Parashat Acharei Mot “Sesudah Kematian”

Bagian Torah pekan ke-29
ืַืֲืจֵื ืֹืืช
Parashat Acharei Mot “Sesudah Kematian”
- Torah: Imamat 16:1-18:30
- Haftarah: Yehezkiel 22:1-22:19
- Brit Chadashah: Ibrani 9:11-28
Ringkasan Bacaan Torah:
Acharei Mot merupakan peralihan dari instruksi-instruksi sebelumnya mengenai kemurnian ritual untuk mengingat kembali tragedi Nadab dan Abihu, dua putra Harun yang tewas ketika mereka mempersembahkan esh zarah (“api asing”) di atas mezbah pada waktu pentahbisan Tabernakel. Karena imam-imam ini mendekati Tempat Kudus dengan cara yang tidak benar dan dibunuh, YHVH lebih lanjut memerintahkan Musa untuk memberi tahu Harun bahwa ia harus masuk ke dalam Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus hanya dengan cara yang ditentukan satu kali setahun, pada waktu Yom Kippur …
Parashah dimulai:
ืַืְืַืֵּืจ ืְืืָื ืֶื־ืֹืฉֶׁื ืַืֲืจֵื ืֹืืช ืฉְׁื ֵื ืְּื ֵื ืַืֲืจֹื ืְּืงָืจְืָืชָื ืִืคְื ֵื־ืְืืָื ืַืָּืֻֽืชืּ׃
Dan berfirmanlah YHVH kepada Musa, setelah kematian kedua anak Harun ketika mereka mendekat ke hadirat YHVH dan mereka mati. (Im. 16:1)
Peringatan akan Nadab dan Abihu
Kisah kematian dua putra tertua Harun, Nadav (Nadab) dan Avihu (Abihu), diberikan dalam parashat Shemini, di mana kita mempelajari bahwa mereka memutuskan untuk mempersembahkan korban (kurban) mereka sendiri di dalam Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus di mishkan.
Menurut tradisi Yahudi, mereka beralasan bahwa karena ketoret (dupa) adalah persembahan yang paling kudus, dan karena kodesh hakodashim (Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus) adalah tempat paling kudus, akan lebih baik jika mereka mempersembahkan persembahan mereka kepada YHVH di sana.
Nadav dan Avihu pada dasarnya benar bahwa memberikan sebuah persembahan di hadapan Shechinah di dalam Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus adalah korbanot yang paling kudus, tetapi mereka melanggar dengan kelancangan dan datang ke hadapan YHVH tanpa persetujuan-Nya – dan tanpa darah kurban bagi dosa-dosa mereka. Kematian mereka adalah cara untuk menguduskan Nama YHVH, dan untuk mengingatkan kepada seluruh Israel bahwa sungguh-sungguh “mengerikan, jika jatuh ke dalam tangan Elohim yang hidup” (Ibr. 10:31). Lagipula, jika Ratu Ester takut akan kehilangan nyawanya dengan datang ke hadapan Raja Ahasuerus tanpa dipanggil, pastilah kohanim (imam-imam) harus takut datang di hadapan YHVH Elohim yang Mahakuasa tanpa persetujuan-Nya.
Karena itu, YHVH menginstruksikan Musa tentang bagaimana harus datang di hadapan hadirat-Nya di dalam Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus dan menjelaskan avodah khusus (pelayanan) Yom Kippur.
Ruang Tahta Elohim
Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus adalah antitesis dari kecemaran – tempat suci di mana Elohim Sendiri akan dimanifestasikan dalam bentuk Shechinah yang berdiam (shachan) di antara keruvim (kerub-kerub) di atas kapporet (Tutup Pendamaian) dari Tabut Kesaksian. Dengan demikian, itu benar-benar kudus dan mewakili ruang tahta Elohim Sendiri di tengah-tengah Israel.
Tidak ada orang Yahudi dengan begitu saja memasuki Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus dan berharap untuk hidup, karena kekudusan dan kemuliaan absolut Elohim akan langsung menghabisinya. Kesempurnaan Elohim yang tanpa batas dan kebenaran-Nya yang tak tertahankan akan menuntut bahwa setiap pelanggar akan dihabisi oleh bobot kemuliaan dan kuasa-Nya.
