Apakah kita menuai apa yang kita tabur? Apakah kita mendapatkan apa yang pantas kita terima saat kita mati?
- Hukum Menabur dan Menuai
- Bagaimana Kaitannya dengan Pernikahan
- Bagaimana Pengaruhnya terhadap Pendampingan Pernikahan
๐ฅGalatia 6:7 (VMD) Jangan keliru: Kamu tidak dapat menipu Allah. Orang hanya menuai yang ditanamnya.
Paulus menulis kepada jemaat di Galatia agar tidak sesat atau tertipu sebab Tuhan Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Dipermainkan mengunakan kata ฮผฯ ฮบฯฮทฯฮฏฮถฯ yang menurut Strong's Concordance berarti mengangkat hidung sebagai tanda penghinaan, mencibir, meremehkan sedangkan HELPS Word-studies menambahkan dengan arti mengejek, nenipu,menghina.
Teks di atas adalah pernyataan yang tegas bahwa Tuhan tidak dapat diremehkan dan atau diejek dengan tindakan yang kita lakukan sebab itu akan dengan segera dituai si pelaku bahkan yang bahaya nya sampai ajal menjemput ❗
Sebagai contoh Pengalaman Pribadi Penulis
Saya harus sampaikan hal ini karena dorongan yang kuat dalam hati saya memerintahkan kamu harus tulis agar pada tobat manusia yg tidak memahami KEBENARAN ❗
Satu kali ada seseorang XY meminta tolong kepada kami Untuk menjual kan Mobil nya❗Dimana TUHAN Mempercayakan Penulis Talent bidang JUAL BELI Mobil Bekas Lewat Media Online ,Karena pada dasar nya Prinsip Rasul Paulus Sebagai Hamba TUHAN Harus melakukan pekerjaan selain Pelayanan karena di dalam 2 Tesalonika 3:10 (TB) Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan..
Setelah membuat Perjanjian antara pihak Kami dan pihak XY akan: "...... namun EMANG dasar manusia RAKUS...janji yg di ucapkan tidak di direalisasikan sampai pada akhirnya menuai hasil dari perbuatan nya lewat sakit penyakit,sampai ajal menjmeput nya ...
Dari Cerita diatas kita dapat merenungkan kembali akan apa yg telah kita perbuat dalam HIDUP ini harus lah kita pertanggung jawabkan, Apa lagi berhubungan dengan Hamba TUHAN, Waspada..❗
Ini bukan mengancam ada konsekwensi cepat atau lambat yang di terima ,sebab ada ter tulis dalam alkitab Mazmur 105:15 (TB) "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku!"
(Konteks Nabi = Pendeta ,Hamba TUHAN YANG Telah Di utus di Tahbiskan Oleh TUHAN YANG Hidupnya berlaku jujur)
Walau terkadang dalam kasus tertentu sebelum Tuhan melakukan penghukuman atas perbuatan seseorang terkadang TUHAN masih memberikan kesempatan bertobat,ya kalau orang itu cepat PEKA dengan kondisi yang dialami nya, sehingga memungkinkan terhindar dari hukuman TUHAN karena adanya Kasih ILAHI dari TUHAN.
Contoh 2
Kota Niniwe bertobat setelah mendengar kotbah Nabi Yunus,(itupun Yunus sempat lari dari panggilan sehingga di makan ikan๐๐คญ)
Full Life
Menghubungkan teks di atas dengan Galatia 5:19-21
✅Tentang keinginan daging yaitu sadar menabur untuk memuaskan keinginan daging adalah bersalah karena mempermainkan dan menghina ALLAH.
✅Janganlah kita menipu diri sendiri: orang demikian tidak akan menuai "hidup yang kekal" tetapi "kebinasaan" (ayat Gal 6:8) dan "kematian" (Rom 6:20-23;lihat cat. --> 1Kor 6:9)
Terlebih lebih jika kita yang mengaku menjadi pengikut Kristus yang sudah dilahirkan kembali dan dipenuhi ROH (ayat Gal 6:3).
Matthew Henry berpendapat apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Atau sesuai kelakuan kita sekarang...❗
Demikianlah pertanggungjawaban kita nanti di hari yang agung. Saat sekarang adalah saat menabur benih.
Di dunia lain akan ada panen besar. Dan, sebagaimana petani menuai pada waktu panen sesuai dengan benih yang ditaburnya, demikian pula kita akan menuai nanti sesuai dengan apa yang kita tabur sekarang.
Lebih jauh lagi Rasul Paulus memberi tahu kita (ayat 8) bahwa, sebagaimana ada dua macam benih, yaitu:
✅Menabur dalam Daging dan
✅ Menabur dalam ROH,
Demikian pula dengan balasannya nanti di akhirat :.....
✅Jika kita menabur dalam daging kita,
kita akan menuai kebinasaan dari daging kita.
