Langsung ke konten utama

๐Ÿ…บ๐Ÿ†„๐Ÿ†ƒ๐Ÿ†„๐Ÿ…บ๐Ÿ…ฐ๐Ÿ…ฝ ๐Ÿ†ˆ๐Ÿ…ฐ๐Ÿ…ท๐Ÿ††๐Ÿ…ด & ๐Ÿ…ฟ๐Ÿ…ด๐Ÿ…ฟ๐Ÿ…ด๐Ÿ†๐Ÿ…ฐ๐Ÿ…ฝ๐Ÿ…ถ๐Ÿ…ฐ๐Ÿ…ฝ ๐Ÿ†๐Ÿ…พ๐Ÿ…ท๐Ÿ…ฐ๐Ÿ…ฝ๐Ÿ…ธ

I.Kutukan Yahwe & Peperangan Rohani Serta Dampaknya Bagi Pertumbuhan Gereja
Berbagai pandangan mengenai pertumbuhan gereja telah diberikan oleh banyak ahli, tetapi sejauh ini penulis belum menemukan adanya pembahasan yang secara khusus mengaitkan masalah pertumbuhan gereja dengan persoalan Peperangan Rohani.  

Rick Warren  maupun Donald  J. MacNair dan Esther L. Meek,  misalnya, menyimpulkan hal yang sama bahwa persoalan utama pertumbuhan gereja ada pada faktor “Sehat-tidak”nya Gereja Itu, tetapi tidak ada diskusi khusus mengenai peranan spiritual warfare di dalamnya.  

Memang Makmur halim,  dalam tulisannya, sudah menyoroti hubungan gereja dengan spiritual warfare, tetapi sekali lagi tidak dalam proporsi disiplin pertumbuhan gereja yang lengkap.  Meski demikian, bukan berarti bahwa tulisan ini akan secara lengkap membahas persoalan pertumbuhan gereja terhadap masalah spiritual warfare.  Tulisan ini tidak lain merupakan “pemicu kecil” untuk penelitian ke arah itu.Sebaliknya, ada banyak pandangan mengenai spiritual warfare tetapi juga tidak dikaitkan langsung dengan persoalan pertumbuhan gereja.  

Apa Yang Dikatakan Oleh Beberapa Peneliti Okultisme Dan OKultisme Seperti E. C. Pentecost,  C. E. Arnold,  K. Koch  Maupun P. Wagner  Yang Juga Dikenal Sebagai Tokoh Pertumbuhan Gereja Tampak Sudah Mengaitkan Spiritual Warfare Namun Masih Dalam Lingkup Pengertian “tanggung Jawab” Gereja Semata.  

ARTINYA, Gereja Harus Peduli, Gereja Harus Waspada Bahkan Gereja Harus Ofensif Terhadap Persoalan “roh” Ini.   

Tetapi Sekali Lagi Kaitan Dengan pertumbuhan gereja, minimal sebagai gereja yang “sehat” menurut konsep Warren, MacNair dan Meek misalnya, tetap belum tampak dengan jelas. Tentu bukan berarti “salah,” sehingga seakan-akan tulisan ini adalah “yang benar,” sama sekali tidak.

Sementara itu, alkitab Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) mencatat bahwa Spiritual Warfare Selalu Terjadi Dalam Kehidupan Umat Allah.

Oleh karena itu, menjadi menarik ketika membandingkan apa yang seharusnya (ontologis) terhadap apa yang ada (fenomenologis) dalam kerangka pertumbuhan gereja.

Satu gereja di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang menjadi studi kasus dalam hubungan tersebut di atas, menunjukkan adanya fenomena spiritual warfare  yang dapat dibagi dalam dua fase.  

FASE PERTAMA, dalam kurun waktu 30 tahun (1965-1995) tidak menampakkan adanya fenomena exorcism, namun sering terjadi konflik “perselisihan” dalam gereja. 

FASE KEDUA, dalam kurun waktu lima tahun (1996-2001), fenomena exorcism semakin meningkat namun konflik “perselisihan” dalam jemaat semakin mengecil.

Berangkat dari hal-hal tersebut di atas, dapat dirumuskan bahwa masalahnya sekarang ialah apakah pertumbuhan gereja ditentukan langsung oleh adanya spiritual warfare dalam gereja?

Tulisan ini akan mempelajari pola kecenderungan spiritual warfare, dalam Pertumbuhan gereja dengan membandingkan apa yang terjadi dengan umat TUhaN di zaman PL maupun gereja di zaman PB, terutama dalam kaitan dengan kutukan YahWE (Kej. 3:14-19).  
Hasil Perbandingan Ini Akan Dipakai Untuk Menilai Kasus Dalam Gereja Yang Dimaksud.  Dengan Kata Lain, Akan Dibuktikan Bahwa:

1. KUTUKAN YAHWE CENDERUNG MENGARAHKAN TERJADINYA PEPERANGAN ROHANI DALAM GEREJA.

2. PEPERANGAN ROHANI AKAN MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN GEREJA.
Bagian Berikut Ini Akan Meneliti Perkataan “Kutukan Yahwe.” Observasi Dilakukan Menurut Perkataan “Kutukan Yahwe” Terhadap Manusia Dan Ular.  Terhadap Manusia, Karena Kepada “Keturunan” Nyalah Akan Terbentuk Umat Atau Gereja.  

Terhadap Ular, Karena Peranan Iblis Dan “keturunan”-nyalah Yang Selalu Mengacaukan Pembangunan Gereja.  Inti Observasi Ini Bertumpu Pada Analisis Dampak Kutukan YAHWE, Dengan Mengikuti Garis Besar Sistematika Penelitian Literaris Sebagai Berikut.
Makna Kutukan Yahwe: •PENGHUKUMAN
KUTUKAN YAHWE Merupakan Penghukuman, Demikian Pendapat Banyak Ahli Antara Lain J. H. Sailhamer  Dan G. J. Wenham.   

Ada Beberapa Aspek Dalam Alkitab Memang Tampak Menerangkan Kesimpulan Tersebut, Yakni:

1)PERTAMA, OTORITAS TERTINGGI.  Secara Eksplisit Jelas Bahwa Yahwe Mencipta.  Ia Yang Memiliki Segala Ciptaan, Termasuk “aturan Main”-nya. Dari Perkataan “jadilah . . .” (Kej. 1:3, 6, 14) Maupun “hendaklah . . . Jadilah Demikian” (Ay. 9, 11), Menunjukkan Adanya Otoritas Tertinggi Di Atas Segala Unsur Penciptaan Tersebut.  Yahwe Selalu Membuat Segalanya “jadi.”  Sehingga Segala Keputusan Ada Di Dalam “Kehendak Untuk Menjadikan”-Nya Itu.  Yahwe Adalah Otoritas Tertinggi.

2)KEDUA, TUNTUTAN KETAATAN YANG ABSOLUT.  
Konsep kutukan sudah dimulai oleh YahWE kepada adam di depan pohon “pengetahuan yang baik dan jahat” (Kej. 2:16-17).   