Akses melalui Penebusan Darah
Lalu kemudian bagaimana, dapatkah Israel menghadap Raja Israel, TUHAN Yang Mulia? Hanya melalui perwakilan yang ditunjuk yang datang membawa darah penebusan demi dosa-dosa Israel, dan hanya pada hari yang ditentukan (10 Tishri), atau yang dikenal sebagai Yom Kippur (“Hari Penebusan”).
Pada hari istimewa ini, yang dianggap sebagai hari paling kudus dari setahun, seluruh korbanot (kurban-kurban) akan dipersembahkan oleh Kohen Gadol (Imam Besar) sendiri (yaitu, bukan oleh imam-imam yang lain) dan hanya ketika dia dilucuti dari “pakaian-pakaian emasnya” dan dipakaiani secara eksklusif dalam pakaian-pakaian linen kesederhanaan.
Namun sebelum menjalankan ritual-ritual darah, Imam Besar pertama-tama harus membakar dua genggam penuh ketoret (dupa) di dalam Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus. Dia akan masuk sambil memegang sebuah sekop berisi penuh ketoret di tangan kirinya dan sebuah wajan dengan bara api di tangan lainnya. Dia akan dengan hati-hati menempatkan wajan dengan bara api di depan tabut dan kemudian menuangkan ketoret dari sekop ke tangannya, yang kemudian dituangkan ke atas bara yang menyala, memenuhi seluruh kamar itu dengan asap tebal. Dia kemudian akan berjalan mundur perlahan-lahan, bersujud di hadapan Hadirat YHVH.
Selanjutnya Imam Besar akan mernjalankan kurban-kurban tambahan (musaf) untuk pelayanan Yom Kippur. Ini termasuk kurban-kurban binatang bagi seluruh Israel (seekor lembu jantan, seekor domba jantan, tujuh ekor domba, dan seekor kambing), serta korbanot pribadi Kohen Gadol (seekor lembu jantan untuk persembahan chatat dan seekor domba jantan untuk persembahan olah). Imam Besar akan meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan dan melafalkan viduy (pengakuan) tiga kali secara terpisah – pertama bagi dosa-dosanya sendiri, kemudian bagi dosa-dosa dari para imam, dan kemudian bagi seluruh Israel. Kemudian dia akan memasuki Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus untuk memercikkan darah persembahan chatat-nya di hadapan YHVH. Dia akan memercikkan darah satu kali ke atas dan kemudian tujuh kali ke bawah atas kapporet (“Tutup Pendamaian”) dari tabut. Daging dan kulit persembahan-persembahan dosa kemudian dibawa “ke luar perkemahan” dan dibakar.
(Perhatikan bahwa hanya selama avodah Yom Kippur Nama Kudus TUHAN – YHVH – diucapkan secara penuh (pada seluruh waktu lain kata Adonai digunakan menggantikannya). Bahkan, Imam Besar mengucapkan Nama Kudus tepatnya 10 kali pada kesempatan ini: tiga kali selama viduy (pengakuan) itu sendiri yang dibacakan tiga kali, dan sekali lagi ketika menjalankan persembahan chatat dari kambing yang ditetapkan “bagi YHVH” (lihat di bawah). Ketika umat itu mendengar Imam Besar melafalkan Nama itu, mereka semua tersungkur dengan muka mereka dan berkata, “Barukh shem kevod malkhuto l’olam va’ed” – Diberkatilah Nama (YHVH) yang kerajaan agung-Nya kekal selamanya”. Itu belakangan menjadi halakhah (hukum Yahudi) bahwa setiap kali Nama YHVH diucapkan, itu harus dipuji.)
Dua Ekor Kambing
Dua ekor kambing telah dipilih sebelumnya dan menunggu di pelataran mishkan. Imam Besar akan menarik undian dan memilih salah satu dari dua ekor kambing itu untuk menjadi persembahan chatat (dosa) demi umat itu (kambing ini ditetapkan sebagai L’Adonai – “bagi YHVH”). Dia kemudian akan menyembelihnya dan memercikkan darahnya ke atas kapporet seperti yang dia lakukan untuk persembahan chatatnya sebelumnya (ini adalah ketiga kalinya Imam Besar memasuki Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus pada Yom Kippur).
Setelah itu, Imam Besar akan meletakkan kedua tangan di atas kepala kambing kedua (ditetapkan “bagi Azazel,” nama untuk Satan, malaikat pendakwa) sambil mengakui semua pelanggaran umat itu. Kambing ini, yang secara simbolis mewakili dosa-dosa umat itu, kemudian dibawa ke padang gurun oleh seorang utusan dan didorong dari tebing, menyebabkan kambing itu hancur berkeping-keping.
(Sebuah midrash menceritakan bahwa umat itu begitu ingin membuat kambing Azazel terdorong dari tebing sehingga mereka kadang-kadang berlari di samping utusan itu dan mendorong dia di sepanjang jalan.)
Perjalanan masuk keempat dan yang terakhir ke Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus adalah ketika Imam Besar kembali untuk mengambil sekop dan wajan yang telah digunakan untuk membakar ketoret. Sementara Imam Besar melakukan ini, umat itu akan berpuasa dan berdoa dalam antisipasi yang sangat untuk hasil akhir dari ritual-ritual itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, umat itu akan menyoraki Imam Besar dan menunggu untuk mencium tangannya di pintu masuk mishkan.
Bagian tentang avodah Yom Kippur berakhir sebagai berikut:
Dan bagimu hal ini harus menjadi suatu ketetapan (chok) selamanya (olam): pada bulan ketujuh, pada hari kesepuluh dalam bulan itu (yaitu 10 Tishri), kamu harus merendahkan jiwamu, dan kamu tidak boleh melakukan segala pekerjaan (melakhah), baik penduduk asli maupun pengembara yang menumpang di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu ia harus mengadakan penebusan (kaphar) bagimu untuk menahirkan kamu dari segala dosamu, kamu harus menjadi tahir (tahor) di hadapan YHVH. Itulah Sabat perhentian (shabbat shabbaton) bagimu, dan kamu harus merendahkan jiwamu; suatu ketetapan selamanya (chukkat olam). Dan imam yang dia akan mengurapinya, dan yang akan dia lantik kemampuan tangannya untuk bertindak sebagai imam ganti ayahnya, harus mengadakan penebusan dan mengenakan baju lenan, baju kekudusan (bigdei hakodesh). Dan dia harus mengadakan penebusan bagi ruang mahakudus (mikdash haodesh) dan bagi kemah pertemuan (ohel mo’ed), bahkan bagi mezbah (mizbeach) dia harus mengadakan penebusan, dan dia harus mengadakan penebusan atas para imam dan atas setiap orang dalam jemaat itu (am hakahal). Dan in lah yang menjadi suatu ketetapan selamanya (chukkat olam) bagimu, untuk mengadakan penebusan (kaphar) atas bani Israel dari segala dosa mereka sekali dalam setahun.” Dan dia melakukan seperti yang telah YHVH perintahkan kepada Musa. (Im. 16:29-34)
Tempat Pengorbanan
Setelah hukum-hukum untuk Yom Kippur diberikan, parashah dilanjutkan dengan perintah bahwa orang-orang Yahudi diharuskan hanya mempersembahkan korbanot mereka di mishkan dan bukan di padang-padang terbuka di mana kurban-kurban pagan dipersembahkan. Mereka yang melanggar perintah ini ditaklukkan kepadaืָּืจַืช (karat), sebuah “pemotongan” (diperpendek) pada hidup seseorang.
Hukum Larangan Makan Darah
Lebih lanjut, makan darah sangat dilarang dan demiian juga takluk kepada karat, hidup mereka “dipotong “:
Sebab, kehidupan tubuh ada di dalam darah, dan Aku telah memberikan darahnya kepadamu di atas mezbah itu untuk mengadakan penebusan bagi kehidupanmu, sebab darah itulah yang mengadakan penebusan bagi kehidupan. (Im. 17:11)
Parashah diakhiri dengan perintah-perintah tentang hubungan-hubungan seksual yang menyimpang, termasuk inses, homoseksualitas, dan hubungan seks dengan binatang. Karena praktek-praktek inilah bangsa-bangsa lain dihakimi oleh YHVH dan diusir dari negeri itu.
Yom Kippur setelah Penyaliban Yeshua
Talmud menceritakan informasi menarik tentang berbagai mujizat yang mulai terjadi sekitar 40 tahun sebelum kehancuran bait suci (yaitu, 30 M). Mujizat-mujizat ini dianggap berasal dari zechut (jasa) dari Shimon HaTzaddik, yang adalah Imam Besar Israel yang sangat dihormati. Namun, karena tanda-tanda ini dimulai tepat setelah waktu penyaliban Yeshua, mereka lebih lanjut mengindikasikan bahwa parochet (tirai) Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus telah terkoyak, dan sekarang, melalui avodah dan zechut-Nya bagi mereka yang percaya di dalam Dia, jalan menuju takhta kasih karunia telah dapat diakses oleh semua orang. Berikut kutipan dari Talmud:
Rabbi-rabbi kami mengajarkan: Selama empat puluh tahun terakhir sebelum kehancuran Bait Suci, undian [‘Bagi YHVH’] tidak muncul di tangan kanan; tidak juga tali berwarna merah kirmizi menjadi putih; tidak juga pelita paling barat bercahaya; dan pintu-pintu Hekel [Bait Suci] akan terbuka sendiri” (versi Soncino, Yoma 39b).
Menurut perikop ini, undi bagi Azazel, bertentangan dengan semua hukum probabilitas, muncul 40 kali berturut-turut di tangan kanan …. Ini dianggap sebagai peristiwa yang mengerikan dan menandakan sesuatu telah berubah secara fundamental dalam avodah Yom Kippur.
Mujizat kedua menyangkut tali merah kirmizi yang diikatkan ke kambing Azazel. Tradisinya adalah memotong sebagian tali ini dan mengikatnya ke pintu Bait Suci. Setelah kambing Azazel terbunuh, tali merah pada pintu Bait Suci berubah menjadi putih untuk menandakan keberhasilan penebusan Israel. Namun, mulai sekitar 30 Masehi, tali itu tetap merah tua setiap tahun sampai pada waktu kehancuran Bait Suci.
Mujizat ketiga adalah bahwa ner ma’aravi, pelita paling barat dari menorah di Tempat Kudus, ditemukan padam sebelum keesokan paginya. Ini sangat tidak biasa karena sebelum waktu ini ma’aravi tetap menyala sepanjang malam dan biasanya digunakan oleh imam-imam untuk menyalakan kembali pelita pada cabang-cabang lain dari menorah itu. Namun, setelah 30 Masehi, pelita ini – shamash – tidak lagi ditemukan terbakar, meskipun ada berbagai upaya dilakukan untuk memastikan bahwa itu tetap menyala sepanjang malam.
Mujizat keempat adalah bahwa mulai sekitar 30 Masehi pintu-pintu Bait Suci mengayun terbuka setiap malam atas kemauan mereka sendiri. Yochanan ben Zakkai menyatakan bahwa ini adalah tanda malapetaka yang akan datang (Sotah 6:3) yang memberi pertanda bahwa Bait Suci itu sendiri akan dihancurkan.
Ringkasan Bacaan Haftarah:
Pembacaan Haftarah dari Yehezkiel 22 mendakwa Israel karena gagal mentaati Torah Musa dan sebagai konsekuensinya mendatangkan penghakiman YHVH, yang meliputi Diaspora dari orang-orang Yahudi:
Aku akan menyerakkan engkau di antara bangsa-bangsa, dan menghamburkan engkau ke negeri-negeri, dan Aku akan menghabisi kenajisanmu dari antara engkau. Dan engkau telah dinajiskan di dalammu di depan mata bangsa-bangsa, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah YHVH.” (Yeh. 22:15-16)
Namun, perhatikan bahwa tujuan Diaspora adalah untuk “menghabiskan kenajisan” dari orang-orang Yahudi, dan karena itu pada akhirnya bersifat merestorasi.
