Mazmur kita hari ini merupakan model untuk memahami kenyataan hidup rohani secara lebih utuh.
Pemazmur sedang berada di dalam kesesakan yang begitu dahsyat. Seperti biasanya, ia berdoa, menangis, berteriak pada Allah untuk mendapatkan pertolongan (ayat 2-3, 10b, 14).
Namun, apa yang terjadi? Kali ini tidak ada jawaban. Allah membisu seribu bahasa.
Apakah kemudian pemazmur berhenti berteriak?
Tidak!
Kita justru melihat, kemarahannya ditumpahkan kepada Allah (ayat 4-10a).
Ia menganggap bahwa hubungan dirinya dengan Allah terputus, sebagaimana ungkapan "liang kubur" dan "dunia orang mati" dipakai.
Lebih dahsyat lagi, ia menganggap bahwa Allah bertanggung jawab atas keadaan dirinya (ayat 7-10a). Namun, Allah tetap diam.
Pemazmur melanjutkan usahanya dengan menyajikan pertanyaan- pertanyaan retoris (ayat 11-13).
Ada enam hal buruk yang disebutkan di sana: 1)Orang mati, 2)arwah, 3)kubur, 4)kebinasaan, 5)kegelapan,6)Negeri segala lupa.
Kontrasnya: ada enam hal yang merupakan milik ALLAH: 1)Keajaiban, 2)Kebangkitan, 3)Kasih, 4)Kesetiaan, 5)Keajaiban, 6)Keadilan.
Pertanyaan-pertanyaan retoris ini semuanya dijawab dengan satu kata: TIDAK❗
Mengapa ALLAH membiarkan pemazmur tetap terpuruk seperti itu?
Tidak ada jawaban.
Karena itulah pemazmur untuk terakhir kalinya marah pada ALLAH (ayat 14-19). Puncaknya ada di ayat 17. Bagi pemazmur, ALLAH patut disalahkan atas semua yang dialaminya.
Ada dua hal yang dapat kita pelajari di sini:
1)Pertama, Hidup tidak selalu menyenangkan.
Ada saat-saat ketika kita berada di dalam masa-masa yang sulit.
2)Kedua, di dalam ketidakmengertian pemazmur, ia tetap berdoa pada ALLAH dan menantikan PertolonganNYA.
Ia tidak menjadi bisu, meskipun kata-kata yang keluar adalah kemarahan dan pertanyaan- pertanyaan.
Kadangkala ALLAH terasa begitu jauh dan tidak mempedulikan kita, meskipun kita telah berteriak pada DIA.
Namun kita tidak punya pilihan lain, selain tetap setia pada- NYA.
RENUNGKAN:
Yaitu dengan memahami kisah yang diceritakan Tuhan Yesus Kristus tentang Lazarus dan Orang Kaya. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa bahwa orang mati itu memiliki kesadaran (Lukas 16:19-31). Sesudah kematian secara jasmani, jiwa itu tetap hidup di dalam kebahagiaan atau kesengsaraan, tergantung dengan kehidupan mereka di bumi ini. Orang kaya itu mati dan segera berada di tempat siksaan. Dia tidak hanya mengetahui bahwa dia sengsara, melainkan juga mengingat lima lagi saudaranya yang masih hidup di bumi dan dia ingin agar mereka jangan masuk ke tempat sekarang dia sedang berada. Bapa Abraham meminta dia untuk mengingat kembali kehidupannya ketika dia hidup di dunia, hal itu akan menolong dia untuk mengerti mengapa dia disiksa. Tidak lama kemudian Lazarus juga mati, tetapi dia segera berbahagia, tinggal bersama Abraham. Karena itu, kedua-duanya baik orang kaya maupun Lazarus, berada dalam keadaan sadar. Mereka masih dapat mengingat kehidupan mereka sewaktu hidup di bumi.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Label
EM- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar