Langsung ke konten utama

2.PEMBAWA SUKU BATAK PERTAMA KALI

Abstrak
BAB 3

Mereka juga mewakili visi dan filosofi hidup masyarakat Batak Toba: Hamoraon (kemakmuran), Hagabeon (kesuburan), dan Hasangapon (kehormatan).
Masyarakat
Batak adalah keturunan orang Proto-Malaya yang kuat yang sampai tahun 1825 hidup dalam isolasi relatif di dataran tinggi di sekitar Danau Toba di Sumatera. Pada abad ke-2 atau ke 3 M ,  gagasan India tentang pemerintahan, tulisan, elemen agama, seni, dan kerajinan mulai mempengaruhi Batak.

Sepasang suami istri Batak, sekitar tahun 1914–1919.
Masyarakat Batak diatur secara patriarki di sepanjang marga yang dikenal sebagai Marga . Keyakinan tradisional di kalangan Batak Toba adalah bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang "Si Raja Batak", dengan semua margas adalah keturunannya. Silsilah keluarga yang mendefinisikan hubungan ayah-anak di antara orang Batak disebut tarombo . 
Masyarakat
Sepasang suami istri Batak, sekitar tahun 1914–1919.
Masyarakat Batak diatur secara patriarki di sepanjang marga yang dikenal sebagai Marga . 

Keyakinan tradisional di kalangan Batak Toba adalah bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang "Si Raja Batak", dengan semua margas adalah keturunannya. Silsilah keluarga yang mendefinisikan hubungan ayah-anak di antara orang Batak disebut tarombo . Di Indonesia kontemporer, orang Batak memiliki fokus yang kuat pada pendidikan dan posisi yang menonjol dalam profesi, terutama sebagai guru, insinyur, dokter, dan pengacara. [13] Batak Toba dikenal secara tradisional dengan tenun , ukiran kayu dan terutama kuburan batu berornamen.
Sebelum menjadi subjek pemerintahan kolonial Hindia Belanda , orang Batak memiliki reputasi sebagai pejuang yang garang. Saat ini orang Batak sebagian besar beragama Kristen dengan minoritas Muslim. Saat ini jemaah Kristen terbesar di Indonesia adalah gereja Kristen HKBP ( Huria Kristen Batak Protestan ). Teologi Kristen yang dominan dibawa oleh misionaris Lutheran Jerman pada abad ke-19, termasuk misionaris terkenal Ludwig Ingwer Nommensen . Agama Kristen diperkenalkan ke Karo oleh misionaris Calvinis Belanda , dan gereja terbesar mereka adalah GBKP ( Gereja Batak Karo Protestan ). ItuMandailing dan Angkola Batak masuk Islam pada awal abad ke-19 pada masa pemerintahan Minangkabaus Padri . [14] Namun, sebagian kecil orang Batak tidak menganut agama Kristen atau Islam, dan mengikuti praktik tradisional yang dikenal sebagai agama si dekah , agama lama, yang juga disebut perbegu atau pemena . [15]
Di Indonesia kontemporer, orang Batak memiliki fokus yang kuat pada pendidikan dan posisi yang menonjol dalam profesi, terutama sebagai guru, insinyur, dokter, dan pengacara. 

[13] Batak Toba dikenal secara tradisional dengan tenun , ukiran kayu dan terutama kuburan batu berornamen.
Sebelum menjadi subjek pemerintahan kolonial Hindia Belanda , orang Batak memiliki reputasi sebagai pejuang yang garang. Saat ini orang Batak sebagian besar beragama Kristen dengan minoritas Muslim. Saat ini jemaah Kristen terbesar di Indonesia adalah gereja Kristen HKBP ( Huria Kristen Batak Protestan ). Teologi Kristen yang dominan dibawa oleh misionaris Lutheran Jerman pada abad ke-19, termasuk misionaris terkenal Ludwig Ingwer Nommensen . Agama Kristen diperkenalkan ke Karo oleh misionaris Calvinis Belanda , dan gereja terbesar mereka adalah GBKP ( Gereja Batak Karo Protestan ). ItuMandailing dan Angkola Batak masuk Islam pada awal abad ke-19 pada masa pemerintahan Minangkabaus Padri . [14] Namun, sebagian kecil orang Batak tidak menganut agama Kristen atau Islam, dan mengikuti praktik tradisional yang dikenal sebagai agama si dekah , agama lama, yang juga disebut perbegu atau pemena . [15]
Halak Batak

Pria dan wanita Batak Toba mengenakan pakaian adat
Total populasi
8.466.969 (sensus 2010) [1]
Wilayah dengan populasi yang signifikan,Prasejarah
Rumah Batak Toba tradisional (lihat arsitektur Batak ).
2)PENEMU SUKU BATAK PERTAMA KALI Bukti linguistik dan Arkeologi menunjukkan bahwa penutur Austronesia pertama kali mencapai Sumatera dari Taiwan dan Filipina melalui Kalimantan atau Jawa sekitar 2.500 tahun yang lalu, dan Batak kemungkinan merupakan keturunan dari para pemukim ini. [6] Meskipun arkeologi Sumatera bagian selatan bersaksi tentang keberadaan para pemukim neolitikum, tampaknya bagian utara Sumatera telah dihuni oleh para petani pada tahap yang jauh lebih belakangan.

2.PEMBAWA AGAMA KRISTEN PERTAMA KALI KEPADA SUKU BATAK 

Orang Batak mempraktikkan agama sinkretis Shaivisme, Budha, dan budaya lokal selama ribuan tahun. Raja Batak terakhir yang berperang dengan gagah berani melawan imperialis Belanda sampai tahun 1905 adalah seorang raja Syariv Indonesia. Batak mungkin disebutkan dalam Deskripsi tentang Masyarakat Barbar abad ke-13 Zhao Rugua ( Zhu Fan Zhi諸蕃 志), yang mengacu pada ketergantungan 'Ba-ta' dari Sriwijaya . The Suma Oriental , dari abad ke-15, juga mengacu pada kerajaan Bata, dibatasi oleh Pasai dan kerajaan Aru .
Berdasarkan bukti ini, orang Batak mungkin terlibat dalam pengadaan komoditas penting untuk perdagangan dengan Cina , mungkin dari abad ke-8 atau ke-9 dan berlanjut selama seribu tahun berikutnya, dengan orang Batak membawa produk di punggung mereka untuk dijual di pelabuhan.
Pelabuhan penting Barus di Tapanuli diduga dihuni oleh orang Batak. [7] Sebuah prasasti Tamil telah ditemukan di Barus yang bertanggal 1088, sementara kontak dengan pedagang Tionghoa dan Tamil terjadi di Kota Cina , sebuah kota perdagangan yang terletak di tempat yang sekarang Medan utara yang didirikan pada abad ke-11, dan terdiri dari 10.000 orang pada abad ke-12. Jenazah Tamil telah ditemukan di jalur perdagangan utama ke tanah Batak.
Peluang perdagangan ini mungkin telah menyebabkan migrasi Batak dari Pakpak dan Toba ke tanah 'perbatasan' Karo dan Simalungun saat ini, di mana mereka terkena pengaruh yang lebih besar dari mengunjungi pedagang Tamil, sementara migrasi Batak ke tanah Angkola-Mandailing mungkin dipicu oleh permintaan masyarakat Sriwijaya pada abad ke-8 akan kamper ,Suku Karo marga atau suku Sembiring "yang berkulit hitam" diyakini berasal dari ikatan mereka dengan pedagang Tamil, dengan sub-marga Sembiring tertentu, yaitu Brahmana, Colia, Pandia, Depari, Meliala, Muham, Pelawi, dan Tekan yang semuanya berasal dari India. Pengaruh Tamil pada praktik keagamaan Karo juga dicatat, dengan ritual kremasi sekunder pekualuh dikhususkan untuk orang Karo dan Dairi. Selain itu, Pustaka Kembaren, cerita asal-usul Sembiring Kembaren menunjukkan adanya keterkaitan dengan Pagarruyung di Dataran Tinggi Minangkabau . [8]
Sejak abad ke-16 dan seterusnya, Aceh meningkatkan produksi lada , komoditas ekspor penting, dengan imbalan beras, yang tumbuh subur di lahan basah Batak. Orang Batak di berbagai daerah membudidayakan sawah (sawah) atau ladang (padi kering), dan Batak Toba, yang paling ahli di bidang pertanian, pasti telah bermigrasi untuk memenuhi permintaan di daerah baru. Semakin pentingnya beras memiliki makna religius, yang meningkatkan kekuatan para pendeta Batak, yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan keberhasilan Latar Belakang 