Konsep Kutukan diajarkan dan diberikan bukan karena ragu akan buatan-Nya, melainkan untuk menjaga konsistensi kualitas yang sejak semula sudah “amat baik.”  Tidak ada negosiasi dalam kutukan YahWE, melainkan “Sesuatu Yang Absolut.”  Konsistensi-Nya tidak berubah hingga sesudah Kejadian 3.  hal ini tampak dari setiap konsekuensi yang dituntut YahWE dalam Perjanjian dengan umat-Nya, yakni ketaatan yang absolut (misalnya Ul. 28:15-20 dibandingkan dengan Ul. 29:14-21).  

3)KETIGA, PENILAIAN KEBENARAN.
YahWE dapat dipercaya, sebab sifat- Nya adalah benar, sehingga apa yang keluar dari pada-Nya selalu kebenaran. Bahkan Pribadi-Nya sendiri adalah kebenaran (Yoh. 14:6), maka setiap tanggapan manusia selalu dikonfirmasikan dengan kebenaran yang “ada” pada Diri-Nya atau bahkan dibandingkan dengan Diri-Nya sendiri. Kebenaran adalah standar mutlak bagi YahWE untuk menilai (bdk. Kej. 2:15-17 dengan Kej. 3:1-7).

Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa setiap pelanggaran selalu berbenturan dengan sifat dan pribadi YahWE, yang pada akhirnya akan melahirkan “penghukuman.”  Kutukan YahWE merupakan penghukuman karena pelanggaran.

SASARAN KUTUKAN YAHWE:
1)ULAR DAN TANAH
YahWE Tidak Mengutuk Manusia, Melainkan Ular Dan Tanah.  Ada Dua Chiasm Perkataan Kutukan Yahwe 
(Kej. 3:14-19) Yang Akan Menolong.

I. PERTAMA, CHIASM V. P. HAMILTON:
(a) — DOSA Laki-laki (ay. 9-11)
(b) — DOSA Wanita (ay. 12)
(c) — D    O    S    A  Ular  (ay. 13)
(c’) —PENGHAKIMAN  Ular  (ay.14-15)
(b’) — PENGHAKIMAN Wanita (ay. 16)
(a’) — PENGHAKIMAN Laki-laki (ay 17-19)

II. KEDUA, CHIASM VERSI LAIN:
(a) The Man Is Questioned
(B) The Woman Is Questioned
(C) The Serpent Is Cursed
(B’) Sentence Is Passed On The Woman
(A’)Sentence Is Passed On The Man

KEDUA ANALISIS CHIASM TERSEBUT Menunjukkan Penekanan Yang Sama, Yakni Ular Menjadi Fokus Kutukan Yahwe.  Dari Sudut Keadilan, Tampak Bahwa Semua Makhluk Ciptaan Menerima Penghakiman Yahwe.  

Tapi Dari Sudut Kasih, Tampak Sikap Yahwe Lebih Mengutamakan Manusia Ketimbang Ular.  Kontras Antara kutukan kepada ular dibandingkan dengan pertanyaan kepada manusia ini dapat dimengerti sebab hanya manusialah yang diciptakan menurut peta dan gambar pribadi allah (Kej. 1:26).  

Beranjak dari analisis sastra tersebut, dapat disimpulkan bahwa “ular” merupakan sasaran utama kutukan YahWE.  Itulah sebabnya akan ditelaah mengenai ular dan kutukannya, serta sedikit mengenai kutukan terhadap tanah.

Kutukan kepada Ular (Kej. 3:14)
Ular (Ibr. nachas) yang dimaksud bukan makhluk supranatural, melainkan salah satu buatan YahWE yang natural dengan kecerdikan (Ibr. arum) lebih dari segala binatang di “darat” (Kej. 3:1).   

Makhluk ini berbeda dengan Serafim yang tinggal di “sorga” dalam penglihatan Yesaya (Yes 6:2), Meski Sepertinya Ada Kedekatan Konsep Dengan “sarap.” 
Sekarang Menjadi Pertanyaan Mengapa Binatang Ular Dikutuk?

Siapakah Sebenarnya Ular Sehingga Yahwe Berkepentingan Untuk Menegakkan Kebenaran Di Atas Binatang?

A. E. Day Dan G. D. Jordan Mengatakan Bahwa Meski Tidak Secara Eksplisit Tertera Oknum Iblis Dalam Kasus Eden, Tapi Dari Aktivitas-nya Yang Tercatat Di Bagian Lain Dalam Alkitab Tampak Dengan Jelas Adanya Peranan Iblis Di Dalam Diri Ular.

Keterangan alkitab yang paling lugas menyingkap misteri ini adalah visi Yohanes (Why. 12:9; 20:2) yang menyatakan bahwa ular tua atau naga itu adalah Iblis.
 Segala kekacauan disebabkan oleh pekerjaan Iblis.  Orientasi aktivitas Iblis adalah mengacaukan apa yang telah dibuat dengan amat baik oleh allah.  adam dan hawa menjadi ragu ketika berjumpa dan mendengar perkataan Iblis (Kej. 3).  akibatnya allah mengutuk ular.  

Contoh lain adalah hardikan Yesus kepada Iblis yang menggoda Petrus  untuk menjadi “kacau” dan tidak berpikir menurut pikiran allah (Mrk. 8:33).  

Sekali lagi, Iblislah yang menjadi sasaran kutukan YahWE, bukan manusia.  Tapi dalam pembahasan mengenai “Dampak Kutukan” akan tampak adanya spiritual warfare yang merupakan peperangan kosmik yang besar, karena manusia “menjadi lebih tertarik” kepada tawaran kuasa kegelapan yang dalam terminologi alkitab disebut dengan “keinginan dunia” dan “kedagingan.” Jadi dapat dikatakan bahwa sasaran kutukan YahWE kepada ular berarti murka allah kepada Iblis, sehingga setiap kali alkitab membicarakan masalah “ular” akan selalu mengingatkan kepada masalah “kutukan” YahWE ini. 
Kutukan kepada tanah (Kej. 3:17)

Tanah, Yang Dikutuk Yahwe, Adalah Bumi Yang Kemudian Menjadi Tempat Hidup Yang “sulit” Karena Tidak Seproduktif Dulu Lagi.  Ada Perubahan Kapabilitas Biologis Dalam Tanah.

Fenomena Sehari-hari Dapat Membuktikan Kebenaran Ini.  

Dikatakan Bahwa Manusia Harus “Bersusah Payah” Untuk Memperoleh “Hasil” Yang Dapat Dipergunakan Dengan Benar. Itupun Belum Tentu Langsung Ada, Karena Tampak Ada Banyak “duri” Yang Akan Secara Spontan Keluar Dari Dalam Bumi Ketika Manusia Mengerjakannya. Hal Yang Menarik Adalah Efek Kutukan Pada Kultur Kehidupan Bangsa-bangsa, Yang Kemudian Muncul Dalam Kaitan Dengan Peperangan Rohani

DAMPAK KUTUKAN YAHWE : ¹)PEPERANGAN ROHANI
Kutukan YAHWE Kepada Ular Ternyata Berdampak Besar, Karena Sejak Itu Selalu Terjadi PEPERANGAN ROHANI Yang Dahsyat.  Tanah Yang Menjadi Tempat Hidup Telah Terkutuk Sehingga Tumbuh Budaya Yang Selalu Menuntut Adanya “Peperangan.”

