WABAH LACUR
Sepertinya kata lacur adalah kata yang sangat buruk.Tapi sayang, kita sering tidak adil manakala mengidentikkan sifat lancur itu hanya kepada perempuan, padahal senjatanya lebih banyak lelaki yang bersifat lacur.
Akan tetapi tidak terpindai secara kognitif dan sosial karena bangsa ini lemah sengaja dilemahkan pemahaman dasariah (filsafati)-nya.
Wahyu 17
17:1 Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: "Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya.
17:2 Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya."
17:3 Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.
17:4 Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya.
17:5 Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: "Babel besar, ibu dari wanita-wanita* pelacur dan dari kekejian bumi."
17:1 Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: "Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya.
17:2 Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya."
17:3 Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.
17:4 Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya.
17:5 Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: "Babel besar, ibu dari wanita-wanita* pelacur dan dari kekejian bumi."
wanita-wanita" jangan semata diartikan jenis kelamin perempuan. Alkitab menggunakan kata "wanita" merujuk kepada kita semua, laki dan perempuan, sebagai calon mempelai wanita Tuhan. Tapi tentu tidak semua calon mempelai akan cukup berharga.
Lacur = meretricious = Tampil diluar menarik dan mengesankan tetapi ternyata nilai sebenarnya tidak berharga, tak bernilai, busuk, korup.
Ini tentu berhubungan dengan kata "Gaudy" yang artinya = cheap, murahan, norak.
Mari kita bedah apa sebenarnya sifat lacur itu dan bagaimana luarbiasa pengaruhnya merusak jiwa seseorang bahkan merusak negeri bahkan dunia.
Itulah sebabnya mengapa pelacur selalu dianggap buruk dimanapun, tapi khususnya di negeri ini, fenomena lacur itu tampaknya sengaja ditutup-tutupi agar tidak terpindai oleh kesadaran masyarakat. Bahkan alih-alih melokalisir wabah itu, justru sepertinya menyebarkannya terdifusi dengan masyarakat yang sehat. Ini adalah peracunan psikologis (psychological-poisoning)! Oleh karena itu, tidak bisa tidak, saya harus menuliskan ini dan mengingatkan secara keras kepada publik.
Seperti kita definisikan diatas, sifat lacur adalah suatu sifat yang MENGHALALKAN SEGALA CARA demi mencapai tujuan. Termasuk menggunakan tipuan, kebohongan, tipu muslihat, kamuflase, maupun pencitraan agar pihak lain terkelabuhi demi kepentignan egoistiknya sendiri. Tidak ada integritas atau setia pada prinsip. Ia rela mengorbankan temannya bahkan keluarganya sendiri bahkan menjual asset negeri. Ia tak segan berkhianat ataupun melakukan fitnah apabila hal itu dianggap bisa menguntungkan pihaknya. Tentu saja, semua itu harus dibungkus dengan kemasan yang manis, indah, sopan dan tampaknya bermoral tinggi, bahkan dengan membawa-bawa nama Tuhan. Bahkan sifat lacur dianjurkan demi membela hegemoni agamanya! Makanya jangan heran bila ada menteri agama tapi korupsi. Pangeran negeri agamis tapi menyelundupkan narkoba. Apa yang dimulut / tampilan tidak sama dengan apa yang ada dalam benak hatinya.
Sifat lacur didasari oleh suatu egoisme yang sangat tinggi. Bahkan dapat dikatakan sebagai egoisme-tanpa-batas. Orang-orang yang buta akan Kasih hanya berpikir bahwa hidup ini hanyalah untuk memaksimalkan dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri. "Peduli amat dengan yang lain!". "Elo elo gue gue!"
Ia baik manakala membutuhkan. Tapi lupa / ingkar manakala sudah tidak butuh. Mengejar-ngejar ketika ada maunya, tapi hilang lenyap rimbanya manakala dibutuhkan. Rayuannya maut tapi hanya sebatas di mulut. Janji membayar tidak membayar. Janji datang tidak datang. Melemparkan kesalahan diri kepada pihak lain. Tidak mau bertanggungjawab secara pribadi maupun sosial. Yang penting profit, keuntungan, materi, kesuksesan, jabatan, popularitas, kenikmatan, kesenangan. Orang lain hanyalah obyek untuk diperalat dan diperas; tapi mulutnya tentu berkata SEBALIKNYA. Ia tak segan-segan mengingkari prinsipnya sendiri. Melanggar janji / komitmennya sendiri.
Sifat lacur ini bukan hanya dimiliki pekerja-sex-komersial (PSK). Tetapi juga banyak fenomena lacur di kursi2 DPR, pemerintahan, organisasi, perusahaan, bahkan dunia pendidikan dan agama. Semakin tinggi nilai-nilai moral yang diteriakkan, biasanya hanya untuk menutupi. Banyak manager yang rela menjual kawannya sendiri agar dapat naik pangkat. Banyak pejabat yang rela menjual asset negeri demi kantong pribadi. Guru menjual soal ujian. Banyak agamawan yang menjual nama Tuhan demi kebesaran ambisi pribadi dan materi. TIDAK PUNYA LAGI RASA MALU ! Lacur sudah menjadi wabah di negeri ini. Oleh karena itu, jangan harap negeri bisa tertib, bersih dan teratur, selama sifat-sifat kotor, kumuh dan jumud itu terus dipelihara.
Ini tentu berhubungan dengan kata "Gaudy" yang artinya = cheap, murahan, norak.
Mari kita bedah apa sebenarnya sifat lacur itu dan bagaimana luarbiasa pengaruhnya merusak jiwa seseorang bahkan merusak negeri bahkan dunia.
Itulah sebabnya mengapa pelacur selalu dianggap buruk dimanapun, tapi khususnya di negeri ini, fenomena lacur itu tampaknya sengaja ditutup-tutupi agar tidak terpindai oleh kesadaran masyarakat. Bahkan alih-alih melokalisir wabah itu, justru sepertinya menyebarkannya terdifusi dengan masyarakat yang sehat. Ini adalah peracunan psikologis (psychological-poisoning)! Oleh karena itu, tidak bisa tidak, saya harus menuliskan ini dan mengingatkan secara keras kepada publik.
Seperti kita definisikan diatas, sifat lacur adalah suatu sifat yang MENGHALALKAN SEGALA CARA demi mencapai tujuan. Termasuk menggunakan tipuan, kebohongan, tipu muslihat, kamuflase, maupun pencitraan agar pihak lain terkelabuhi demi kepentignan egoistiknya sendiri. Tidak ada integritas atau setia pada prinsip. Ia rela mengorbankan temannya bahkan keluarganya sendiri bahkan menjual asset negeri. Ia tak segan berkhianat ataupun melakukan fitnah apabila hal itu dianggap bisa menguntungkan pihaknya. Tentu saja, semua itu harus dibungkus dengan kemasan yang manis, indah, sopan dan tampaknya bermoral tinggi, bahkan dengan membawa-bawa nama Tuhan. Bahkan sifat lacur dianjurkan demi membela hegemoni agamanya! Makanya jangan heran bila ada menteri agama tapi korupsi. Pangeran negeri agamis tapi menyelundupkan narkoba. Apa yang dimulut / tampilan tidak sama dengan apa yang ada dalam benak hatinya.
Sifat lacur didasari oleh suatu egoisme yang sangat tinggi. Bahkan dapat dikatakan sebagai egoisme-tanpa-batas. Orang-orang yang buta akan Kasih hanya berpikir bahwa hidup ini hanyalah untuk memaksimalkan dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri. "Peduli amat dengan yang lain!". "Elo elo gue gue!"
Ia baik manakala membutuhkan. Tapi lupa / ingkar manakala sudah tidak butuh. Mengejar-ngejar ketika ada maunya, tapi hilang lenyap rimbanya manakala dibutuhkan. Rayuannya maut tapi hanya sebatas di mulut. Janji membayar tidak membayar. Janji datang tidak datang. Melemparkan kesalahan diri kepada pihak lain. Tidak mau bertanggungjawab secara pribadi maupun sosial. Yang penting profit, keuntungan, materi, kesuksesan, jabatan, popularitas, kenikmatan, kesenangan. Orang lain hanyalah obyek untuk diperalat dan diperas; tapi mulutnya tentu berkata SEBALIKNYA. Ia tak segan-segan mengingkari prinsipnya sendiri. Melanggar janji / komitmennya sendiri.