✅Jika kita menabur angin, kita akan menuai badai.
Orang-orang yang hidup dalam kedagingan, yang bukannya bertindak demi kehormatan ALLAH dan kebaikan orang lain, malah menghabiskan segenap pikiran, perhatian, dan waktu mereka untuk memuaskan DAGING.... Harus bersiap-siap memetik buah dari jalan itu, yang tiada lain adalah KEBINASAAN.....❗❗❗
Kepuasan yang tidak berharga dan sebentar pada saat ini, akan menghasilkan kehancuran dan kesengsaraan pada ujungnya.
Akan tetapi, pada sisi lain,
Barangsiapa menabur dalam ROH,
YANG hidup KUDUS dan rohani di bawah bimbingan dan kuasa ROH,
DENGAN mengabdi pada ALLAH dan berguna serta melayani sesama, ia boleh yakin bahwa ia akan menuai hidup yang kekal dari ROH itu.
Mereka akan mendapatkan penghiburan yang sesungguhnya di jalan mereka saat ini, dan hidup serta kebahagiaan kekal pada ujungnya....❗❗❗
Perhatikanlah, orang yang mempermainkan ALLAH hanyalah menipu diri sendiri....
Kemunafikan dalam agama adalah kebodohan dan juga kefasikan terbesar, karena ALLAH yang harus kita hadapi itu dengan mudah melihat segala hal yang kita samarkan....
DAN pasti akan mengadakan perhitungan dengan kita nanti, bukan menurut apa yang kita akui, melainkan menurut apa yang kita lakukan........
Dari sini kita melihat Hukum Tabur-Tuai acapkali sama dengan Hukum Karma
Ternyata jelas-jelas sangat berbeda.
Berikut Sepintas Hukum Karma.....
Kita Tidak dapat Mencurangi Hidup,
Hukum Karma Mengikat Setiap Makhluk sebagai Pewaris Perbuatannya Sendiri ❗
Mengherankan adanya orang-orang yang bersikap curang, terlebih mencurangi, menipu, menyakiti, merugikan, ataupun menculasi makhluk atau manusia lainnya.
Apapun motifnya, baik dilandasi keterpaksaan, ketamakan, keusilan, kesenangan,Kebodoh belaka.
Seekor Anjing saja ingat Balas Budi kepada tuan nya ❗Video di atas memberi kita pemahaman jujur bahwa hewan saja memiliki rasa budi , rasa sakit, keinginan, harapan, serta kecemasan disamping perjuangan untuk hidup.
Mencurangi, pasti akan berbalik dan berbuah pada diri pelakunya sendiri. Jadi buat apa kita repot-repot mencurangi hidup, terkecoh oleh keyakinan keliru bahwasannya kecurangan dapat dihapus atau tidak akan berbuah pada sang pembuatnya sendiri—entah dengan keyakinan bahwa dirinya telah melupakan semua perbuatan jahatnya, dengan mengingkari perbuatannya, dengan menyembah TUHAN dengan harapan penghapusan dosa....
Bagaikan sesuatu yang telah patah, nasi yang telah menjadi bubur, tak ada satupun permintaan maaf ataupun pengampunan dosa yang dapat menghapus sejarah atau mengembalikan bubur kembali menjadi nasi.
Cobalah ambil sebuah kain kotor, kemudian berdoa dan menyebut secara berulang-ulang (jika perlu dengan toa akan lebih afdol): “Bersih, bersih, bersih, bersih, ...” terus-menerus disebutkan, Adapun yang kemudian Anda dapati adalah kain tersebut menjadi lusuh, kucel dengan daki kita.
Apakah kain itu akan menjadi bersih sesuai keinginan kita❓
Mengharap bahwa harapan kita berjalan sesuai harapan kita...
Sejatinya melecehkan hukum alam yang bekerja secara teratur dan terpola. Bagaikan menantang dan mendikte hukum karma.
DALAM ILMU Buddhisme
Memiliki analogi berikut:
KARMA buruk ibarat garam yang asin, dan karma buruk ibarat air sejuk yang menyejukkan.
Bila kita berbuat buruk, garam itu tetap ada, tak dapat dipungkiri atau diingkari terlebih dibuang (dibuang ke mana❓).
Hanya saja, ketika karma baik kita lebih banyak, sebanyak danau, segelas garam yang dituang ke danau membuat rasa asin itu hampir tak lagi kentara.
Jadi bukan mati-matian mengharap penghapusan dosa, namun perbanyak perbuatan KASIH,BAIK &
Perkecil perbuatan buruk, dan sucikan hati serta pikiran, inilah ajaran para Buddha, baik Buddha yang di masa lampau, kini, dan di masa yang akan datang❗
๐ฅBerani berbuat, berani bertanggung jawab❗
๐ฅBerani bermain api, berani terbakar.