Saat Lelaki Batak Mempersunting Perempuan Non-Batak


Suku Batak dikenal memiliki tata cara adat yang tergolong rumit. Selalu ada prosesi adat yang wajib dilewati warga Batak sejak ia dilahirkan, dibaptis (bagi Kristen), menikah, hingga pada saat kematian. Itulah mengapa orang Batak juga dikenal memiliki tali kekerabatan yang cukup erat, sebab sejak lahir sudah terikat dengan adat.
Namun dalam perkembangan zaman, orang Batak tak melulu hanya menikah dengan sesama bangsanya sendiri (endogami). Batak sejak berdiaspora ke penjuru Nusantara maupun mancanegara juga mengenal pernikahan antar suku atau bahkan antar ras (heksogami).
Bagaimana jika lelaki Batak ingin mempersunting seorang perempuan di luar suku Batak? Di sinilah uniknya. Meski Batak dikenal ketat soal adat, tetapi boleh juga lentur dalam situasi tertentu. Lalu lahirlah prosesi adat yang disebut dengan "Mangain" atau mengesahkan sebuah marga kepada wanita calon mempelai.
Secara singkat, mangain atau pengesahan marga kepada calon mempelai merupakan tahap pertama yang wajib dilewati hingga secara sah menikah dalam adat Batak. Tak perlu khawatir, walau diresmikan sebagai warga baru Batak, bukan berarti calon mempelai kehilangan asal-usul nenek moyangnya.
Namun dengan pemberian marga baru tersebut, calon mempelai secara sah telah menjadi bagian dari keluarga besar Batak. Itu berarti, bentuk perkawinan yang sebelumnya menganut heksogami kini telah dikembalikan lagi ke endogami. Dengan begitu, tidak ada lagi kendala saat menggelar tahapan adat berikutnya.
Untuk memudahkan pemahaman tentang "mangain", mari simak kisah berikut ini:
Ucok Lubis ingin menikah dengan perempuan non Batak, anggaplah Mbak Ayu dari Grobogan, Jawa Tengah. Maka orangtua Ucok wajib memberikan marga terlebih dahulu kepada calon menantunya, Mbak Ayu. Oh ya, penyebutan "marga" dalam Batak selalu merujuk kepada laki-laki, sementara bagi perempuan disebut dengan "boru". Boru dalam bahasa Indonesia adalah anak perempuan.
Kemudian, Mbak Ayu bakal diresmikan menjadi boru apa dong? Secara umum, boru Mbak Ayu akan disamakan ibunda Ucok. Misalnya, ibunda Ucok adalah boru Pardosi maka Mbak Ayu akan diresmikan juga sebagai boru Pardosi. Mbak Ayu inilah yang disebut dengan "Pariban" yaitu anak perempuan dari saudara laki-laki ibu.
Karena orangtua Mbak Ayu sama sekali tidak memahami adat Batak, maka yang mengambil-alih seluruh proses mangain adalah saudara laki-laki ibunda Ucok. Sekaligus, saudara laki-laki ibunda Ucok itulah yang menjadi orangtua baru atau kedua bagi Mbak Ayu. Singkat kata, Mbak Ayu kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Pardosi.
Adapun para pihak yang wajib hadir dalam prosesi mangain adalah saudara satu marga Ucok, saudara satu marga Mbak Ayu (Pardosi), saudara laki-laki dari ibunda (kedua) Mbak Ayu, misalnya marga Sitorus, serta dongan sahuta (teman satu kampung/satu wilayah bila di perkotaan) keluarga Ucok dan keluarga Mbak Ayu.
Satu lagi, proses mangain tersebut wajib digelar di kediaman pihak Pardosi atau di tempat lain yang disepakati kedua belah pihak. Namun yang menjadi tuan rumah dalam acara tersebut adalah Pardosi atau keluarga dari Mbak Ayu.
 proses adat mangain berikut ini:




Mangain Marga, 

Mungkin adat ini lebih sering dilakukan di jaman modern ini dimana banyak orang Batak yang menikah dengan pasangan beda suku,walau sebenarnya adat ini sudah ada lama di budaya Batak dan bukan sekedar untuk memberi embel-embel marga dibelakang nama seseorang. Jika sesama orang Batak bertemu dengan orang Batak lainnya ungkapan “jolo sinungkun marga asa binoto partuturan”, yang maksudnya adalah tanya dulu marga supaya paham bersilsilah(keluarga).
Salah satu umpama Batak menyebutkan “Asa dos nangkokna dos nang tuatna. Molo hita manjalo adat, laos hita do manggarar adat i. Hot pe jabu i, ala hot margulang-gulang, Manang sian dia pe bere i mangalap boru, Sai hot do i boru ni Tulang, Sinuan bulu sibahen na las, Sinuan partuturan sibahen na gabe jala horas.” yang kurang lebih artinya jika kita menerima adat kita harus membayar adat tesebut, dan darimana pun bere mendapat boru (pasangannya), boru itu tetap borunya Tulang. Dan disitulah pentingnya memberi marga kepada siapapun yang akan menerima adat Batak.
Adat Batak adalah adat yang sopan dan cukup kompleks serta tidak asal-asalan sehingga orang Batak tidak asal-asalan dalam memberian marganya kepada orang lain. Sehingga penulis sendiri juga tidak terima jika adat ini disebut orang dengan adat membeli marga.
Mangain atau mangampu (mengangkat) seseorang menjadi anak/boru nya atau memberi marga/boru kepada seseorang yang berasal dari suku lain, entah Jawa, Sunda, Ambon bahkan orang asing.
Ini sangat penting dan bukan sekedar formalitas agar seorang dapat menikah dengan orang Batak, melainkan pentingnya melestarikan adat Batak bahwa hanya orang Batak yang dapat menjalankan adat Batak.
Adat Mangain marga dapat dilakukan terhadap laki-laki (Mangain anak) maupun terhadap perempuan (Mangain boru). Untuk mangain anak marga yang diambil adalah marga amangboru dari perempuan yang akan dinikahinya. Sedangkan untuk mangain boru, marga yang akan diberikan kepada perempuan adalah marga Tulang(saudara laki-laki ibu) dari si laki-laki.
Adat Mangain merupakan dengan prosesi dimana sekeluarga mendatangi hula-hula, membawa makanan khas Pinahan Lobu (daging babi), kemudian meminta agar parumaen yang sudah bersama anak laki2nya diampu oleh Hula-hula. Sedikit uang atau piso-piso atau pasituak natonggi dibagikan kepada pihak hula-hula. Beres sudah Parumaen Boru Jawa itu sudah dianggap syah menjadi boru dari keluarga yang mangampu.
Tapi apakah adat mangain hanya sesimpel itu?
Sebelumnya kita harus tahu kalau setiap adat batak harus dihadiri oleh unsur Dalihan natolu yaitu Dongan tubu, Boru, Hulahula ditambah satu lagi yaitu dongan sahuta (orang sekampung) dan harus melalui pembicaraan serta kesepakatan oleh kedua belah pihak. Umpama yang sering diucapkan seperti:
Bonang sada hulhulan
Hori sada simbolan
Tangkas masisungkunan
Unang adong masisolsolan
Yang kurang lebih artinya agar jelas dalam bertanya atau bermufakat agar tidak ada penyesalan.
Berikut secara ringkas saya tuliskan urutan acara dalam adat Mangain:
1. Natorasna (Orangtua):
a. Marmeme anak baoa/anak boru disulanghon tolu hali (menyuapkan makanan sebanyak 3 kali)
Indahan (nasi)
Dengke (ikan: biasanya ikan mas)
Mual sitiotio (air: sitiotio/air jernih dari mata air)
b. Pasahat Ulos (menyampaikan ulos)
c Pasahat parbue gabe
2. Hulahula (pihak tulang/ ito/saudara laki-laki mama)
a. Pasahat dengke (menyampaikan/memberikan ikan)
b. Pasahat ulos (menyampaian ulos)
c. Pasahat parbue gabe
3. Marsipanganon (makan bersama)
4. Pasahat upa panggabei (hepeng/uang)
a. Dongan tubu
b. Boru, bere
c. Dongan sahuta, aleale (teman sekampung)
5. Pasahat pisopiso (hepeng) tu hulahula dohot uduranna (memberikan uang kepada pihak Tulang)
6. Marhata gabe horas, manggabei ma angka raja
7. Mangampu hasuhuton
8. Dipasahat ma tu hulahula asa diujungi dohot ende/tangiang
Berikut adalah sejarah beberapa orang/tokoh yang telah menerima adat Mangain:
Edward M Bruner, seorang peneliti antropologi dari Amerika Serikat. Saat melakukan penelitian di Desa Meat, Balige, Kabupaten Toba-Samosir (1957-1958) bersama istrinya, menunggangi​mamampehon marga, agar dia diterima masyarakat dan penelitiannya berhasil. Mantan bupati Tapanuli Utara SM Simandjuntak yang memberikan marga Simanjuntak pada istri Bruner, yang bernama Elaine C. Bruner. Karena pemberian marga itu, maka Bruner berhak tinggal di kampung Simanjuntak. Proses ini disebut sebagai sonduk hela.
Demikian pula pemberian marga pada Prof Dr Susan Rodgers, mahaguru sosiologi dan antropologi dari Amerika Serikat. Pemberian marga Siregar di daerah Sipirok pada tahun tujuh puluhan itu tenyata sangat mengesankan bagi dia, terbukti dengan pencantuman marga Siregar dalam tulisan-tulisan ilmiahnya.