²)PEPERANGAN ANTAR BANGSA 
Untuk Memperebutkan Wilayah Kekuasaan, Atau Mempertahankan Hak Milik Terjadi Dimana-mana.  Aparat Keamanan Berperang Melawan Geng Atau Mafia.

³)Para elite politik di banyak negara, seperti di Indonesia sekarang ini, semakin tampak saling menggigit dan mencelakai.  Pemerintahan yang korup tanpa bisa mengadili kejahatan menjadi pencetak generasi amoral yang luar biasa produktifnya.  

⁴)Penjahat kelas “kakap” dibiarkan lolos bahkan “diampuni,” sementara pencuri ayam dibunuh ramai-ramai oleh orang banyak tanpa rasa penyesalan.  Rakyat berperang melawan pemerintah.  Keluarga-keluarga di setiap negara dan bangsa selalu mengalami pertengkaran, percekcokan, perselisihan hingga permusuhan yang berlarut-larut.  

⁵)Kakak dan adik dalam satu rumpun dapat saling membunuh untuk sepiring nasi.  Perceraian di antara suami dengan isteri semakin “diminati” sebagai budaya moderen.  aborsi ternyata telah menjadi satu profesi dan trend baru, satu cermin degradasi moral dan mental bangsa.  Semuanya itu membuktikan selalu ada tuntutan untuk berperang, “warfare.”  Bagaimana dengan Gereja?  akankah bertumbuh di tengah situasi seperti ini?  Dampak kutukan YahWE akan ditelaah sebagai usaha untuk menemukan jawabannya.

⁶)Kejahatan Merajalela
Kegusaran roh kegelapan untuk melawan allah semakin besar dengan kutukan yang diterimanya.  

Mengapa manusia tidak dikutuk?  Tentu hal ini menjadi “keberatan” dan protes dalam hatinya, sehingga roh kegelapan menyusun strategi untuk membuktikan “keampuhan” kerajaannya terhadap kerajaan YahWE, yang de facto maupun de jure jelas menang atas dirinya. Mengumpulkan sebanyak mungkin pengikut menjadi sasaran dan strategi roh kegelapan berikutnya, karena ia menyadari pasti kalah.  

Maka Dengan Usaha “keroyokan” Roh Kegelapan Berharap Akan Lebih Menyulitkan Allah.

Paling Tidak Sudah Berusaha Untuk Menyakiti Hati Yahwe Yang Membuat Semula Segala Sesuatunya Indah Sesuai Dengan Maksud-nya Yang Sempurna. Roh Kegelapan Menolak Kesempurnaan Allah Dengan Menawarkan “kesempurnaan” Semu Melalui Ideologi Relativisme, Yang Pada Prinsipnya 
“meragukan Allah”
Tetapi “mempercayai Dirinya Sendiri.”19

Ide Untuk “menjadi Sama Dengan Yahwe” Dicetuskan Melalui Ideologi Bangsa-bangsa, Lewat Budaya.  Budaya “global” Dijadikan Fasilitas Untuk Peperangan Kosmik, Oleh Kuasa Kegelapan.  Media Massa, Materialisme, Konsumerisme, Sekularisme Menjadi Contoh Jalan Masuk Kuasa Kegelapan Ke Dalam Kehidupan Manusia.  Dipandang Dari Hasil Penelitian J. McDowell,  
19

IDEOLOGI RELATIVISME, Yang Secara Eksplisit Diterima Banyak Orang Di Abad Ke-21 Ini Sesungguhnya Memiliki Akar Pada Kejahatan Di Taman Eden.  “meragukan Allah” Adalah Tema Besar Sepanjang Sejarah Ideologi Manusia Yang Diprakarsai Oleh “ular” Dengan Mempertanyakan Perintah Tuhan Allah Kepada Hawa (Kej. 3:2).

RENAISSANCE (13001600) Melahirkan Humanisme Yang “mengakui Adanya Allah, Tetapi Lebih Mempercayai Kemampuan Manusia.”  Kemudian Enlightenment (1600-1800), Dengan Deisme Yang Mengatakan Bahwa “allah Tidak Bisa Lagi Dihubungi, Karena Sudah Meninggalkan Ciptaannya” (M. H. Macdonald, “Deism,” evangelical Dictionary of theology [ed. W. a. Elwell;  Grand Rapids: Baker, 1989] 304-305).  

Isme Ini Semakin Terang-terangan Menolak Allah Dan Semakin Yakin Pada “kebenaran” Baru.  Bersamaan Dengan Itu, Lahirlah Revolusi Industri (1700-an) Sebagai Simbol Era Teknologi Tinggi Yang Potensial Untuk Semakin “menjauh” Dari Allah, Secara Filosofi Ditandai Dengan Adanya Darwinisme. Banyak Sekolah Dasar Di Indonesia Yang Mengajarkan “kebenaran” Semu Ini, Sehingga Manusia Tidak Lagi Respek Kepada Allah Melainkan Menyukai Mistisisme Yang Serba Relatif, Sesuai Dengan Keinginan Hatinya.

Hal Ini Mirip Dengan Peringatan Rasul Paulus, “karena Akan Datang Waktunya, Orang Tidak Dapat Lagi Menerima Ajaran Sehat, Tetapi Mereka Akan Mengumpulkan Guru-guru Menurut Kehendaknya Untuk memuaskan keinginan telinganya” (2Tim. 4:3).  

Menarik Untuk Diuji Apakah Perkembangan Kebudayaan Terakhir Ini Ada Kaitan Dengan Nubuat Allah Di Babel Yang Menyatakan “. . . Mulai Dari Sekarang Apapun Juga Yang Mereka Rencanakan, Tidak Ada Yang Tidak Akan Dapat Terlaksana” (Kej. 11:6).

Di Antara Kalangan Muda Amerika, Kuasa Kegelapan Itu Akan Tampak Dengan Jelas Lewat Adanya Generasi “baby Boomer” Yang Tidak Tahu Membedakan Apa Itu “benar” Dan Apa Itu “salah.”  Ada Semacam “kabut” Yang Menutupi Generasi Ini Melihat Kebenaran Yang Sempurna, Yakni Pribadi Yahwe.  Kebencian Kepada Yahwe “diorganisir” Oleh Roh Kegelapan Untuk Terus Menerus Menciptakan Kejahatan, Sehingga Dikatakan “kejahatan Semakin Merajalela” (Yes. 57:1).  