Inilah prinsip gentlement agreement secara universal yang berlaku pada hukum karma❗
Buddha mengajarkan umatnya menjadi seorang gentlement sejati. Seorang gentlement senantiasa respek dan penuh keutuhan dengan dirinya sendiri.
Ketika kita menyadari bahwa mencurangi hidup akan berbalik pada diri sang pembuat, akan dicurangi hal yang serupa pada si pelaku itu sendiri ketika buah perbuatannya matang (hanya tinggal persoalan waktu), lantas untuk apa lagi kita mencurangi hidup❗
๐งPepatah mengatakan:
"Lebih baik dirugikan ketimbang merugikan orang"
"Lebih baik merugi daripada merugikan" "Lebih baik disakiti ketimbang menyakiti"
Sang Buddha menyatakan, ketika seseorang merasakan manisnya hidup, hal tersebut hanyalah “nasi basi”, karena hanya sedang menuai buah karma baik yang dahulu ditanamnya.
Sehingga kita tak dapat bersikap arogan, sombong, ataupun mengandalkan “nasi basi” yang dapat habis sesuai tabungan karma baik yang kita bawa dalam kehidupan sebelumnya.
Hanya sekadar “nasi basi”❗
Ketika kita merasakan pahitnya buah dari Perbuatan buruk, kita pun mulai merasakan apa yang disebut:
"Merana Mati segan hidup enggan"
"Mencuri akan dicuri"
"Membunuh akan dibunuh"
"Menipu akan ditipu",
"Memamfaatkan akan Dimanfaatkan", "Menghina akan Terhina",
"Merendahkan akan Direndahkan",
"Menculasi akan Diculasi",
Tak ada satupun perbuatan, baik perbuatan kecil maupun perbuatan besar yang tak akan berbuah pada sang pelaku, sehingga kita tidak dapat meremehkan perbuatan kita, mawas diri, alias eling. Malu berbuat jahat (hiri), dan takut akan akibat buah karma buruk (ottapa).
Kita adalah pewaris dari:
Perbuatan kita sendiri, terlahir dari perbuatan kita sendiri, berkerabat dengan perbuatan kita sendiri. Baik ataupun buruk perbuatan kita, perbuatan itulah yang akan kita warisi.
Demikian sabda Sang Buddha yang kerap kali patut kita renungkan.
Karma buruk ataupun karma baik yang berbuah, meski acintea alias bekerja diluar daya pikir manusia biasa (lokiya)—
dimana hanya seorang arahat (lokuttara) yang mampu memahami cara kerja hukum karma secara utuh karena telah berhasil memutus belenggu rantai karma—namun setidaknya terdapat beberapa indikasi dari hukum karma yang bekerja secara halus dan seringkali tanpa di sadari.
Kita tak dapat mencurangi hidup, dengan membuang sampah sembarangan atau merusak lingkungan, dengan keyakinan keliru bahwa alam akan peduli pada kita sekalipun kita tidak perduli pada alam. Sekalipun kita mempunyai keyakinan keliru bahwa membuang sampah di sungai akan mendaur ulang sampah rumah tangga kita,
Namun fakta memperlihatkan bahwa sekalipun kita memiliki keyakinan demikian, tetap saja hukum alam punya cara kerjanya sendiri yang tidak tunduk dengan keyakinan semu kita—akibatnya terjadi pencemaran lingkungan, banjir, penyakit, tidak sedap dipandang,Imbasnya ialah meminum air tanah yang tercemar, mengkonsumsi biota yang terpapar limbah beracun, menghirup polutan, dsb.
Sama halnya dengan konsep penghapusan dosa, sama dangkalnya dengan perilaku jorok membuang sampah sembarangan, dan berkeyakinan akan ada orang lain atau alam yang akan bekerja secara sukarela membereskan dan membersihkan kekotoran yang akan dilakukan oleh diri mereka.
Dengan meyakini sebanyak apapun kekuatan alam, memuji-muji alam, menyembah alam, memberi sesajen pada alam, tetap saja sampah tersebut menumpuk, dan merusak ekosistem disamping menghancurkan daya dukung lingkungan.
Hanya aksi nyata berupa pembersihan dan gerakan berkesadaran untuk tidak memproduksi sampah seenaknya dan membersihkan lingkungan yang benar-benar dapat memulihkan kondisi.
Kehidupan sehari-hari telah memberikan sinyal elmen dan bahasa isyarat pada kita, bahwa adalah percuma mencoba segala daya untuk mencurangi hidup.
Namun tetap saja sang dungu mengulangi hobinya berbuat curang, melekat pada pandangan keliru demikian, dan menjadikan perbuatan curang sebagai indentitas pola hidupnya sendiri.
Seakan tak bisa hidup tanpa berbuat curang. Seakan hidup adalah dukkha tanpa berbuat curang.