Tahun 1981, di Desa Tanobato, Mandailing, Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, juga diberi marga Nasution dan gelar Sutan Iskandar Muda oleh masyarakat Mandailing. 

Pemberian marga tersebut terkait perannya memajukan pendidikan di Mandailing, dengan membangun SMA Negeri Tanobato di bekas Kweek school 


Batak sebagian besar beragama Kristen dengan minoritas Muslim. Saat ini jemaah Kristen terbesar di Indonesia adalah gereja Kristen HKBP ( Huria Kristen Batak Protestan ). Teologi Kristen yang dominan dibawa oleh misionaris Lutheran Jerman pada abad ke-19, termasuk misionaris terkenal Ludwig Ingwer Nommensen . Agama Kristen diperkenalkan ke Karo oleh misionaris Calvinis Belanda , dan gereja terbesar mereka adalah GBKP ( Gereja Batak Karo Protestan ). ItuMandailing dan Angkola Batak masuk Islam pada awal abad ke-19 pada masa pemerintahan Minangkabaus Padri . [14] Namun, sebagian kecil orang Batak tidak menganut agama Kristen atau Islam, dan mengikuti praktik tradisional yang dikenal sebagai agama si dekah , agama lama, yang juga disebut perbegu atau pemena . [15]

Ludwig Ingwer Nommensen
misionaris Jerman
Ludwig Ingwer Nommensen (di daerah Batak dikenal sebagai Ingwer Ludwig Nommensen atau I.L. Nommensen; lahir di NordstrandDenmark (kini Jerman), 6 Februari 1834 – meninggal di Sigumpar, Toba Samosir23 Mei1918 pada umur 84 tahun) adalah seorang penyebar agama Kristen Protestan di antara suku BatakSumatra Utara.[1] yang berasal dari Jerman, tetapi lebih dikenal di Indonesia.[1] Hasil dari pekerjaannya ialah berdirinya sebuah gereja terbesar di tengah-tengah suku bangsa Batak Toba yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).[1]
Ludwig Ingwer Nommensen
Biografi sebagai penginjil
Masa kecil Ludwig Ingwer Nommensen
Nommensen berasal dari Pulau Noordstrand di Schleswig, yang pada waktu itu merupakan wilayah Denmark.[1] Keluarganya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, sehingga sejak kecil, Nommensen terbiasa hidup dalam kondisi yang demikian.[1][2][3] Maka dari itu, sejak kecil, ia sudah mencari nafkah untuk membantu orangtuanya.[1][2] Ketika berumur 7 tahun, Nommensen memilih menggembalakan angsa daripada duduk di bangku sekolah.[4] Pada umur 8 tahun, ia mulai mencari nafkah untuk membantu orang tuanya dengan cara menggembalakan domba.[1][4] Pada usia 9 tahun, ia belajar menjadi tukang atap.[1][4] Lalu, pada usia 10 tahun, ia bekerja pada seorang petani yang kaya sambil belajar mengerjakan tanah.[3] Ia juga bekerja menuntun kuda yang menarik bajak untuk membajak tanah petani kaya tersebut.[3]
Pada tahun 1846, saat berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan.[1][3] Sewaktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, ia ditabrak kereta kuda yang menggilas kakinya sampai patah dan keadaan yang demikian memaksanya berbaring di tempat tidur berbulan-bulan lamanya.[1] Waktu itu, dalam doanya, Nommensen meminta kesembuhan dan berjanji, jika ia disembuhkan, maka ia akan memberitakan injil kepada orang kafir.[1][5] Setelah kakinya sembuh, Nommensen kembali menjadi buruh tani untuk membantu keluarganya setelah kematian ayahnya.[6]
Pendidikan dan misi
Pada usia 20 tahun, Nommensen berangkat ke Barmen (sekarang Wuppertal) untuk melamar menjadi penginjil.[1][5] Selama empat tahun ia belajar di seminari zending Lutheran Rheinische Missionsgesellschaft (RMG).[1][5] Sesudah lulus, ia kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1861.[1] Ia ditugaskan oleh RMG ke Sumatra dan tiba pada tanggal 14 Mei 1862 di Padang.[1] Ia memulai misinya di Barus dengan harapan akan mendapatkan izin untuk menetap di daerah Toba.[5] Namun, pemerintah kolonial tidak mengizinkan dengan alasan keamanan.[7] Oleh sebab itu, ia bergabung dengan penginjil-penginjil lain yaitu misionaris Pdt. Heyni dan Pdt. Klammer yang telah berada di daerah Sipirok yang setelah Perang Padri dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda.[7] Di situ, sebagian dari penduduk sudah memeluk agama Islam sehingga kemajuannya lambat.[7] Setelah berdiskusi dengan kedua misionaris ini, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nommensen akan bekerja di Silindung.
Kunjungan pertama ke Tarutung dilakukan pada 11 November 1863. Pada kunjungan pertama ini, Nommensen diterima oleh Ompu Pasang (Ompu Tunggul) kemudian tinggal di rumahnya yang daerahnya masuk dalam kekuasaan Raja Pontas Lumban Tobing. Dari sini Nommensen kemudian kembali ke Sipirok untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelayanannya.
Pada pertengahan tahun berikutnya, 1864, Nommensen dengan membawa semua perlengkapannya berangkat kembali ke Tarutung, dan tiba di Tarutung pada tanggal 7 Mei 1864. Nommensen kembali ke rumah Ompu Pasang (Ompu Tunggul), tetapi dia ditolak. Di Onan Sitahuru, Nomensen duduk dan merenung di bawah sebatang pohon beringin (hariara) untuk memikirkan apa yang akan dia perbuat. Nommensen lalu pergi ke desa lain dan sampai ke di desa Raja Aman Dari Lumban Tobing. Nommensen berharap Raja Aman Dari Lumbantobing dapat mengizinkannya tinggal di atas lumbung padinya. Akan tetapi Raja Aman Lumbantobing sedang pergi ke desa lain membawa isterinya yang sedang sakit keras. Melalui seorang utusan, Nommensen menyampaikan niatnya ini kepada Raja Aman Lumbantobing, akan tetapi Raja Aman Lumbantobing menolak. Nommensen kemudian meminta utusannya ini untuk kembali menemui Raja Aman Lumbantobing untuk kedua kalinya dengan pesan, “bahwa sekembalinya Raja Aman ke desanya, penyakit istrinya akan hilang”. Raja Aman kemudian berkata, apabila perkataan Nomensen itu benar, maka dia akan mengizinkan Nomensen tinggal di rumahnya. Penyakit istri Raja Aman sembuh. Raja Aman Lumbantobing kemudian mengizinkan Nommensen tinggal di rumahnya.
Akan tetapi, pada mulanya Raja Pontas Lumban Tobing tidak mau menerima Nommensen. Dia berusaha memengaruhi Raja-Raja di Silindung supaya menolak Nommensen. Sebaliknya, Raja Aman Dari Lumban Tobing, juga berusaha mempengaruhi Raja-Raja di Silindung untuk menerimanya. Sehingga masyarakat di sekitar Silindung terbagi dua dalam hal penerimaan terhadap Nommensen. Walaupun masyarakat Silindung terbagi dua (ada yang menerima dan ada yang menolak Nommensen), Nommensen tetap berada di Tarutung dan memulai pelayanannya mengabarkan Injil.