Sifat lacur ini bukan hanya dimiliki pekerja-sex-komersial (PSK). Tetapi juga banyak fenomena lacur di kursi2 DPR, pemerintahan, organisasi, perusahaan, bahkan dunia pendidikan dan agama. Semakin tinggi nilai-nilai moral yang diteriakkan, biasanya hanya untuk menutupi. Banyak manager yang rela menjual kawannya sendiri agar dapat naik pangkat. Banyak pejabat yang rela menjual asset negeri demi kantong pribadi. Guru menjual soal ujian. Banyak agamawan yang menjual nama Tuhan demi kebesaran ambisi pribadi dan materi. TIDAK PUNYA LAGI RASA MALU ! Lacur sudah menjadi wabah di negeri ini. Oleh karena itu, jangan harap negeri bisa tertib, bersih dan teratur, selama sifat-sifat kotor, kumuh dan jumud itu terus dipelihara.
Lawan dari kata "lacur" adalah "gentleman", "manusia berbudi" atau berintegritas. Oleh karena itu kita mengenal istilah "gentleman agreement". Artinya kesepakatan diantara dua pihak yang memegang prinsip kebudian. Sedangkan manakala anda membuat perjanjian dengan pelacur (tidak harus wanita), jangan harap anda bisa tidur nyenyak. Hari ini ngomong A besok B. Esuk tempe sore dele. Menjadikan kecemasan dan rasa waswas di masyarakat meningkat. Satu sama lain tidak saling percaya, saling curiga. Kohesi masyarakat terganggu. Hukum kacau balau, tajam ke bawah tumpul ke atas. Banyak kasus skandal besar ditutupi, nenek maling ayam masuk bui. Ketegangan horisontal meningkat. Lho......situasi itu bukan tidak diciptakan oleh para pelacur-pelacur politik itu! Dan menurut berita yang pernah muncul kala itu, tidak lepas dari pengaruh intervensi agresi asing yang --sungguh heran-- dengan enaknya melenggang di Senayan untuk mengatur dan mensiasati sistem perundangan kita. Bisa kita lihat gejalanya manakala kondom bekas pakai ditemukan banyak berserakan disana. Tapi kalau bicara akhlak agama dakik-dakik. Sudah menjadi pasar kambing!
Parahnya, sifat lacur ini sudah menyebar melebar merasuki setiap sendi masyarakat. Bahkan iklan-iklan komersial seakan tak malu menampilkan adegan yang menghantar pesan terselubung tentang sifat lacur. Anak-anak berbohong kepada orang tua dianggap hebat. Bolos sekolah adalah keren. Bahkan ada saya mengenal seorang mahasiswa yang menjadi gigolo (kalau perempuan, saya tidak usah sebut lagi). Alasannya tetap sama, "Jaman sekarang om. Yang penting dapat modal dulu!"
Ohh,.......jadi demi uang, maka integritasmu sebagai seorang pelajar bahkan maha-pelajar (mahasiswa) anda korbankan??? Apa yang terjadi manakala dirinya besok menjadi pejabat di negeri ini???
Tidak bisa dipungkiri, bahwa situasi ekonomi yg semakin sulit, tekanan dan tuntutan persaingan hidup yang semakin tinggi, pertumbuhan kepadatan penduduk yang tak terkendali, rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, gempuran iklan2 komersial yang tidak etis, film2 sinetron murahan, kiai-kiai komersil, ustadz2 palsu, pendeta2 mata duitan, dsb dsb....semua yang menjadi penyebab pendorong sifat lacur itu mewabah ke seluruh pelosok negeri. Tapi jangan hanya salah kan orang kecil, karena mereka terdesak terdorong oleh sikon tiada lain adalah karena sistem buruk yg dibuat oleh para petingginya, gaji melilit pinggang yang dibayar oleh para pengusahanya, ketidakstabilan dan chaos sosial yg diciptakan oleh para politisinya. Sadarlah wahai orang-orang yg berkedudukan tinggi dan besar. Anda duduk di singgasana Agung, tetapi sebetulnya anda berjiwa lacur, karena senyatanya dalam realitas sosial tercipta banyak pelacur! Orang-orang BESAR lah yang membuat rakyat kecil terpaksa melacur demi menyambung hidup!
Semua itu hanya bisa terjadi manakala masyarakat tidak mengenal KASIH. Bahkan kata "kasih" pun telah didangkalkan maknanya oleh orang-orang lacur itu sebagai 'nafsu sex' semata untuk mengelabuhi orang-orang yang polos agar tetap memelihara egoismenya.