Curang atau tidak curang, kaya ataupun miskin, berkuasa ataupun tak berkuasa, hakekat semua bentukan adalah dukkha (sabbe sangkhara dukkha).
Jadi buat apa berbuat curang❗
Hukum karma tak dapat :
ditawar-tawar, dinegosiasi, disogok, diuji-materil, diintervensi dengan TUHAN —karena bila terjadi intervensi sejatinya TUHAN telah bersikap tidak adil dengan mengistimewakan Satu Manusia—dan tak dapat pula hukum karma didikte dengan keyakinan semu kita bahwa segala kotor yang telah dibuat akan terhapus oleh waktu, Terampuni dengan puja-puji yang sebenarnya tak berbeda dengan praktik persembahan dan ritual-ritual zaman prasejarah: sembah sujut, pengurbanan, dan permintaan-permintaan serta harapan surga disamping penghapusan dosa❗
Sang Buddha menyatakan, yang tak waspada terhadap setiap pikiran, ucapan dan perbuatannya, bagaikan makhluk yang telah mati meski masih bernafas.
Dan mereka yang waspada terhadap setiap aktifitas pikiran, ucapan, dan perbuatannya, bagaikan makhluk yang telah menyelamatkan dirinya sendiri.Pikiran adalah pelopor dari segala perilaku, baik buruk maupun baik. Menjaga pikiran sejatinya telah menjaga kehidupan.Bila kita tak mampu “menyogok” matahari agar senantiasa bersinar di tempat yang sama sepanjang hari, bagaimana mungkin kita dapat “menyogok” suatu adikodrati dengan sembah-sujud-puja-puji❗
Jangan meremehkan kekotoran batin, karena bila kita belum terlatih untuk berkesadaran penuh dalam setiap tarikan dan hembusan nafas kita, dalam setiap langkah kita, dalam setiap postur kita, maka kita akan babak-belur dan menjadi “bulan-bulanan” kekotoran batin kita sendiri, babak belur pada akhirnya membuat kita merasa malu sendiri.Ketika ada pikiran buruk yang telah terbit, segera diputus. Ketika pikiran buruk belum tercipta, tutup keran pikiran demikian rapat-rapat. Ketika terbesit pikiran baik, segera realisasikan. Ketika pikiran baik belum terbentuk, segera munculkan.
Menyadari hidup harus gentle, untuk apa lagi kita berbuat curang. Sekalipun hukum manusia dan hukum negara tidak mengambil tindakan, hukum karma bekerja dibalik latar belakang (background). Tiada satupun tempat untuk bersembunyi, karena dalam Buddhisme, surga dan neraka pun tidak kekal, surga dan neraka akan kiamat pada suatu waktu nanti, dan penghuninya pun akan meninggal dan terlahir kembali sesuai sisa tabungan karma baik atau karma buruknya. Semua yang terbentuk akan melebur, dan segala yang melebur akan terbentuk kembali. Siklus kehidupan dan siklus bentukan-bentukan.Jika tahu berbuat curang hanya akan dicurangi pada akhirnya, untuk apa pula kita egois pada diri kita sendiri? Bukankah artinya kita telah menculasi diri kita sendiri di masa depan❗
Hukum negara dan hukum manusia dapat Anda curangi, namun jangan Overestimated untuk menantang terlebih berduel dengan hukum karma, bila menghadapi sang raja kematian saja kita belum sanggup.
Kecuali Anda telah menjadi seorang Arahat, minimum tingkat kesucian Sottapana. Seorang Sottapana, minimum sudah menanggalkan keyakinan keliru bahwa ritual dapat membuat seseorang tersucikan mencapai kebebasan sempurna—break the chain of kamma, no more rebith, Nibbana.❗
Salah satu yang membedakan antara hukum karma dengan hukum manusia, hukum karma tidak pandang bulu (ras apapun, warga negara manapun, kulit hitam atau kulit putih) dan bekerja secara otomatis baik diakui maupun tidak diakui, percaya atau tidak percaya pada HUKUM KARMA.
Catatan
Type “AMEN ” if JESUS is your HERO
✅๐Want to Help bring GOD into someone’s life?๐
✅ ๐๐ข๐ค๐ this post (it will reach more people)❤️
• Make a friend in the ๐๐จ๐ฆ๐ฆ๐๐ง๐ญ๐ฌ๐ฌ
• ๐๐ก๐๐ซ๐ to your Story or Friends๐ซ Bagikan Artikel Ini❗Agar firman ALLAH Tersiar Keseluruh Dunia
✅Ada Perjamuan Kasih Setelah Ibadah & Temu JODOH ๐๐ฅฐ๐ฌ
• ๐๐ก๐๐ซ๐ to your Friend Lasting Singles๐๐ฅฐ☺๐ค๐คญ๐คซ

Komentar
Posting Komentar