Satu tahun kemudian, 27 Agustus 1865, Nommensen dapat melakukan pembaptisan pertama kepada satu orang Batak. Bahkan di kemudian hari, Raja Pontas Lumban Tobing yang dulunya menolak Nommensen, meminta supaya dia dan keluarganya dibaptis. Pada saat itu juga Raja Pontas meminta supaya Nommensen pindah dari Huta Dame ke Pearaja. Setelah Raja Pontas dan keluarganya masuk Kristen, masyarakat Silindung makin banyak masuk Kristen.
Sejalan dengan pertumbuhan Gereja di Silindung, Nommensen membuka Sekolah Guru di Pansur Napitu. Lulusan sekolah ini dijadikan menjadi guru Injil dan Guru Sekolah. Di kemudian hari, sekolah ini dipindahkan ke Sipaholon. Kemudian, Nommensen membuka pos Penginjilan baru di Sigumpar. Dari sanalah dia menyebarkan Injil bersama para pembantunya ke seluruh Toba Holbung dan Samosir.
Ketika diberi izin oleh pemerintah kolonial, maka RMG menunjuk Nommensen untuk membuka pos zending baru di Silindung.[7] Kehadiran zending ditantang oleh sebagian raja dan juga oleh sebagian besar penduduk karena mereka takut akan terkena bencana jika menyambut seorang asing yang tidak memelihara adat.[5] Selain itu, sikap menolak para raja disebabkan pula oleh kekhawatiran bahwa dengan kedatangan orang-orang kulit putih ini menjadi perintis jalan bagi pemerintahan Belanda yang berkuasa pada waktu itu.[5] Sekalipun demikian, Nommensen berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (terjemahan dari Yerusalem - Kampung Damai).[1] Pada tahun 1873, ia mendirikan gedung gereja, sekolah, dan rumahnya di Pearaja dan hingga kini, Pearaja tetap menjadi pusat Gereja HKBP.[1]
Para Raja di Tanah Batak, 1890
Karena kehadiran para misionaris tidak disetujui oleh sebagian raja, terutama oleh mereka yang berpihak pada Si Singamangaraja XII, maka pada bulan Januari 1878Singamangaraja sebagai raja yang, menurut pengakuannya sendiri, memiliki kedaulatan atas Silindung, memberi ultimatum kepada para zendeling RMG untuk segera meninggalkan Silindung.[4] Pada akhir Januari, Nommensen meminta kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengirim tentara untuk segera menaklukkan Tanah Batak yang pada saat itu masih merdeka.[4] Pada awal tahun 1878, pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevell menuju Pearaja dan disambut oleh Nommensen. Antara Februari hingga Maret, 380 pasukan tambahan dan 100 narapidana didatangkan dari SibolgaFebruari 1878, ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai.[8] Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda selama ekspedisi militer yang dikenal sebagai Perang Toba I.[8] Keduanya menjadi penunjuk jalan dan penerjemah, serta malah dianggap ikut berperan dalam menentukan kampung-kampung mana yang akan dibakar. Sesudah ekspedisi militer berakhir, puluhan kampung, termasuk markas Singamangaraja di Bangkara dibumihanguskan. Atas jasa membantu pemerintah Belanda, pada 27 Desember 1878, Nommensen dan Simoneit menerima surat penghargaan dari pemerintah Belanda, ditambah uang tunai sebanyak 1000 gulden.[4]
Setelah Silindung dan Toba ditaklukkan dalam Perang Toba IBatakmission (zending Batak) mengalami kemajuan dengan pesat, khususnya di daerah Utara.[4] Nommensen berhasil meyakinkan ratusan raja untuk berhenti mengadakan perlawanan.[4] Tentunya, hal ini dapat terjadi setelah Nomensen meyakinkan kembali masyarakat bahwa ia bukan kaki tangan Belanda dan kedatangannya untuk membawa kebaikan.[7] Hal ini tampak dalam tindakan keseharian Nommensen bagi orang-orang Batak waktu itu.[7] Contoh beberapa raja yang akhirnya bersikap positif ialah Raja Pontas Lumbantobing (Sipahutar), Ompu Hatobung (di Pansur Napitu), Kali Bonar (di Pahae), Ompu Batu Tahan (di Balige), dan lainnya.[7] Pada tahun 1881, Nommensen memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, dan ia tinggal di sana sampai akhir hayatnya.[9] Pada tahun kematiannya, Batakmission (cikal bakal Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) mencatat jumlah orang Batak yang dibaptis telah mencapai 180.000 orang.[4]
kompleks zending di Pearaja beserta dengan sekolah, gereja, dan rumah sakit
Untuk menjaga tatanan hidup dari ribuan orang yang baru masuk menjadi Kristen, Nommensen menyediakan bagi mereka suatu tatanan yang baru.[5] Pada tahun 1866, ditetapkanlah sebuah Aturan Jemaat.[5] Aturan itu meliputi kehidupan orang Kristen di dalam jemaat maupun dalam lingkungan keluarga menyangkut ibadah, perkawinan, hukum, dan pejabat gerejawi.[5] Di samping itu, Nommensen menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak.[1] Ia menerbitkan cerita-cerita Batak dan menerbitkan cerita-cerita PL.[1][9] Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, dan menebus hamba-hamba dari tuannya.[1] Jasa Nommensen juga dikenang oleh orang Batak antara lain karena usahanya di bidang pendidikan dengan membuka sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi.[1] Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah, RMG bersama Nommensen membuka pendidikan guru.[1]
Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan, maka pimpinan RMG, pada tahun 1881,mengangkat Nommensen sebagai Ephorus.[5] Jabatan ini diembannya sampai akhir hidupnya.[1][5] Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Nommensen mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Bonn.[1][4] Pada tahun 1911, ia memperoleh penghargaan Kerajaan Belanda dengan diangkat sebagai Officier in de Orde van Oranje-Nassau.[4] Ia pun akhirnya mendapat gelar sebagai Rasul Orang Batak.[1]
Kematian
Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei1918, pada umur 84 tahun.[1] Nommensen kemudian dimakamkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku Batak, setelah bekerja demi suku ini selama 57 tahun lamanya.[1]
Strategi penginjilan di Tanah Batak
Strategi misi yang dikembangkan Nommensen ialah mengubah strategi penginjilan awal yang menekankan konversi perorangan dengan mengembangkan strategi yang menekankan konversi kelompok baik keluarga (mencakup keseluruhan anggota keluarga sebagai satu kesatuan) maupun keseluruhan komunitas kepada iman Kristen.[2] Untuk mewujudkan hal itu, Nommensen membuka pos penginjilan (Missionsstation) baru (termasuk sekolah) dengan tujuan menjalin hubungan baik dengan pemuka raja-raja setempat.[7] Para raja inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya usaha misi karena mereka merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di tengah-tengah masyarakatnya.[7]
Pranala luar