Manusia Menjadi Semakin Liar, Tidak Terkendali, Apalagi Dengan “kesulitan” Hidup Yang Ditimbulkan Dari Dalam “tanah” Yang Pada Akhirnya Menunjukkan Bahwa Manusia Sudah Begitu Korup (Kej. 6:5; Rm. 3:23).  Akibatnya Orang Yang Tidak Mampu Bertahan Akan Tergoda Untuk Mencari “Pertolongan” Kepada Kuasa Kegelapan, Dan Sekali Lagi Kejahatan Di Hadapan Yahwe Menjadi Semakin Luas.
Spiritual Warfare Dimulai
 
 Situasi Permusuhan Antara Keturunan Keluarga Yahwe Dengan Keturunan Roh Kegelapan Telah “diadakan” Oleh Yahwe Sendiri (Kej. 3:15). Para Ahli Menamai Momen Itu Sebagai KONSEP PROTOEVANGELIUM,  Yang Dalam Tulisan Ini Dipandang Sebagai Permulaan Spiritual Warfare Yang Luar Biasa Bagi Umat Yahwe.  

Rupanya Allah Memang Menghendaki Spiritual Warfare.  Yahwe Yang Memberi Perintah Untuk “berperang.”  Pencobaan Iblis Di Padang Gurun Membuktikan Hal Itu (Mat. 4).

TIGA FAKTOR SPIRITUAL  WARFARE 
Akan Dibahas Di Sini. 

1)Pertama, Tokoh Utama.
2)Kedua, Pola Utama.  
3)Ketiga, Hasil Utama. 

Asumsi Dipilihnya Ketiga Faktor Tersebut Menjadi Indikator Peranan Spiritual Warfare Dalam Pertumbuhan Gereja Didasarkan Pada Tema Besar Konsep Gereja Yang Sehat, Yakni “oleh Siapa” (Tokoh Utama), “dengan Apa” (Pola Utama), Dan “untuk Apa” (Hasil Utama) Gereja Dibangun. 

LOGIKA PERTUMBUHAN GEREJA, 
Menurut Warren, Didasarkan Pada “Kewajaran” Karena Gereja Adalah Organisme Yang Hidup Dengan Kristus Sebagai “kepala” Sehingga Selalu Melihat Pada Apa Yang Dikerjakan Oleh Kristus.   

Sementara MacNair dan Meek Menandaskan Bahwa Pertumbuhan Gereja Semestinya Mengikuti Ritme Natural, Yang Selalu Bertujuan Ke Arah KRISTUS (Ef. 4:15), Sebagaimana Dikatakannya Bahwa Pertumbuhan Gereja,
Taraf “serba Ada” Telah Mencetak Angkatan Muda (1946-1964) Yang Malas, Semaunya Sendiri, Dan Tidak Mau Mengenal Kebenaran Mutlak (“krisis Kebenaran” Dalam Right From Wrong [Jakarta:

Professional, 1997] 7-87).
Harus Selalu Didefinisikan Dalam Hal Pendewasaan Citra Kristus Dalam Anggota Individu Maupun Dalam Tubuh Gereja Secara Keseluruhan.

Anda Juga Akan Menemukan Bahwa Pertumbuhan Gereja Yang Sehat Akan Alami, Bukan Buatan .  .  .
Saat Tuhan Membuat Tumbuh

Diharapkan Dari Ketiga Faktor Tersebut Akan Dapat Ditelusuri Pengaruh Spiritual Warfare Dalam Pertumbuhan Gereja Dengan Membandingkannya Pada Kasus Yang Ada.

TOKOH UTAMA: YAHWE ATAU ULAR❓
Memahami Metafora “ular” Akan Membantu Mengerti Bagaimana Sesungguhnya Spiritual Warfare Terjadi.  Oleh Karena Itu, Akan Dibandingkan Ketiga Pernyataan Alkitab Mengenai “ular” Dalam Kaitan Dengan Kutukan Yahwe.  Pertama, Misteri Ular Dalam Protoevangelium (Kej. 3:14-15). Kedua, Misteri Ular Tembaga Musa (Bil. 21:4-9).  

KETIGA, MISTERI ULAR YANG DITINGGIKAN (YOH. 3:14).

1.PERTAMA, MISTERI ULAR DALAM PROTOEVANGELIUM (KEJ. 3:14-15).

Penting Untuk Memperhatikan Komentar Penulis Kitab Kejadian Yang Mengatakan Bahwa Ular Itu Adalah Binatang Paling “cerdik” (Ibr. Arum).  Ternyata Dari Kata Yang Sama Muncul Pengertian “licik” Di Bagian Lain (Misalnya Ayb. 15:5; Mzm. 83:4).

Jadi, Tepatlah Jika Roh Kegelapan Yang Penuh Dengan Kelicikan Menggunakan Alat Yang “akan Cocok” Dengan Sifatnya.  Kelicikan Ular Jelas Menimbulkan Kerugian Bagi  Manusia, Mulai Dari Yang Menyakiti Hingga Yang Mematikan.

Terlepas Dari Spekulasi Mengenai Berbahaya Atau Tidaknya Ular Sebelum Demonization,  Satu Hal Yang Pasti Adalah Ular Melambangkan Adanya “bahaya.”   Secara Kanonik, Kitab Kejadian 3 Termasuk Dalam Kelompok Narasi.

Berarti “ular” (Kej. 3:1) Yang Dikutuk (Ay. 14) Sedang Dideskripsikan Asal-usul Dan Kelanjutannya.  

Asal-usul Alamiahnya Adalah “cerdik,” Tetapi Kemudian Menjadi “Licik.”  
Terjadi Perubahan Karakter, Sesudah Roh Kegelapan Memasukinya (Demonizatied).

Kebanyakan Referensi Dalam Alkitab Menunjukkan Figur Ular Sebagai Tokoh: •Yang Mengganggu Hidup (Ul. 8:15; Yes. 30:6); 
•Menyerang Orang Yang Tidak Peduli Akan Bahaya (Kej. 49:17; Pkh. 10:8); 
•Jahat (Mzm. 58:4-5; 140:2- 4); •Memabukkan (Ams. 23:29-35); Dan Sekali Lagi Tokoh Yang Menunjuk Pada Oknum Setan (Why. 12:9; 20:2).

Semua Referensi Yang Ada Tersebut Ditulis Sesudah Peristiwa Di Eden, Artinya Diinspirasikan Sesudah Semua Pembaca Waktu Itu Memahami Makna “ular” Sebagai Tokoh Kejahatan.

KUTUKAN YAHWE Kepadanya Menggambarkan Kekalahan Kejahatan Di Hadapan Allah.  Cara Jalan Dan Makanannya Terletak Di “bawah.”

Dengan perut ular itu berjalan, dan debu Tanah Makanannya.  Kutukan Dijatuhkan Pada Ular, Berarti Roh Kegelapan Berada Dalam Posisi Yang “lemah” Di Hadapan Yahwe.  Tetapi, Meski Demikian, Ia Tetap Berbahaya Sebab Oleh Karena Yahwe “masih” Memperbolehkan Ular Untuk Meremukkan Tumit.

PERSOALAN “TUMIT” INI AKAN DIULAS LEBIH MENDETIL DI BAGIAN POLA UTAMA.

