi untuk disimpan.

[1] Garam itu tidak dapat dipulihkan lagi: Dengan apakah ia diasinkan? Pasti tidak bisa. Ini menunjukkan bahwa sangatlah sulit, bahkan hampir mustahil, untuk mempertobatkan kembali orang yang sudah murtad (Ibr. 6:4-6). 

Jika Kekristenan tidak dapat menyembuhkan manusia dari nafsu duniawinya,

 Jika obat itu sudah dicoba namun sia-sia, maka mereka sudah tidak bisa disembuhkan lagi.

[2] Garam itu tidak ada gunanya lagi, tidak cocok baik untuk tanah maupun untuk pupuk, tidak seperti kotoran hewan, dan juga tidak akan ada manfaatnya jika dibuang di antara kotoran sampah sampai membusuk, karena tidak ada lagi yang bisa didapat darinya. 

Orang yang mengaku beragama namun pikiran dan tingkah lakunya rusak adalah binatang yang sungguh paling tawar. 

Jika ia membicarakan hal-hal tentang Allah, yang sedikit banyak diketahuinya, ia melakukannya dengan begitu canggung sehingga tidak ada orang yang dapat dibangun olehnya. Ini seperti amsal di mulut orang bebal.

[3] Garam itu dicampakkan: orang membuangnya saja, seperti barang yang sudah tidak diperlukan lagi. Orang-orang munafik yang memalukan ini harus dikeluarkan dari antara jemaat, bukan hanya karena mereka telah menyia-nyiakan kehormatan dan keistimewaan yang telah mereka terima sebagai anggota jemaat, melainkan juga karena ada bahaya orang lain akan tertular oleh mereka. 


Juruselamat kita mengakhiri perkataan-Nya di sini dengan suatu panggilan kepada semua orang untuk memperhatikan masalah ini baik-baik, dan untuk mencamkan apa yang telah diperingatkan-Nya: 

"Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar. Nah, dengan cara apa lagi indra pendengaran kita ini dapat digunakan dengan lebih baik selain untuk mendengarkan firman Kristus, 

Terutama untuk mendengarkan peringatan-peringatan-Nya kepada kita akan bahaya yang dapat membawa kita kepada kemurtadan, dan akan bahaya yang dapat menyusahkan kita sendiri karena Kemurtadan❓


Komentar

Postingan populer dari blog ini

♥ ๐Œ๐„๐๐‰๐€๐ƒ๐ˆ ๐Œ๐€๐๐”๐’๐ˆ๐€ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ๐Œ๐„๐๐”๐‘๐”๐“ ๐๐€๐๐ƒ๐€๐๐†๐€๐ ๐€๐‹๐Š๐ˆ๐“๐€๐ ♥

ส€แด‡ษดแดœษดษขแด€ษด ส€แด€ส™แดœ, 21 า“แด‡ส™ส€แดœแด€ส€ษช 2024 | แด€สŸษชษด_แด‡sส€แดษด | 19 แดแด‡ษดษชแด› ส€แด‡แด€แด… ๐Ÿ—ฏ️ Bagaimanakah Caranya Untuk Memiliki Kehidupan Kristen_Yang Produktif ? ๐‘ท๐‘น๐‘ถ๐‘ณ๐‘ถ๐‘ฎ Renungan ini terinspirasi saat penulis sedang komunikasi tentang seorang pelayan Tuhan ( Gembala Umatv) yang seharusnya menjadi teladan bagi manusia tapi malah menjadi biang kerok bagi sesama ! ๐Ÿ—ฏ️ Kenapa Biang Kerok ? ๐Ÿ—จ️ Karena Menerut Penulis Pribadi Manusia yang tidak produktif perusak dimata Tuhan & keluarga serta sesama . Baiklah tidak usah panjang lebar kita akan bahas apa itu produktif & kenapa orang kristen harus produktif, silakan dengar sampai habis Produktivitas adalah topik yang marak dibicarakan hari ini. Begitu banyak artikel dan buku ditulis untuk menolong kita hidup produktif.[1] Produktivitas biasanya dikaitkan dengan kuantitas yang dihasilkan dalam satu kurun waktu tertentu. Makin banyak yang dihasilkan, makin produktif seseorang. Sebagian orang menyamakan hidup yang sibuk dengan bentuk hidup yang pro...

♥ ๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐Š๐‘๐ˆ๐’๐“๐„๐ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ♥

✦๐‘๐„๐๐”๐๐†๐€๐ ๐‰๐ฎ๐ฆ๐š๐ญ, 30 ๐€๐ ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐ฎ๐ฌ 2024.✦ ♥ ๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐Š๐‘๐ˆ๐’๐“๐„๐ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ♥ ๐ƒ๐€๐…๐“๐€๐‘ ๐ˆ๐’๐ˆ : 1. Bagaimana Menjadi Orang Kristen Yang Produktif ? 2. Mengapa Kita Perlu Bekerja Untuk Mencari Penghidupan ? 3. Mengapa Kita Perlu Berjuang Untuk Bertahan Hidup ? 4. Apakah Perbuatan Kita Penting Bagi Tuhan ? ๐๐„๐Œ๐๐€๐‡๐€๐’๐€๐ : Dengan produktif, rasa malas dalam jiwa akan tersingkir. Produktif merupakan aktivitas yang bermanfaat untuk mengembangkan diri. Menjadi produktif adalah pilihan yang terbaik untuk  dapat menjadi lebih baik. Sebab, waktu yang kamu miliki tidak terbuang sia-sia. Selain itu, orang yang produktif cenderung memiliki target dan prioritas yang jelas untuk masa depannya. ๐Ÿ—ฏ️ ๐๐„๐‘๐“๐€๐๐˜๐€๐€๐  1. BAGAIMANA MENJADI ORANG KRISTEN YANG PRODUKTIF ?  Firman Tuhan memerintahkan dalam 2 TESALONIKA 3:10-12 (TSI3.2) 10 karena waktu kita masih bersama, kami sudah mengajarkan, “Orang yang tidak mau bekerja tidak b...

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎ http://alinesron.blogspot.com/2024/03/kesembuhan-ilahi.html ✦Tersedia Dalam Korban Penebusan YESUS Untuk Semua Orang Yang Percaya✦ FIRMANNYA DALAM ; KELUARAN 15:26 (ILT3)   Lalu berfirmanlah Dia, “Jika engkau mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara YAHWEH, Elohimmu, dan engkau melakukan apa yang benar di mata-Nya, engkau memerhatikan perintah-Nya dan menjaga ketetapan-Nya, Aku tidak akan menimpakan ke atasmu semua tulah yang telah Aku timpakan kepada orang Mesir, karena Akulah YAHWEH, yang menyembuhkan kamu.” DAFTAR ISI A. Pendahuluan B. Dari mana datangnya penyakit? C. Maksud dari kesembuhan ilahi D. Dasar alkitabiah untuk kesembuhan ilahi E. langkah-langkah menerima kesembuhan dari Kristus F. Mengapa ada orang yang tidak menerima kesembuhan ilahi G. Penutup A. Pendahuluan Tentang kesembuhan ilahi ini, ada orang yang beranggapan (dari gereja-gereja tertentu) bahwa kesembuhan ilahi hanya terjadi pada masa Tuhan Yesus masih berada di bumi yait...