Kenapa Orang Batak  menjunjung tinggi Marga? 
Berikut Alasan nya ada beberapa alasan mengapa orang Batak sangat bangga dengan nama marga mereka.
Nama keluarga adalah identitas. Sampai-sampai kalau ketemu orang baru pasti yang ditanyakan bukan nama, tapi nama keluarga. 
Setiap kenalan  ,  mereka akan menanyakan marga,
Jika nama belakang sama dengan keluarga Anda, persaudaraan akan segera terbentuk.
  • Nama marga merupakan aset luar yang bisa membuka jalan untuk berkarir. Sebab, setiap marga memiliki asalnya. Klan ini terkait dengan Martarombo (mencari asal muasal dan hubungan marga).
  • Sekarang, jika Anda memahami dengan baik asal usul keluarga Anda, Anda telah mempelajari sejarah yang berharga. Sejarah asal Anda dan keluarga Anda. Inilah yang tidak pernah diajarkan di sekolah manapun.
  • Dengan menggunakan nama belakang nama Anda, Anda akan mudah dikenali oleh orang lain, jika Anda adalah orang Batak.
  • Anda membawa nama klan Anda ke mana-mana. Dengan begitu nama-nama petinggi menjadi pagar bagi Anda untuk selalu bersikap, berbudi luhur dan toleran satu sama lain. Anda tidak dapat melakukan kejahatan atas nama apapun, karena Anda harus melindungi martabat keluarga Anda.
  • Selain itu, jika Anda menggunakan klan, maka Anda menghilang di suatu tempat selama beberapa dekade, Anda masih akan ditemukan. Marga berhasil menyatukan kembali keluarga yang terpisah.
  • Keluarga Anda tidak akan pernah menurunkan pangkat Anda. Anda yang memiliki nama yang sama dengan orang sukses akan menyemangati hidup Anda.
  • Anda bisa mempertimbangkan orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Anda. Tapi satu marga, artinya satu keluarga. Anda adalah saudara laki-laki. Jangan pedulikan nenek yang berbeda, kakek, atau tidak satu darah, Anda tetap satu keluarga.
  • Prosesi Pernikahan Adat Batak 

    Sudah siap dengan tahapannya?

    Pernikahan adat yang dilaksanakan dengan adat Batak adalah pernikahan yang sering menjadi dibicarakan karena prosesnya yang cukup panjang. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi kalau pernikahannya akan melaksanakan banyak ritual. Memang apa saja sih prosesi pernikahan adat Batak? Yuk kita simak hal apa saja yang dilakukan untuk melaksanakan pernikahannya.

    1. Mangaririt

    Persiapan pernikahan dalam tahap ini adalah tahap memilih gadis yang akan dijadikan istri yang sesuai dengan kriteria laki-laki atau keluarganya. Biasanya ritual ini dilakukan kalau calon mempelai laki-laki adalah seseorang yang sering merantau, sehingga calon laki-laki nggak sempat untuk mencari pasangannya sendiri.

    dok.internet

    2. Mangalehon Tanda

    Mangalehon tanda maknanya memberi tanda apabila laki-laki telah menemukan perempuan sebagai calon istrinya, kemudian keduanya saling memberikan tanda. Laki-laki biasanya memberikan uang kepada perempuan sedangkan perempuan menyerahkan kain sarung kepada laki-laki, setelah itu maka laki-laki dan perempuan tersebut telah terikat satu sama lain. Laki-laki lalu memberitahukan hal tersebut kepada orangtuanya, lalu orangtua laki-laki akan menyuruh perantara atau domu-domu yang telah mengikat janji dengan putrinya.

    3. Marhusip

    Marhusip dapat diartikan sebagai berbisik, artinya adalah sebuah pembicaraan yang bersifat rahasia atau disebut juga sebagai perundingan antara utusan calon pengantin laki-laki dengan wakil dari calon pengantin perempuan. Biasanya didiskusikan tentang mas kawin yang tidak boleh diketahui secara umum karena dikhawatirkan akan terjadi kegagalan dari acara ini.

    4. Martumpol

    Advertising
    Advertising

    Martumpol bagi orang Batak Toba bisa disebut juga sebagai acara pertunangan tetapi secara harfiah martumpol merupakan acara kedua pengantin di hadapan pengurus jemaat gereja diikat dalam janji untuk melangsungkan pernikahan. Upacara adat ini diikuti oleh orangtua kedua calon pengantin dan keluarga mereka beserta para undangan yang biasanya diadakan di dalam gereja, karena yang mengadakan acara martumpol ini kebanyakan adalah masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen.

    5. Marhata Sinamot

    Marhata sinamot adalah pembicaraan tentang sinamot dari pihak laki-laki, hewan apa yang akan disembelih, berapa banyak jumlah ulos, jumlah undangan, dan di mana upacara perkawinan akan dilaksanakan. Acara ini disebut juga sebagai acara perkenalan resmi kedua belah pihak keluarga.

    dok.internet

    6. Martonggo Raja

    Tata cara pernikahan adat Batak selanjutnya adalah tahap ini. Martonggo raja adalah acara untuk mengumpulkan semua anggota keluarga karena pada adat Batak acara pernikahan adalah urusan semua keluarga sehingga harus dikumpulkan semua keluarga untuk upacara.

    7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason

    Pemberkatan pernikahan kedua pengantin dilaksanakan di gereja oleh pendeta. Setelah pemberkatan pernikahan selesai, maka kedua pengantin telah sah menjadi suami istri menurut gereja. Setelah pemberkatan dari gereja selesai, lalu kedua belah pihak pulang ke rumah untuk mengadakan upacara adat Batak di mana acara ini dihadiri oleh seluruh undangan dari pihak laki-laki dan perempuan.

    dok.internet

    8. Marunjuk / Alaon Unjuk

    Tak hanya pemberkatan dari gereja, kedua mempelai harus memperoleh pemberkatan dari seluruh keluarga terutama orangtua. Disampaikan doa-doa sembari ditandakan dengan pemberian ulos. Kemudian ada pula pembagian jambar.

    Jambar dibagikan ke pihak perempuan adalah daging (jambar juhut) dan uang (tuhor ni boru), sementara pihak laki-laki menerima ikan masa arsik (dengke) dan ulos. Setelah pesta unjuk selesai, pengantin perempuan dibawa ke kediaman paranak.

    9. Dialap Jual

    Dialap jual artinya jika pesta pernikahan diselenggarakan di rumah pengantin perempuan, maka dilaksanakanlah acara membawa pengantin perempuan ke tempat mempelai laki-laki.

    10. Ditaruhon Jual

    Jika pesta pernikahan diselenggarakan di rumah pengantin laki-laki, maka pengantin perempuan dibolehkan pulang ke tempat orangtuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namboru-nya. Dalam hal ini paranak wajib mengasih upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upah manaru tidak diberlakukan.

    11. Paulak Une

    Pada acara ini disebut juga sebagai acara untuk saling berkunjung antara kedua belah pihak keluarga. Kunjungan ini berselang beberapa hari setelah upacara perkawinan dilaksanakan. Biasanya pihak pengantin akan mengunjungi rumah keluarga laki-laki terlebih dahulu kemudian mengunjungi keluarga lain dari pihak perempuan.