2.KEDUA, MISTERI ULAR TEMBAGA MUSA (BIL. 21:4-9).

Ular, Sekali Lagi, Menyimpan Suatu Misteri Kosmologis Dan Eskatologis Sehingga Bangsa-bangsa Di Bumi Ini Mengultuskannya.  
Ada Pemujaan Ular Tembaga Di Gezer Kuno, Pada Masa Pra-israel.
Ada Pemujaan “kekuasaan” Ular Bagi Keluarga Kerajaan, Di Mesir Misalnya, Atau Ada Kepercayaan Bahwa Ular Mampu Mengusir “kejahatan.”   Bagi Bangsa-bangsa Kafir, Ular Paling Sering Dipakai

A.CHRISTIAN HAS THE HOLY SPIRIT”  
(“Demonization and Deliverance in Jesus’ Ministry,”
 http://www.joyfulheart.com/scholar/demon.htm).

SEBAGAI SIMBOL KEKUATAN GAIB.  Pengaruh Kekafiran Kultus Ular Ini Masih Terasa Di Zaman Paulus Terbukti Ketika Ia Dipagut Ular Beludak Orang Menganggapnya Ia Dihukum Dewi Keadilan (Kis. 28:3-4).  Luar Biasa Penipuan Roh Kegelapan Dalam Kebudayaan.

Sekarang, mengapa YahWE memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga?  

Siapakah yang dimaksud dengan ular tembaga itu sebenarnya? 

Perintah untuk membuat ular tembaga diberikan allah, sesudah ular-ular tedung itu datang.  Ular tedung didatangkan allah karena Israel tidak mempercayai YahWE lagi.  

Ketidakpercayaan Israel diungkapkan dengan mempertanyakan tujuan pimpinan dan pemeliharaan-Nya.  

Israel menjadi peringatan bagi Gereja, untuk waspada terhadap bahaya “materialisme” atau pandangan dunia yang menentang allah lainnya (1Kor. 10:9).  Israel mulai “bosan” dengan cara pemeliharaan allah yang menurut mereka “ituitu” saja (Bil. 21:5).

Allah Mengingatkan Israel Lewat “ular Tedung” (Ibr. Nachash Saraph), Yaitu Ular yang sama menakutkannya dengan ular di Eden (Ibr. nachash) yang sudah dikutuk-Nya.  Berarti Dengan Kata Lain Yahwe Mengirimkan “simbol Kutukan” Untuk Menyelamatkan Israel Dari Hidup Yang “mengutuk Allah” Terus Menerus.   Kejadian Ini Serupa Dengan Apa Yang Dikatakan Paulus Kepada Jemaat Di Korintus Untuk Menyerahkan Orang Yang Bercabul Dengan Isteri Ayahnya Itu, Supaya rohnya diselamatkan pada hari Tuhan (1Kor. 15:5).   hal ini juga serupa dengan peristiwa diserahkannya himeneus dan aleksander kepada Iblis, karena telah menolak hati nurani yang murni, supaya jera menghujat (1Tim. 1:20).  

Disiplin Rohani Mutlak Diberlakukan Di Dalam Gereja, Yaitu Untuk Menjalankan Spiritual Warfare.  Sebab Di Dalamnya Terjadi Proses Pemurnian, Untuk Pertumbuhan.  Satu Doktrin Keselamatan Yang Progresif.

ULAR TEMBAGA DIBUAT SETELAH YAHWE MENGAMPUNI (BIL. 21:8).

Allah Yang Memberikan Petunjuk Bagaimana Caranya Memelihara Pengampunan Yang Diberikan-nya Itu.  Ia Menghendaki Agar Kutukan-nya Kepada Iblis Menjadi Peringatan Yang Senantiasa Diperhatikan.  

Tentu Tidak Terpikir Bagi Musa Dan Israel Bahwa Nantinya Hal Ini Akan Menunjuk Pada Perjanjian Baru. Tetapi satu hal yang pasti dari peristiwa penghukuman itu adalah bahwa YahWE sedang membuat satu perjanjian yang diinginkan-Nya untuk selalu dipelihara.

Perjanjian pemeliharaan YahWE kembali dilanggar.  Kenyataan ini menunjukkan bahwa Israel sangat mudah terombang-ambing oleh berbagai macam ideologi.  Mirip dengan gereja di setiap zaman.  Kebudayaan Kanaan telah merasuk dalam pemikiran Israel, sehingga visi YahWE yang semula menempatkan ular tembaga sebagai peringatan akan dosa, telah dijadikan simbol okultis dengan nama Nehustan (2Raj. 18:4).   Banyak ahli modern yang menemukan adanya hubungan kultus ular, di zaman Keluaran, dengan tema-tema ritual-seksual.   Bukit pengorbanan dan tugu berhala, sebagai lambang mistik seksual, disatukan dengan ular tembaga yang ditetapkan YahWE (2Raj. 18:4).  Satu hujatan kepada allah.  Itulah sebabnya hizkia membersihkan tempat-tempat penyembahan yang tidak diperkenankan allah dan ia dipuji YahWE.

3.KETIGA, MISTERI ULAR YANG DITINGGIKAN (YOH. 3:14).

Kembali Timbul Pertanyaan Mengenai Ular Dalam Pernyataan Yesus,  Mengapa Ia Mengidentikkan Diri-nya Dengan Ular Tembaga, Yang Nota Bene Telah Dibersihkan Oleh Raja Hizkia?  Tidak Tahukah Yesus Dengan Penyimpangan Di Masa Itu?

Pernyataan Yesus Rupanya Mengandung Tipologi.  Ada Tipologi Penyelamatan Yesus Kristus Yang Tampak Diberikan Yahwe Kepada Bangsa Israel Melalui Ular tembaga, yang dibuat Musa di padang gurun itu.  Dengan kata lain, Yesus Kristus telah dinubuatkan melalui ular tembaga.  Kebenaran tersebut terlihat dari dua kesamaan berikut ini:
1. ULAR TEMBAGA ADALAH “SIMBOL KUTUK,” Yang Sejak Semula Terkait Dengan Kutukan Yahwe,  Kemudian Yesus Kristus Disebut “dijadikan Kutuk” (Gal. 3:13).
2. ULAR TEMBAGA “DIGANTUNG” SEBAGAI LAMBANG “KUTUKAN YANG DIANGKAT” DARI ISRAEL.   

YESUS KRISTUS “diangkat” Yang secara harafiah menunjuk pada peristiwa penyaliban untuk “mengangkat kutuk” atas dosa dunia. 

Kedua kesamaan tersebut tampak memberikan pengertian yang dalam mengenai Yesus Kristus yang dijadikan kutuk kemudian diangkat supaya tidak ada kutukan YAHWE yang menimpa manusia.  Jadi, Yesus Kristus benar-benar menghadapi pagutan kutukan yang menyakitkan untuk menang atasnya.
Pola Utama: strategy or sensitivity?