Parahnya, sifat lacur ini sudah menyebar melebar merasuki setiap sendi masyarakat. Bahkan iklan-iklan komersial seakan tak malu menampilkan adegan yang menghantar pesan terselubung tentang sifat lacur. Anak-anak berbohong kepada orang tua dianggap hebat. Bolos sekolah adalah keren. Bahkan ada saya mengenal seorang mahasiswa yang menjadi gigolo (kalau perempuan, saya tidak usah sebut lagi). Alasannya tetap sama, "Jaman sekarang om. Yang penting dapat modal dulu!"
Ohh,.......jadi demi uang, maka integritasmu sebagai seorang pelajar bahkan maha-pelajar (mahasiswa) anda korbankan??? Apa yang terjadi manakala dirinya besok menjadi pejabat di negeri ini???
Tidak bisa dipungkiri, bahwa situasi ekonomi yg semakin sulit, tekanan dan tuntutan persaingan hidup yang semakin tinggi, pertumbuhan kepadatan penduduk yang tak terkendali, rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, gempuran iklan2 komersial yang tidak etis, film2 sinetron murahan, kiai-kiai komersil, ustadz2 palsu, pendeta2 mata duitan, dsb dsb....semua yang menjadi penyebab pendorong sifat lacur itu mewabah ke seluruh pelosok negeri. Tapi jangan hanya salah kan orang kecil, karena mereka terdesak terdorong oleh sikon tiada lain adalah karena sistem buruk yg dibuat oleh para petingginya, gaji melilit pinggang yang dibayar oleh para pengusahanya, ketidakstabilan dan chaos sosial yg diciptakan oleh para politisinya. Sadarlah wahai orang-orang yg berkedudukan tinggi dan besar. Anda duduk di singgasana Agung, tetapi sebetulnya anda berjiwa lacur, karena senyatanya dalam realitas sosial tercipta banyak pelacur! Orang-orang BESAR lah yang membuat rakyat kecil terpaksa melacur demi menyambung hidup!
Semua itu hanya bisa terjadi manakala masyarakat tidak mengenal KASIH. Bahkan kata "kasih" pun telah didangkalkan maknanya oleh orang-orang lacur itu sebagai 'nafsu sex' semata untuk mengelabuhi orang-orang yang polos agar tetap memelihara egoismenya.
Tapi itulah yang akan mendefinisikan perbedaan kita sebagai manusia atau binatang. Manusia memiliki KASIH sebagai modal dasar dan kemudian menggunakan akal budi untuk memperbaiki. Berubah dari binatang yang egois menjadi manusia seutuhnya yang memayu hayuning buwana. Asih-asah-asuh. Ing ngarsa sung tuladha. Ing madhya mangun karsa. Tut wuri handayani.
Saudara-saudariku sebangsa dan setanah air........
Putra-putriku bangsa Nusantara.......
Janganlah artikan kemarahan saya ini sebagai sebuah penistaan, tetapi lebih kepada tamparan untuk membangunkan. Kualitas kehidupan manusia itu terbentuk dari kualitas masing-masing pribadinya. Kalau anda masih mengharapkan kehidupan yang berkualitas sebagai seutuhnya manusia, pikirkanlah dan renungkanlah isu ini. Terutama bila masih peduli dengan nasib generasi penerus dan anak-cucu kita jauh ke depan. Akankah kita mewariskan pengharapan indah kepada mereka, ataukah keputus-asaan dan kesengsaraan?
Kemarahanku ini karena terpaksa. Tidak tahan melihat putra-putri bangsa dan negeriku ini terus menerus terlunta-lunta semakin tertinggal dari peradaban manca negara. Bila engkau bisa melihat lubuk hatiku yang terdalam, semua ini kusampaikan karena Cinta.
Bangunlah! Pelacuran itu bukan semata PSK (prostitute). Mereka hanya menjual apa yg dimilikinya pribadi : tubuhnya; bukan merampas hak yang menjadi milik orang lain. Tapi lebih banyak orang yang berjubah 'kesucian', 'kebenaran', 'hukum' sebenarnya adalah pelacur-pelacur yang lebih keji karena mengingkari kenyataan, melanggar kemanusiaan dan kewarasan; menjual apa yang bukan menjadi haknya. Curang dan mau menang-menangan sendiri. Apa yang keluar dari mulutnya terbalik dari kenyataannya. Tidak hanya merusak dirinya tapi juga merusak negeri/dunia.