    11. Manjae

    Setelah beberapa lama pengantin laki-laki dan perempuan menjalani hidup berumah tangga (kalau laki-laki tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan di-pajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian. Biasanya kalau anak paling bungsu mewarisi rumah orangtuanya.

    13. Maningkir Tangga

    Setelah acara kunjungan ke rumah pihak laki-laki, kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi pengantin di rumah laki-laki yang disebut juga dengan acara maningkir tangga.

    dok.internet

    Begitulah prosesi pernikahan adat Batak yang bisa kamu ketahui. Cukup panjang ya, 

    Pernikahan adat Batak Toba
    Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
    Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
    Pernikahan adat Batak Toba adalah salah satu upacara ritual adat Batak Toba. Dalam adat Batak Toba, penyatuan dua orang dari anggota masyarakat melalui perkawinan tak bisa dilepaskan dari kepentingan kelompok masyarakat bersangkutan. Demikianlah keseluruhan rangkaian ritus perkawinan adat Batak-Toba mengiyakan pentingnya peran masyarakat, bahkan ia tak dapat dipisahkan dari peran masyarakat itu sendiri.
    Ritus Perkawinan Adat Batak Toba
    oleh: Lusius Sinurat. Inkulturasi Ritus Perkawinan Adat Batak Toba, Bandung: 2005 ~~~
    Ritus Secara umum
    Dalam adat Batak Toba, upacara perkawinan didahului oleh upacara pertunangan. Upacara ini bersifat khusus dan otonom; diakhiri dengan tata cara yang menjamin, baik awal penyatuan kedua calon pengantin ke dalam lingkungan baru, maupun perpisahan dan peralihan dari masa peralihan tetap, sebagaimana akan diteguhkan dalam upacara perkawinan. Dengan demikian, tata upacara perkawinan terdiri dari “tata cara penyatuan tetap atau permanen” ke dalam lingkungan (sosial) baru, dan tata cara penyatuan yang bersifat personal.[1]
    Berdasarkan jenisnya ritus atau tata cara yang digunakan, perkawinan adat Bata Toba dibagi menjadi 3 (tiga) tingkatan:
    • Unjuk: ritus perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan semua prosedur adat Batak Dalihan Na Tolu. Inilah yang disebut sebagai tata upacara ritus perkawinan biasa (unjuk);
    • Mangadati: ritus perkawinan yang dilaksanakan tidak berdasarkan adat Batak Dalihan Na Tolu, sehingga pasangan yang bersangkutan mangalua atau kawin lari, tetapi ritusnya sendiri dilakukan sebelum pasangan tersebut memiliki anak; dan
    • Pasahat sulang-sulang ni pahoppu : ritus perkawinan yang dilakukan di luar adat Batak Dalihan Na Tolu, sehingga pasangan bersangkutan mangalua dan ritusnya diadakan setelah memiliki anak. ~~~
    Fungsi dan Peran
    Kompleksitas upacara perkawinan adat Batak Toba meliputi peran subyek dan objek yang terlibat di dalamnya. Menurut Arnold van Gennep [2], kompleksitas upacara perkawinan dapat dijelaskan dalam 5 (lima) pokok permasalahan: dua jenis yang berbeda, garis keturunan, keluarga, suku, dan tempat tinggal, yakni:
    “The collectivities in question are: the two sex groups, sometimes represented by the ushers and bridesmaids, or by the male relatives on one hand and the female relatives on the other; patrilineal or matrilineal descent groups; the families of each spouse in the usual sense of the word, and sometimes families broadly speaking, including all relatives; groups such as a totem clan, fraternity, age group, community of the faithful, occupational association, or caste to which one or both of the young people, their mothers and fathers, or all their relatives belong; the local group (hamlet, village, quarter of a city, plantation,etc).
    Uniknya, dalam ritus perkawinan adat Batak Toba, selain kedua mempelai juga dilibatkan seluruh perangkat masyarakat. Perbedaannya, peran-peran dalam rangkaian upacara perkawinan adat Batak Toba selalu terkait dengan tiga kedudukan utama dalam adat: dongan-sabutuha / dongan-tubu, hulahula, dan boru. ~~~
    Pertukaran Prestasi
    Selain pentingnya inisiasi (masa peralihan) dan peran-peran yang terlibat, perkawinan juga menyangkut aspek ekonomi dengan segala macam kepentingan di dalamnya, termasuk dalam hal perencanaan pesta perkawinan yang akan dilaksanakan. Peranan dasar aspek ekonomi ini, misalnya, tampak jelas dalam menetapkan jumlah uang, pembayaran, pengembalian pembayaran: harga pengantin (sinamot), pembayaran para pelayanan pengantin selama upacara perkawinan berlangsung, dan seterusnya.
    Konsep “pembayaran” dalam perkawinan adapt mencakup “pembayaran” oleh pihak pengantin laki-laki atau kerabatnya kepada ayah atau pemelihara pengantin wanita. Pembayaran ini bahkan merupakan bagian utama dari pengesahan perkawinan menurut adat Batak Toba. Bila pertukaran ini sudah sudah terpenuhi, maka perkawinan itu menjadi sah dan keluarga yang baru itu sudah mandiri; dan bila sebaliknya yang terjadi, maka pengantin pria harus membaktikan diri untuk keluarga wanita sampai tuntutan nikah ini terpenuhi (dapat dibandingkan dalam Alkitab tentang Kisah Yakub dan Rahel dalam Kejadian 29:20). Artinya, pengesahan suatu perkawinan mencakup seluruh rangkaian “prestasi”: suatu tindakan membayar apa yang dituntut adat / tuntutan adat untuk membayar sesuatu yang berasal dari usaha atau kemampuan seseorang.
    Pertimbangannya adalah jika keluarga, desa, atau suku tertentu kehilangan anggota-anggotanya yang produktif (laki-laki atau perempuan yang akan menikah), sedikitnya haruslah memperoleh “imbalan” dari pihak yang “mendapatkan” mereka. Dalam upacara perkawinan adapt Batak Toba, hal ini dijelaskan dalam tindakan simbolik pembagian makanan, pakaian, perhiasan, dan diatas semuanya itu banyak tata cara yang mencakup “uang tebusan”.
    “Tebusan-tebusan” ini selalu terjadi pada waktu bersamaan dengan upacara-upacara perpisahan. Harga mempelai wanita, menurut hukum adat, dimiliki oleh anak perempuan; dan kesepakatan itu ditinjau dari makan bersama, saling mengunjungi di antara keluarga-keluarga, pertukaran hadiah-hadiah yang diberikan oleh para kerabat, sahabat, dan tetangga. ~~~
    Ciri-ciri Perkawinan Batak Toba
    Eksogami
    Proses perkawinan dalam adat kebudayaan Batak Toba menganut hukum eksogami (perkawinan di luar kelompok suku tertentu). Ini terlihat dalam kenyataan bahwa dalam masyarakat Batak Toba: orang tidak mengambil isteri dari kalangan kelompok marga sendiri (namariboto), perempuan meninggalkan kelompoknya dan pindah ke kelompok suami, dan bersifat patrilineal, dengan tujuan untuk melestarikan galur suami di dalam garis lelaki. Hak tanah, milik, nama, dan jabatan hanya dapat diwarisi oleh garis laki-laki.
    Ada 2 (dua) ciri utama perkawinan ideal dalam masyarakat Batak-Toba, yakni
    1. Berdasarkan rongkap ni tondi (jodoh) dari kedua mempelai; dan
    2. Mengandaikan kedua mempelai memiliki rongkap ni gabe (kebahagiaan, kesejahteraan), dan demikian mereka akan dikaruniai banyak anak.