Indikator peranan spiritual warfare dalam kaitannya dengan pertumbuhan gereja semakin kentara, yaitu dengan mempelajari pola utama dari dampak kutukan YahWE kepada ular.  ada dua hal yang perlu secara khusus diperhatikan.  Pertama adalah gambaran mengenai spiritual warfare dalam Perjanjian Baru.  Kedua ialah ruang lingkup spiritual warfare dalam cara hidup yang baru.

Gambaran mengenai spiritual warfare dalam Perjanjian Baru perlu dicari sebab ular tembaga, baik di zaman Musa maupun di zaman Yesus, bertujuan untuk menyatakan adanya perjanjian baru antara YahWE dengan keturunan perempuan dalam menghadapi ular yang terkutuk itu.  

Sejalan dengan maksud itu, tampaknya riset arnold akan sangat membantu.  Sementara itu, ruang lingkup spiritual warfare yang dimaksud juga ada “di dalam” pengertian perjanjian baru tadi di atas.  Oleh karena itu, sekali lagi, hasil penelitian biblikal arnold akan dipergunakan untuk menolong penemuan ini.

1. Pemetaan spiritual Warfare hal pertama yang perlu dilakukan untuk menemukan gambaran adanya spiritual warfare sebagai wujud perjanjian baru YahWE berkaitan dengan masalah kutukan itu, adalah dengan menelusuri “imagery” unsur-unsur spiritual warfare dalam alkitab Perjanjian Baru.  

Konteks perjanjian dan sasaran perjanjian dalam alkitab PB jelas seiring, yakni Perjanjian Baru yang dibuat YahWE melalui inkarnasi Yesus Kristus dan pembangunan tubuh Kristus yang pada akhirnya disebut sebagai gereja.  

Kedua kriteria tersebut telah memenuhi harapan penelitian bagian kedua indikator ini.
arnold telah mengerjakan penelitian alkitabiah yang bertanggung-jawab dengan hasil dalam tabel “imagery of Warfare and struggle in the New testament,” sebagaimana dikutip di sini: 
No. i  m  a  g  e Referensi
1 the “strong man” (satan) is fully armed Luk. 11:21
2 “someone stronger” (Jesus) conquers 
  the “strong man” and takes his armor Luk. 11:22  3 Jesus came to bring the sword Mat. 10:34
4 Jesus came to proclaim liberty to captives Luk. 4:18
5 the demonized man had a legion of spirits Mrk. 5:9,15
6 Jesus led the evil powers in a triumphal procession Kol. 2:15
7 Jesus stripped the evil powers of their weapons Kol. 2:15
8 Jesus took captives Ef. 4:8
9 the Christian life is a struggle Kol. 1:29; 2:1; 
    1Tim. 4:10
10 the Christian life is a struggle against evil forces Ef. 6:12
11 the Christian life is a struggle against sin Ibr. 12:4
12 the desires of the flesh wage war against the soul 1Ptr. 2:11
13 Christians are called to struggle for the faith Yud. 3
14 Paul struggled for the gospel Flp. 1:30
15 Paul “fought the good fight” 2Tim. 4:7
16 Christians are soldiers Flp. 2:25; Fil. 2; 
    2Tim. 2:3-4
17 Christians need to wear armor (including helmet,
  sword, shield, and breastplace) Ef. 6:12-17  18 Christians engage in warfare 1Tim. 1:18; 6:12;
    2Kor. 10:4
19 Christians wield weapons of warfare 1Tim. 1:18;2Kor. 10:4; 
    Rm. 6:13; 13:12;
    2Kor. 6:7
20 angelic war in heaven Why. 12:7
21 Binatang Dan Raja-raja Di Bumi Akan Berperang Why. 19:19  22 
Setan Mengumpulkan Bangsa-bangsa Untuk Pertempuran Terakhir Mengapa.  20:8
Tabel 1. Gambaran Peperangan Dan Perjuangan Dalam Perjanjian Baru

Berangkat Dari Hasil Analisis Sastra (Imagery) Di Atas, Dapat Disimpulkan Bahwa Peperangan Rohani : 

Ditentukan oleh hadirnya Yesus Kristus.  Dijelaskan dalam semua referensi PB tersebut, hanya Kristus yang ofensif–dengan menyerang dan mengalahkan.  

Sesungguhnya, inilah kesejajaran Kristus di zaman PB dengan YahWE di zaman PL melalui Musa, harun, dan ular baik tembaga maupun tongkat yang dilempar dan menjadi ular (Kel. 7:9-12).  

Kristus Atau YAHWE-lah Yang Berkuasa Untuk Datang Menyerang Roh Kegelapan.
Gereja Atau Orang Kristen Hanya Dituntut Untuk Bertahan.

DEFENSIF ADALAH POLA UTAMA YANG DIKEHENDAKI ALLAH BAGI GEREJA UNTUK MELAWAN ROH KEGELAPAN.  

Perlengkapan Senjata Pun Bukan Untuk Menyerang Melainkan Bertahan, Meski Gereja Disebut Sebagai Pasukan Perang (Soldiers).

- WILAYAH PEPERANGAN ROHANI 
di Dalam Lingkup “roh.”  Roh Yang Dimaksud Bukan Dalam Pengertian “yang Bukan Jasmani” Saja, Melainkan “kekuatan Yang Bekerja Di Balik Yang Jasmani,” Sehingga Apa Yang Tidak Tampak Selalu Diperhatikan Baik Dosa, Misalnya, Maupun Makhluk Roh Itu Sendiri.

2. MUSUH DALAM PEPERANGAN ROHANI

Eksposisi Efesus 2:1-3 Oleh Arnold Berikut Akan Menolong Siapakah Musuh Sesungguhnya  Dalam Peperangan Rohani
- DUNIA (WORLD)–“Jalan dunia ini, ” (ay. 2)
- ROH JAHAT (DEVIL) roh yang sekarang bekerja di antara orang 2x durhaka” (ay. 2)
- DAGING (FLESH)–“. Hawa Nafsu Daging Dan Kehendak Daging Dan Pikiran Yang Jahat” (Ay. 3)

3. KETIGA MUSUH ITU DALAM ALKITAB SUDAH DIPREDIKSI AKAN TERLIBAT DALAM PEPERANGAN ROHANI. 

Dunia, tampak jelas terkait dengan masalah “duri” dari dalam tanah yang akan menumbuhkan kesulitan yang menjebak manusia ke dalam kuasa kegelapan (Kej. 3:17-18).  Roh jahat, yang dikutuk YahWE, akan selalu berusaha mencari “lubang” untuk menyerang umat TUhaN. 

Daging, sangat erat dengan “penderitaan” jasmani yang menyertai setiap orang (Kej. 3:16-17).  Mengenal komposisi setiap “musuh” ini akan menyiapkan gereja lebih waspada.  ada tiga pandangan mengenai komposisi ketiga musuh itu.  

1.Pertama, yakni pandangan yang mengabaikan roh jahat.  

2.Kedua, pandangan yang meyakini bahwa sebagian besar unsur dalam dunia dan daging telah dikuasai oleh roh jahat.  