Ringkasan Bacaan Brit Chadashah:
Bacaan Brit Chadashah memberi tahu kita bahwa Mashiach Yeshua muncul sebagai Imam Besar (Kohen Gadol) dari tabernakel sejati (dimana tabernakel duniawi hanyalah bayangan) dan di sana mempersembahkan darah-Nya sendiri untuk menjamin penebusan kekal bagi mereka yang percaya di dalam Dia. Yeshua melakukan ini dengan mati di kayu salib dan mencurahkan darah-Nya sebagai kurban persembahan yang sempurna untuk hukuman dosa-dosa yang dilakukan di bawah Torah Musa.
Dalam perjanjian pertama (yaitu, Torah Musa), kurban-kurban persembahan yang tidak bersalah harus dibunuh dalam tujuan mendapatkan manfaat dari kematian mereka. Ini sangat terbukti dalam seremoni Yom Kippur di mana dosa-dosa bangsa itu ditutupi oleh “darah lembu jantan dan kambing” untuk dosa-dosa tahun sebelumnya. Tetapi ritual ini, seperti lain-lainnya yang dilembagakan di dalam tabernakel duniawi, merupakan perlambang dari Substansi yang akan datang yang telah dinubuatkan (Ibr. 8:5).
Sebuah surat wasiat tidak berlaku hingga sang pewaris itu mati. Artinya, sebuah “wasiat” mulai berlaku hanya sesudah seseorang mati. Perjanjian Baru Elohim Yang Mahakuasa diberlakukan ketika Yeshua Mashiach dikurbankan dan mati, dan para ahli waris untuk “wasiat” ini menerima pengampunan kekal atas dosa-dosa mereka – tidak seperti pengampunan rombongan yang diperoleh melalui ritual-ritual yang dipersembahkan di dalam pola duniawi dari Tempat Kudus yang sejati.
Berusaha untuk hidup di bawah dua perjanjian pada waktu yang bersamaan adalah sama dengan menikah dengan dua perempuan sekaligus – yang merupakan suatu bentuk perzinahan spiritual. Mereka yang bersatu [“menikah”] dengan Mashiach adalah mati terhadap (yaitu, terbebas dari) Torah Musa (Rom. 7:2-4).
Sebab wanita yang menikah, dia terikat oleh hukum kepada suaminya yang masih hidup, tetapi apabila suaminya meninggal, ia terbebas dari hukum terhadap suaminya. Jadi kemudian, ketika suaminya masih hidup, ia akan disebut seorang pezina jika dia menjadi milik pria lain; tetapi jika suaminya meninggal, bebaslah dia dari hukum itu sehingga dia bukanlah seorang pezina karena menjadi milik pria lain. Demikianlah saudara-saudaraku, kamu juga telah dinyatakan mati terhadap torah oleh tubuh Mesias agar kamu menjadi milik yang lain, yaitu Dia, yang telah dibangkitkan dari antara yang mati, sehingga kita berbuah bagi Elohim. (Rom. 7:2-4)
ืַּื־ืַืชֶּื ืְּืֵืชִืื ื ֶืְืฉַׁืְืชֶּื ืַืชּืֹืจָื ืִּืְืฉַׂืจ ืַืָּืฉִׁืืַ
Juga kamu telah mati bagi Torah melalui tubuh Kristus
Puji Elohim Israel untuk Imam Besar kita Yesus, Mediator Perjanjian Baru melalui pengorbanan-Nya bagi kita!
Salah satu peranan dari Mashiach kita yang terkasih, Yeshua (Yesus Kristus) adalah Kohen HaGadol (Imam Besar) yang mempersembahkan kapparah [penebusan] sejati untuk dosa-dosa kita dengan mempersembahkan darah-Nya sendiri di dalam Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus yang dibuat tanpa tangan manusia. Seperti ada tertulis dalam surat Ibrani:
Oleh karena itu hai saudara-saudara yang kudus, yang menjadi mitra panggilan surgawi, pandanglah Rasul dan Imam Besar pengakuan kita, Kristus YESUS, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana juga Musa dalam keseluruhan bait-Nya. (Ibr. 3:1-2)
Pentingnya Kurban Darah
Dalam Imamat 17:11 ada tertulis:
Sebab, kehidupan tubuh ada di dalam darah, dan Aku telah memberikan darahnya kepadamu di atas mezbah itu untuk mengadakan penebusan (l’khapper) bagi kehidupanmu, sebab darah itulah yang mengadakan penebusan (y’khapper) bagi kehidupan.