    Sementara ketidakrukunan antara suami-isteri terjadi apabila tondi mereka tidak bisa lagi hidup rukun (so olo marrongkap tondina) dan itu akan tampak di kemudian hari. Ketidakrukunan ini mungkin akan mengakibatkan terjadinya perceraian. Sebaliknya, sekali mereka sudah melahirkan anak, ikatan antar-pasangan akan semakin kuat dan ikatan cinta semakin kokoh. Hukum eksogami, sebagaimana telah disinggung di atas, bahkan sudah melekat dalam diri setiap orang Batak Toba hingga sekarang. Maka, kiranya tidak mengherankan, apabila masih ada ketakutan untuk melanggarnya.
    Hambatan untuk benar-benar mematahkan belenggu eksogami adalah rasa takut akan meledaknya roh para leluhur. Rasa takut itu semakin meningkat oleh munculnya beberapa kasus, yaitu pelanggaran sengaja yang dilakukan oleh beberapa pasangan terhadap larangan marsubang (tabu) yang berakhir buruk bagi para pelakunya. ~~~
    Marsumbang / Marsubang
    Yang termasuk pelanggaran, antara lain na tarboan-boan rohana (yang dikuasai oleh nafsu-keinginan), yakni orang yang menjalankan sumbang terhadap iboto (saudara perempuan dari anggota marga sendiri). Selain larangan marsubang, hubungan lain yang tidak diperkenenkan adalah marpadanpadan (kumpul kebo).
    Marsumbang baru dibolehkan jika perkawinan yang pernah diadakan di antara kedua kelompok tidak diulangi lagi selama beberapa generasi. Jika terjadi pelanggaran terhadap larangan itu, maka pendapat umum dan alat kekuasaan masyarakat akan diminta turun tangan. Ritusnya adalah sebagai berikut: gondang mangkuling, babiat tumale (gong bertalu-talu, harimau mengaum), artinya, rakyat akan berkumpul untuk menangkap dan menghukum si pelaku. Peribahasa yang digunakan untuk semua tindakan yang melanggar susila adalah: “Manuan bulu di lapang-lapang ni babi; Mamungka na so uhum, mambahen na so jadi." (menanam bambu di tempat babi berlalu, tidak taat hukum dan menjalankan yang tabu).
    Perkawinan yang dilakukan atas pelanggaran dinyatakan batal. Lelaki yang berbuat demikian, serta pihak parboru diwajibkan melakukan pertobatan (manopoti/pauli uhum) atau dinyatakan di luar hukum (dipaduru di ruar ni patik), dikucilkan dari kehidupan sosial sebagaimana yang ditentukan oleh adat.
    Ritusnya adalah sebagai berikut: Pihak-pihak yang melanggar harus mempersembahkan jamuan yang terdiri dari daging dan nasi (manjuhuti mangindahani). Kerbau atau sapi disembelih demi memperbaiki nama para kepala dan ketua yang tercemar karena kejadian itu. makanan yang dihidangkan sekaligus merupakan pentahiran (panagurasion) terhadap tanah dan penghuninya. ~~~
    Tahapan Perkawinan Adat Batak Toba
    Pemotongan Jambar.
    1. Paranakkon Hata - Paranakkon hata artinya menyampaikan pinangan oleh paranak (pihak laki-laki) kepada parboru (pihak perempuan). Pihak perempuan langsung memberi jawaban kepada ‘suruhan’ pihak laki-laki pada hari itu juga dan pihak yang disuruh paranak panakkok hata masing-masing satu orang dongan tubu, boru, dan dongan sahuta.
    2. Marhusip - Marhusip artinya membicarakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh pihak paranak sesuai dengan ketentuan adat setempat (ruhut adat di huta i) dan sesuai dengan keinginan parboru (pihak perempuan). Pada tahap ini tidak pernah dibicarakan maskawin (sinamot). Yang dibicarakan hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan marhata sinamot dan ketentuan lainnya. Pihak yang disuruh marhusip ialah masing-masing satu orang dongan-tubu, boru-tubu, dan dongan-sahuta.
    3. Marhata Sinamot - Pihak yang ikut marhata sinamot adalah masing-masing 2-3 orang dari dongan-tubu, boru dan dongan-sahuta. Mereka tidak membawa makanan apa-apa, kecuali makanan ringan dan minuman. Yang dibicarakan hanya mengenai sinamot dan jambar sinamot.
    4. Marpudun Saut - Dalam Marpudun saut sudah diputuskan: ketentuan yang pasti mengenai sinamot, ketentuan jambar sinamot kepada si jalo todoan, ketentuan sinamot kepada parjambar na gok, ketentuan sinamot kepada parjambar sinamot, parjuhut, jambar juhut, tempat upacara, tanggal upacara, ketentuan mengenai ulos yang akan digunakan, ketentuan mengenai ulos-ulos kepada pihak paranak, dan ketentuan tentang adat. Tahapannya sebagai berikut: [1] Marpudun saut artinya merealisasikan apa yang dikatakan dalam Paranak Hata, Marhusip, dan marhata sinamot. [2] Semua yang dibicarakan pada ketiga tingkat pembicaraan sebelumnya dipudun (disimpulkan, dirangkum) menjadi satu untuk selanjutnya disahkan oleh tua-tua adat. Itulah yang dimaksud dengan dipudun saut. [3] Setelah semua itu diputuskan dan disahkan oleh pihak paranak dan parboru, maka tahap selanjutnya adalah menyerahkan bohi ni sinamot (uang muka maskawin) kepada parboru sesuai dengan yang dibicarakan. Setelah bohi ni sinamot sampai kepada parboru, barulah diadakan makan bersama dan padalan jambar (pembagian jambar). [4] Dalam marpudun saut tidak ada pembicaraan tawar-menawar sinamot, karena langsung diberitahukan kepada hadirin, kemudian parsinabung parboru mengambil alih pembicaraan. Pariban adalah pihak pertama yang diberi kesempatan untuk berbicara, disusul oleh simandokkon, pamarai, dan terkahir oleh Tulang. Setelah selesai pembicaraan dengan si jalo todoan maka keputusan parboru sudah selesai; selanjutnya keputusan itu disampaikan kepada paranak untuk melaksanakan penyerahan bohi ni sinamot dan bohi ni sijalo todoan. Sisanya akan diserahkan pada puncak acara, yakni pada saat upacara perkawinan nanti.).
    5. Unjuk - Semua upacara perkawinan (ulaon unjuk) harus dilakukan di halaman pihak perempuan (alaman ni parboru), di mana pun upacara dilangsungkan, berikut adalah tata geraknya: [1] Memanggil liat ni Tulang ni boru muli dilanjutkan dengan menentukan tempat duduk. Mengenai tempat duduk di dalam upacara perkawinan diuraikan dalam Dalihan Na Tolu. [2] Mempersiapkan makanan: (a) Paranak memberikan Na Margoar Ni Sipanganon dari parjuhut horbo. (b) Parboru menyampaikan dengke (ikan, biasanya ikan mas)
    6. Doa makan
    7. Membagikan Jambar
    8. Marhata adat – yang terdiri dari tanggapan oleh parsinabung ni paranak; dilanjutkan oleh parsinabung ni parboru; tanggapan parsinabung ni paranak, dan tanggapan parsinabung ni parboru.
    9. Pasahat sinamot dan todoan,
    10. Mangulosi dan Padalan Olopolop.
    11. Tangiang Parujungan - Doa penutup pertanda selesainya upacara perkawinan adat Batak Toba. ~~~
    Lihat pula
    • Bangso Batak
    • Religi Batak
    • Huta
    • Martumpol
    • Mangalua
    • Ulos
    • Paranakkon Hata
    • Marhusip
    • Marhata Sinamot
    • Marpudun Saut
    • Unjuk
    • Marhata Adat
    • Pasahat sinamot
    • Mangulosi
    • Sombaon
    • Sumangot
    • Umpasa
    • Marga
    ~~~

    BAB 3 Kesimpulannya, ada tiga pilar besar jika kita melaksanakan pernikahan anak, yaitu Adat untuk menyiapkan anak masuk dalam komunitas orang Batak dengan segala kegiatan adatnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam skala kecil, sedang, dan besar, tergantung kesepakatan anak dan keluarga. Gereja, sebagai amanat Agung Tuhan semua laki-laki dan perempuan membentuk Keluarga sebab tidak baik seorang hidup sendiri untuk melahirkan keturunan dan terakhir pencatatan Sipil sebagai dokumen Negara.
  • BAB 2

Ternyata Pernikahan Orang Batak, sangat Sakral, dan membanggakan. Jadi, banggalah kita menjadi orang Batak.