3.Ketiga, pandangan yang melihat “ada” bagian dari dunia dan daging yang “rawan” terhadap pengaruh roh jahat.  Pandangan ketiga, yang oleh arnold disebut sebagai biblical perspective diterapkan dalam penelitian ini.

Melihat pemetaan dan macam musuh tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pola utama spiritual warfare yang biblikal adalah pola yang mengutamakan sensitivity, maksudnya “kepekaan spiritual terhadap berbagai macam aspek warfare.”  

Sensitivity Menjadikan Orang Lebih “berjagajaga” Ketimbang Strategy Yang Cenderung Membawa Niat Orang Untuk “menyerang,” Yang Jelas Bukan Wilayah Perang Bagi Orang Kristen. Hasil Utama: Yahwe Atau Ular?

Tema Spiritual Warfare Sudah Dicanangkan Seketika Sesudah Manusia Jatuh Ke Dalam Dosa Dengan Catatan Adanya Kutukan Yahwe Kepada Ular. Tampak Dalam Keputusan Protoevangelium Akan Adanya Keadilan Yahwe Yang Melampaui Kemampuan Berpikir Manusia.

Betapa tidak, manusia akan berpikir mengapa YahWE masih memberikan wilayah kekuasaan bagi ular untuk melawan dengan meremukkan “tumit”?  Mengapa tidak seketika dibasmi, sehingga tidak ada lagi kejahatan di bumi, bukan?  Inilah perbedaan cara pandang dan karakter manusia dibandingkan YahWE, yang adalah kebenaran dan keadilan.  

Sedangkan manusia terbatas dalam “gambar dan rupa” sebagai cermin sebagian sifat allah.

Perbedaan cara pandang dan karakter itulah yang menyebabkan orientasi spiritual warfare manusia lain dari cara YahWE.  

Manusia cenderung ofensif, dengan menyenangi hal-hal yang konfrontatif, spekulatif, dan spektakuler, yang semuanya rawan terhadap “tipu muslihat” roh kegelapan.  

Oleh karena itu penelitian ini tetap konsisten pada tokoh dan pola utama spiritual warfare sebagaimana telah diulas di atas.  Dan seiring dengan hal itu, berikut akan ditelaah posisi ular dipandang dari sudut YahWE yang memberikan kutukan:

1. Ular Makan “Tanah”
Tanah melambangkan kematian.  Jadi, sudah dipastikan kekalahan dan kematian roh kegelapan sejak awal. 

2. Ular Menerima “Kutukan”
YahWE memilih kata arar untuk menyatakan kutukan-Nya.   arar mempunyai makna “menghancurkan” atau “menumpaskan” seperti halnya perkataan anathema atau ara dalam PB.  Sekali lagi, kekalahan ada di pihak ular.

3. Ular Menyerang
Meskipun ular berada di posisi yang kalah, namun dia tetap “berbahaya.” Tumit menjadi gambaran posisi manusia yang lemah.  

Roh kegelapan akan menyerang di tempat yang lemah dari aspek kehidupan manusia. Begitulah yang terjadi dengan  Yudas sebagaimana dikatakan Yesus, “Bukan tentang kamu semua aku berkata. aku tahu, siapa yang telah Kupilih.  tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Yoh. 13:18).  

Peringatan Tajam Telah Diberikan Yesus Untuk Mengingat Kembali Pada Semua Peristiwa Bahaya Pencobaan Ular Di Eden Terhadap Adam Dan Hawa, Bahaya Ular Di Padang Gurun Terhadap Israel, Maupun Pencobaan Iblis Di Padang Gurun Terhadap Yesus Kristus.  

Dari Ketiga Jenis Pencobaan Tersebut, Tampak Hanya Yesus Kristus Yang Sanggup Menang Atas Serangan Roh Kegelapan.  Sekali Dikonfirmasikanlah Kemenangan Gereja Atas Roh Kegelapan, Hanya Di Dalam Kristus.

KESIMPULaN
Berdasarkan penelitian literaris di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1.PEPERANGAN ROHANI Menentukan Pertumbuhan Gereja, Dalam Menciptakan Kematangan Spiritual.  Kematangan Spiritual Tersebut Ialah Sikap “tenang” Yang Menjadi Tema Kerajaan Allah.  Jika Sikap Ini Mendominasi Gereja, Maka Dapat Diduga Akan Adanya Pertumbuhan Gereja Yang Berkualitas.  Jadi, Dapat Dikatakan Bahwa Pertumbuhan Yang Dimaksud Adalah Pertumbuhan Kualitatif.  
Memang Belum Dapat Dibuktikan Dalam Studi Ini Apakah Ada Pertumbuhan Spiritual Kualitatif Lainnya Yang Akhirnya Akan Mempengaruhi Pertumbuhan Gereja Secara Keseluruhan.

2. LINGKUP PEPERANGAN ROHANI
Tidak Hanya Terbatas Pada Fenomena Exorcism, Melainkan Pada Masalah Pandangan Dunia Yang Tersebar Masuk Ke Dalam Gereja.  

Kasus Dalam Gereja Yang dipersoalkan di sini membuktikan hal tersebut, karena ternyata intensitas spiritual warfare yang berlangsung di antara kedua fase tersebut pada dasarnya sama. 

Berkaitan dengan kesimpulan pertama di atas, perlu diperhatikan bahwa suasana “Tenang” Yang Dimaksud Dalam Kerajaan Allah Bukan Suasana “tenang” Dalam Pengertian “stagnan.”  Memang Akan Menarik Jika Diteliti Lebih Lanjut Apakah Dengan Terjadinya Perubahan Lingkup Spiritual Warfare, Akan Mempengaruhi Pertumbuhan Gereja.

3. Direkomendasikan untuk lebih jauh meneliti kualitas spiritual yang lain dalam pertumbuhan gereja sebagai indikator ada atau tidak adanya spiritual warfare dalam suatu gereja.  artinya, apakah suatu gereja akan mengalami pertumbuhan jika tidak memperhatikan masalah spiritual warfare?  apakah ada gereja yang bisa melepaskan diri dari spiritual warfare, dan tetap disebut sebagai suatu Tubuh Kristus? 

4. Direkomendasikan pula untuk menelaah lebih lanjut bagaimana pengaruhnya pada jumlah pertambahan jemaat sebagai akibat ada atau tidak adanya spiritual warfare di suatu gereja.  

Penelitian ini tentu penelitian kuantitatif yang akan membuktikan kualitas suatu gereja. akan menarik jika dilakukan penelitian untuk beberapa gereja sekaligus sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan fenomenologis yang akan berguna untuk penelitian ontologis.