Pelacur kelas teri hanya menjual tubuhnya saja. Pelacur eselon atas menjual negeri, menjual rakyat, dan menjual jiwanya juga. Apapun yg bisa dijual, dijualnya, bahkan Tuhan pun dijualnya pula!
Fenomena ini bukan sekedar perkataan saya, tetapi sudah diramalkan sejak jaman nabi-nabi. Jangan mengira bahwa Sang Pelacur yg duduk di atas binatang itu adalah seseorang nun-jauh disana. Tanpa disadari, kita-kita bisa jadi sudah menjadi penghambanya!
Bangunlah dengan KESADARAN (Eling). Karena hanya kesadaranlah kita dapat keluar dari 'akar mimang' itu. Jangan terlalu mengharap agama bisa menuntaskan masalah ini, karena agama sendiri telah melacurkan dirinya dengan kekuasaan dan keuntungan duniawi. Bahkan mungkin itulah akar sumbernya selama ratusan tahun tertanam dalam benak jiwa budaya masyarakat yang sakit.
Akhir kata, saya ingin menyampaikan tembung unen-unen sanepan ini. Bagi yang megerti ya mengertilah. Yang tidak mau mengerti, monggo berhadapan saja dirimu melawang Sang Kala.
Tangerang prang adheging riris.
Putra-putriku bangsa Nusantara.......
Janganlah artikan kemarahan saya ini sebagai sebuah penistaan, tetapi lebih kepada tamparan untuk membangunkan. Kualitas kehidupan manusia itu terbentuk dari kualitas masing-masing pribadinya. Kalau anda masih mengharapkan kehidupan yang berkualitas sebagai seutuhnya manusia, pikirkanlah dan renungkanlah isu ini. Terutama bila masih peduli dengan nasib generasi penerus dan anak-cucu kita jauh ke depan. Akankah kita mewariskan pengharapan indah kepada mereka, ataukah keputus-asaan dan kesengsaraan?
Kemarahanku ini karena terpaksa. Tidak tahan melihat putra-putri bangsa dan negeriku ini terus menerus terlunta-lunta semakin tertinggal dari peradaban manca negara. Bila engkau bisa melihat lubuk hatiku yang terdalam, semua ini kusampaikan karena Cinta.
Bangunlah! Pelacuran itu bukan semata PSK (prostitute). Mereka hanya menjual apa yg dimilikinya pribadi : tubuhnya; bukan merampas hak yang menjadi milik orang lain. Tapi lebih banyak orang yang berjubah 'kesucian', 'kebenaran', 'hukum' sebenarnya adalah pelacur-pelacur yang lebih keji karena mengingkari kenyataan, melanggar kemanusiaan dan kewarasan; menjual apa yang bukan menjadi haknya. Curang dan mau menang-menangan sendiri. Apa yang keluar dari mulutnya terbalik dari kenyataannya. Tidak hanya merusak dirinya tapi juga merusak negeri/dunia.
Pelacur kelas teri hanya menjual tubuhnya saja. Pelacur eselon atas menjual negeri, menjual rakyat, dan menjual jiwanya juga. Apapun yg bisa dijual, dijualnya, bahkan Tuhan pun dijualnya pula!
Fenomena ini bukan sekedar perkataan saya, tetapi sudah diramalkan sejak jaman nabi-nabi. Jangan mengira bahwa Sang Pelacur yg duduk di atas binatang itu adalah seseorang nun-jauh disana. Tanpa disadari, kita-kita bisa jadi sudah menjadi penghambanya!
Bangunlah dengan KESADARAN (Eling). Karena hanya kesadaranlah kita dapat keluar dari 'akar mimang' itu. Jangan terlalu mengharap agama bisa menuntaskan masalah ini, karena agama sendiri telah melacurkan dirinya dengan kekuasaan dan keuntungan duniawi. Bahkan mungkin itulah akar sumbernya selama ratusan tahun tertanam dalam benak jiwa budaya masyarakat yang sakit.
Akhir kata, saya ingin menyampaikan tembung unen-unen sanepan ini. Bagi yang megerti ya mengertilah. Yang tidak mau mengerti, monggo berhadapan saja dirimu melawang Sang Kala.
Tangerang prang adheging riris.
Komentar
Posting Komentar