.



  


Bibliografi
  • 1877, The Gospel according to Saint John: Translated out of the Original Greek into Batta (Toba), the Language of the Batta in the Island of Sumatra. Elberfeld: Friderichs & Comp.
  • 1877, Tobasch Spelboekje, Batavia: 's Landsdrukkerij.
  • 1878, The New Testament of our Lord and Saviour Jesus Christ: Translated out of the original Greek into Batta (Toba), the language of the Batta in the island of Sumatra. Elberfeld: R. L. Friderichs & Comp,
  • 1885, Tobasch Spelboekje, Elberfeld: R.L. Friderichs & Comp.
  • 1886, Djamita sian Hata ni Debata na di Padan na Robi, Elberfeld: R.L. Friderichs & Comp.
  • 1908, Jamita sian hata ni Debata na di padan na robi, Elberfeld: R.L. Friderichs & Comp.
Referensi

  1. a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa(Indonesia)F.D. Willem. 1987. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 198, 199.
  2. a b c (Inggris)Jan Sihar Aritonang, Karel Steenbrink. 2008. A History of Christianity in Indonesia. Leiden: Koninklijke Brill. Hlm. 535.
  3. a b c d (Indonesia)J.T. Nommensen. 1974. Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 9.
  4. a b c d e f g h i j k (Indonesia)Uli Kozok. 2010. Utusan Damai di Kemelut Perang: Perang Zending dalam Perang Toba. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hlm. 35,38,92,123.
  5. a b c d e f g h i j k (Indonesia)Th. van den End. 1993. Ragi Carita 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 175,177.
  6. ^ Schreiner, Lothar "Nommensen in Selbstzeugnissen: unveröffentlichte Aufsätze, Entwürfe, und Dokumente eingeleitet, erklärt, und herausgegeben von Lothar Schreiner". Verlag an der Lottbek in Ammersbek. 1996. ISBN 3-86130-041-9
  7. a b c d e f g h i (Indonesia)Jan S. Aritonang. 1988. Sejarah Pendidikan Kristen Di Tanah Batak. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 148,149,150, 157.
  8. a b http://ulikozok.wordpress.com/peran-zending-dalam-perang-toba/​. Diakses pada Jumat 15 April 2011. Pk. 19.55 WIB
  9. a b (Indonesia)Muller Kruger. Sejarah Gereja di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 218.
Catatan kaki
  1. ^ Arnold van Gennep, The Rites of Passage. London & Henley: Routledge & Kegan Paul, 1965, hlm. 116
  2. ^ Arnold van Gennep, The Rites of Passage. London & Henley: Routledge & Kegan Paul, 1965, hlm. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

♥ 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐌𝐀𝐍𝐔𝐒𝐈𝐀 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐑𝐎𝐃𝐔𝐊𝐓𝐈𝐅 𝐌𝐄𝐍𝐔𝐑𝐔𝐓 𝐏𝐀𝐍𝐃𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐀𝐋𝐊𝐈𝐓𝐀𝐁 ♥

ʀᴇɴᴜɴɢᴀɴ ʀᴀʙᴜ, 21 ғᴇʙʀᴜᴀʀɪ 2024 | ᴀʟɪɴ_ᴇsʀᴏɴ | 19 ᴍᴇɴɪᴛ ʀᴇᴀᴅ 🗯️ Bagaimanakah Caranya Untuk Memiliki Kehidupan Kristen_Yang Produktif ? 𝑷𝑹𝑶𝑳𝑶𝑮 Renungan ini terinspirasi saat penulis sedang komunikasi tentang seorang pelayan Tuhan ( Gembala Umatv) yang seharusnya menjadi teladan bagi manusia tapi malah menjadi biang kerok bagi sesama ! 🗯️ Kenapa Biang Kerok ? 🗨️ Karena Menerut Penulis Pribadi Manusia yang tidak produktif perusak dimata Tuhan & keluarga serta sesama . Baiklah tidak usah panjang lebar kita akan bahas apa itu produktif & kenapa orang kristen harus produktif, silakan dengar sampai habis Produktivitas adalah topik yang marak dibicarakan hari ini. Begitu banyak artikel dan buku ditulis untuk menolong kita hidup produktif.[1] Produktivitas biasanya dikaitkan dengan kuantitas yang dihasilkan dalam satu kurun waktu tertentu. Makin banyak yang dihasilkan, makin produktif seseorang. Sebagian orang menyamakan hidup yang sibuk dengan bentuk hidup yang pro...

♥ 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐑𝐈𝐒𝐓𝐄𝐍 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐑𝐎𝐃𝐔𝐊𝐓𝐈𝐅 ♥

✦𝐑𝐄𝐍𝐔𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐉𝐮𝐦𝐚𝐭, 30 𝐀𝐠𝐮𝐬𝐭𝐮𝐬 2024.✦ ♥ 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐑𝐈𝐒𝐓𝐄𝐍 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐑𝐎𝐃𝐔𝐊𝐓𝐈𝐅 ♥ 𝐃𝐀𝐅𝐓𝐀𝐑 𝐈𝐒𝐈 : 1. Bagaimana Menjadi Orang Kristen Yang Produktif ? 2. Mengapa Kita Perlu Bekerja Untuk Mencari Penghidupan ? 3. Mengapa Kita Perlu Berjuang Untuk Bertahan Hidup ? 4. Apakah Perbuatan Kita Penting Bagi Tuhan ? 𝐏𝐄𝐌𝐁𝐀𝐇𝐀𝐒𝐀𝐍 : Dengan produktif, rasa malas dalam jiwa akan tersingkir. Produktif merupakan aktivitas yang bermanfaat untuk mengembangkan diri. Menjadi produktif adalah pilihan yang terbaik untuk  dapat menjadi lebih baik. Sebab, waktu yang kamu miliki tidak terbuang sia-sia. Selain itu, orang yang produktif cenderung memiliki target dan prioritas yang jelas untuk masa depannya. 🗯️ 𝐏𝐄𝐑𝐓𝐀𝐍𝐘𝐀𝐀𝐍  1. BAGAIMANA MENJADI ORANG KRISTEN YANG PRODUKTIF ?  Firman Tuhan memerintahkan dalam 2 TESALONIKA 3:10-12 (TSI3.2) 10 karena waktu kita masih bersama, kami sudah mengajarkan, “Orang yang tidak mau bekerja tidak b...

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎ http://alinesron.blogspot.com/2024/03/kesembuhan-ilahi.html ✦Tersedia Dalam Korban Penebusan YESUS Untuk Semua Orang Yang Percaya✦ FIRMANNYA DALAM ; KELUARAN 15:26 (ILT3)   Lalu berfirmanlah Dia, “Jika engkau mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara YAHWEH, Elohimmu, dan engkau melakukan apa yang benar di mata-Nya, engkau memerhatikan perintah-Nya dan menjaga ketetapan-Nya, Aku tidak akan menimpakan ke atasmu semua tulah yang telah Aku timpakan kepada orang Mesir, karena Akulah YAHWEH, yang menyembuhkan kamu.” DAFTAR ISI A. Pendahuluan B. Dari mana datangnya penyakit? C. Maksud dari kesembuhan ilahi D. Dasar alkitabiah untuk kesembuhan ilahi E. langkah-langkah menerima kesembuhan dari Kristus F. Mengapa ada orang yang tidak menerima kesembuhan ilahi G. Penutup A. Pendahuluan Tentang kesembuhan ilahi ini, ada orang yang beranggapan (dari gereja-gereja tertentu) bahwa kesembuhan ilahi hanya terjadi pada masa Tuhan Yesus masih berada di bumi yait...