APLIKASI

Menimbang Kesimpulan Yang Didapat Tersebut Di Atas, Dianjurkan Bagi Gereja Untuk Memperhatikan Beberapa Hal Berikut:

1. MENGADAKAN PRAKTIK PEPERANGAN ROHANI YANG ALKITABIAH.

Artinya, Tidak Ofensif, Melainkan mengembangkan sikap “tenang” yang menunjukkan kematangan spiritual dalam kehidupan setiap harinya.  
Perhatian Untuk Wilayah Peperangan Tidak Hanya Terkonsentrasi Pada Masalah Dunia Roh, Melainkan Pada Persoalan-persoalan Kebudayaan Yang Perlu Ditelaah Sifat Pemberontakannya Terhadap Allah, Sehingga Pada Akhirnya Dapat Menemukan Korelasi Dengan Perilaku Perseorangan Yang Perlu Diselamatkan.  Dengan Kata Lain, Orientasi Spiritual Warfare Ada Pada Manusia Dan Bukan Pada Dunia Roh, Tanpa Maksud Mengabaikan Tipu Muslihat Yang Dikerjakannya.

2. Meneliti Dengan Seksama Segala Macam Fenomena, Baik Okultis, Kultis, Maupun Pandangan Dunia Lainnya Sehingga Tidak Tertipu Oleh Permainan Roh Kegelapan.  Godaan Untuk Berorientasi Pada Masalahmasalah Yang Spektakuler, Cenderung Jatuh Pada Persoalan Yang Spekulatif, Padahal Dalam Spiritual Warfare Salah Satu Serangan Roh Kegelapan Adalah Bentuk-bentuk Yang Spekulatif.  Dengan Demikian Penelitian Ontologis-biblikal Perlu Selalu Dilakukan Dalam Gereja, Sehingga Pengajaran Yang Sehat Menjadi Tulang Punggung Pertumbuhan Gereja, Bukan Pada Manifestasi Roh Yang Spekulatif Tadi.

3. Mengevaluasi Segala Bentuk Pelayanan Yang Ada Di Gereja Menurut Prinsip Dan Praktik Spiritual Warfare Yang Dimaksud Dan Efektivitasnya Dalam Pertumbuhan Gereja Untuk Tahun Berikutnya.  Maksud Evaluasi Ini Adalah Menentukan Jenis Pelayanan Yang Sesuai Dengan Kebutuhan Gereja Namun Dalam Kontrol Kebenaran Alkitab, Dalam Lingkup Spiritual Warfare Yang Akan Berpengaruh Pada Masalah Pertumbuhan Gereja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

♥ ๐Œ๐„๐๐‰๐€๐ƒ๐ˆ ๐Œ๐€๐๐”๐’๐ˆ๐€ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ๐Œ๐„๐๐”๐‘๐”๐“ ๐๐€๐๐ƒ๐€๐๐†๐€๐ ๐€๐‹๐Š๐ˆ๐“๐€๐ ♥

ส€แด‡ษดแดœษดษขแด€ษด ส€แด€ส™แดœ, 21 า“แด‡ส™ส€แดœแด€ส€ษช 2024 | แด€สŸษชษด_แด‡sส€แดษด | 19 แดแด‡ษดษชแด› ส€แด‡แด€แด… ๐Ÿ—ฏ️ Bagaimanakah Caranya Untuk Memiliki Kehidupan Kristen_Yang Produktif ? ๐‘ท๐‘น๐‘ถ๐‘ณ๐‘ถ๐‘ฎ Renungan ini terinspirasi saat penulis sedang komunikasi tentang seorang pelayan Tuhan ( Gembala Umatv) yang seharusnya menjadi teladan bagi manusia tapi malah menjadi biang kerok bagi sesama ! ๐Ÿ—ฏ️ Kenapa Biang Kerok ? ๐Ÿ—จ️ Karena Menerut Penulis Pribadi Manusia yang tidak produktif perusak dimata Tuhan & keluarga serta sesama . Baiklah tidak usah panjang lebar kita akan bahas apa itu produktif & kenapa orang kristen harus produktif, silakan dengar sampai habis Produktivitas adalah topik yang marak dibicarakan hari ini. Begitu banyak artikel dan buku ditulis untuk menolong kita hidup produktif.[1] Produktivitas biasanya dikaitkan dengan kuantitas yang dihasilkan dalam satu kurun waktu tertentu. Makin banyak yang dihasilkan, makin produktif seseorang. Sebagian orang menyamakan hidup yang sibuk dengan bentuk hidup yang pro...

♥ ๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐Š๐‘๐ˆ๐’๐“๐„๐ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ♥

✦๐‘๐„๐๐”๐๐†๐€๐ ๐‰๐ฎ๐ฆ๐š๐ญ, 30 ๐€๐ ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐ฎ๐ฌ 2024.✦ ♥ ๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐Š๐‘๐ˆ๐’๐“๐„๐ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ♥ ๐ƒ๐€๐…๐“๐€๐‘ ๐ˆ๐’๐ˆ : 1. Bagaimana Menjadi Orang Kristen Yang Produktif ? 2. Mengapa Kita Perlu Bekerja Untuk Mencari Penghidupan ? 3. Mengapa Kita Perlu Berjuang Untuk Bertahan Hidup ? 4. Apakah Perbuatan Kita Penting Bagi Tuhan ? ๐๐„๐Œ๐๐€๐‡๐€๐’๐€๐ : Dengan produktif, rasa malas dalam jiwa akan tersingkir. Produktif merupakan aktivitas yang bermanfaat untuk mengembangkan diri. Menjadi produktif adalah pilihan yang terbaik untuk  dapat menjadi lebih baik. Sebab, waktu yang kamu miliki tidak terbuang sia-sia. Selain itu, orang yang produktif cenderung memiliki target dan prioritas yang jelas untuk masa depannya. ๐Ÿ—ฏ️ ๐๐„๐‘๐“๐€๐๐˜๐€๐€๐  1. BAGAIMANA MENJADI ORANG KRISTEN YANG PRODUKTIF ?  Firman Tuhan memerintahkan dalam 2 TESALONIKA 3:10-12 (TSI3.2) 10 karena waktu kita masih bersama, kami sudah mengajarkan, “Orang yang tidak mau bekerja tidak b...

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎ http://alinesron.blogspot.com/2024/03/kesembuhan-ilahi.html ✦Tersedia Dalam Korban Penebusan YESUS Untuk Semua Orang Yang Percaya✦ FIRMANNYA DALAM ; KELUARAN 15:26 (ILT3)   Lalu berfirmanlah Dia, “Jika engkau mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara YAHWEH, Elohimmu, dan engkau melakukan apa yang benar di mata-Nya, engkau memerhatikan perintah-Nya dan menjaga ketetapan-Nya, Aku tidak akan menimpakan ke atasmu semua tulah yang telah Aku timpakan kepada orang Mesir, karena Akulah YAHWEH, yang menyembuhkan kamu.” DAFTAR ISI A. Pendahuluan B. Dari mana datangnya penyakit? C. Maksud dari kesembuhan ilahi D. Dasar alkitabiah untuk kesembuhan ilahi E. langkah-langkah menerima kesembuhan dari Kristus F. Mengapa ada orang yang tidak menerima kesembuhan ilahi G. Penutup A. Pendahuluan Tentang kesembuhan ilahi ini, ada orang yang beranggapan (dari gereja-gereja tertentu) bahwa kesembuhan ilahi hanya terjadi pada masa Tuhan Yesus masih berada di bumi yait...