Bagaimana TUHAN ingin kita menghadapi kesulitan besar dalam hidup❓
Apakah dia ingin kita mengabaikan mereka, melupakan mereka, berkuasa melalui mereka, atau dihancurkan oleh mereka❓
Tidak.
Dia ingin kita meratapi. Itu adalah pelajaran bagus dari bagian yang sedikit dibaca dari nabi Perjanjian Lama, Mikha.
Mengikuti Mikha, kita akan melihat bahwa Tuhan sebenarnya mengundang umat-Nya untuk meratap. Dia ingin kita menilai dengan jujur apa yang kita lihat, dan juga mencurahkan kesedihan kita yang besar kepadanya atas apa yang kita lihat.
REALITAS RATAPAN
Apakah ratapan itu❓
Meratap adalah ekspresi kesedihan dan kesedihan yang penuh gairah - berduka cita, berduka cita, memukuli dada seseorang dalam kesedihan.
Ratapan bukanlah merengek, mengeluh, mengeluh, atau menggerutu. Itu untuk mengatakan, "Celakalah aku!" (Mikha 7: 1):
Kesengsaraan adalah milikku. Ini meringkas perasaan seorang ibu yang berduka karena kehilangan anak, atau seorang janda atau duda yang menghadapi pemakaman pasangan, atau bangsa yang ditaklukkan.
Celakalah aku! hanya digunakan dalam keadaan yang paling mengerikan, suram, dan menghancurkan.
Alkitab tidak malu akan ratapan. Dalam kitab Mazmur, 60 dari 150 dikategorikan sebagai ratapan - 40 persen. Ada satu buku di dalam Alkitab yang membahas tentang ratapan, dan dengan tepat diberi nama Ratapan.
Mengapa Alkitab menerima ratapan? Karena jujur tentang pengalaman manusia. Itu tidak menyelesaikan beberapa cara dangkal yang dangkal untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi, seolah-olah berpura-pura bahwa penderitaan tidak serius atau hanya ilusi.
Kita, juga, harus belajar untuk mengungkapkan kesedihan hati kita secara bermakna dan jujur, jika kita ingin menghindari kedangkalan atau Ke pura puraan.
Komentar
Posting Komentar