ืִּื ื ֶืคֶืฉׁ ืַืָּืฉָׂืจ ืַּืָּื ืִืื ืַืֲื ִื ื ְืชַืชִּืื ืָืֶื ืขַื־ืַืִּืְืֵּืַ ืְืַืคֵּืจ ืขַื־ื ַืคְืฉֹׁืชֵืืֶื ืִּֽื־ืַืָּื ืืּื ืַּื ֶּืคֶืฉׁ ืְืַืคֵּֽืจ׃
Kurban darah dituntut oleh YHVH untuk masalah dosa. Imamat 17:11 sesuai dengan Ibrani 9:22: “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Dalam Talmud Yoma 5a juga tertulis, “Tidak ada penebusan tanpa darah”. Penumpahan darah pengganti, prinsip “nyawa untuk nyawa” adalah esensi untuk “penebusan” sejati dengan YHVH Elohim.
Yeshua mempersembahkan tubuh-Nya sendiri untuk menjadi Korban yang sempurna untuk dosa-dosa. Oleh darah-Nya yang tercurah, kita diberikan penebusan sempurna di hadapan Adonai. Sistem Imamat kurban-kurban binatang, termasuk ritual Yom Kippur yang rumit, dimaksudkan untuk memberi pertanda pengurbanan Yeshua yang sejati dan tetap sebagai sarana rekonsiliasi kita dengan Elohim. B’rit Yeshanah (Perjanjian Lama) memberikan bayangan tentang substansi yang disingkapkan di dalam B’rit Chadashah (Perjanjian Baru). Jika perjanjian lama sudah cukup untuk memberikan solusi permanen untuk masalah dosa kita, tidak akan pernah ada kebutuhan untuk sebuah perjanjian baru untuk menggantikannya (Ibr. 8:7).
Di bawah perjanjian sebelumnya atau perjanjian lama, urban-kurban semata-mata hanya “menutupi” dosa-dosa, tetapi di bawah perjanjian baru, dosa-dosa ini diambil sepenuhnya (Ibr. 7:27, 9:12, 9:25-28). Tidak dibutuhkan lagi kurban-kurban terus-menerus, karena Yeshua memberikan kurban sekali untuk selamanya bagi semua dosa kita (Ibr. 9:11-14; 9:24-28; 10:11-20).
Memang, Yeshua adalah “pendamaian” atau “penebusan” untuk dosa-dosa kita. Kata Yunani yang digunakan dalam Roma 3:25, 1 Yohanes 2:2, dan 1 Yohanes 4:10 (“hilasterion”) adalah kata yang sama yang digunakan dalam LXX untuk kapporet [tutup pendamaian di atas tabut perjanjian] di dalam Tempat Kudus dari Yang Kudus-kudus yang diperciki dengan darah kurban pada Yom Kippur.
Sebab Kristus telah masuk bukannya ke dalam ruang kudus yang dibuat oleh tangan manusia, yang mirip dengan yang asli, tetapi ke dalam surga itu sendiri, sehingga sekarang tampil di hadirat Elohim demi kita; bukan supaya berkali-kali Dia mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana imam besar setiap tahun masuk ke dalam ruang kudus dengan darah yang lain. Sebab, seharusnyalah Dia berulang-ulang menderita sejak permulaan dunia, tetapi sekarang sekali saja pada akhir zaman, Dia telah dinyatakan sebagai penghapus dosa melalui pengurbanan diri-Nya. Dan sebagaimana ditetapkan atas manusia untuk mati satu kali saja, dan sesudah itu penghakiman; demikian pulalah Kristus yang dikurbankan satu kali untuk menanggung dosa banyak orang, pada kali yang kedua, dengan tanpa dosa Dia akan tampak kepada mereka yang menanti-nantikan Dia untuk keselamatan. (Ibr. 9:24-28)
Sebab, oleh satu persembahan Dia telah menyempurnakan mereka yang dikuduskan, sampai selamanya. (Ibr. 10:14)
Komentar
Posting Komentar