Langsung ke konten utama

๐Ÿ…ผ๐Ÿ…ด๐Ÿ…ฝ๐Ÿ…ถ๐Ÿ…ฐ๐Ÿ…ฟ๐Ÿ…ฐ ๐Ÿ†ˆ๐Ÿ…ด๐Ÿ†‚๐Ÿ†„๐Ÿ†‚ ๐Ÿ…ผ๐Ÿ…ด๐Ÿ…ฝ๐Ÿ…ฐ๐Ÿ…ฝ๐Ÿ…ถ๐Ÿ…ธ๐Ÿ†‚ ❓

@ 11 PELAJARAN DARI AIR MATA-NYA
Yesus, Anak Allah, Datang Ke Dunia Sebagai Manusia. Dia Mengalami Kepenuhan Kemanusiaan, Termasuk Sesuatu Yang Kita Ketahui Dengan Baik: Emosi. Mungkin Mengejutkan Untuk Berpikir Bahwa Yesus Menangis. Tidak Sekali, Tetapi Perjanjian Baru Mencatat Tiga Kali Bahwa Yesus Menunjukkan Perasaan-nya Melalui Air Mata-nya.
Mari Kita Lihat Teks-teks Alkitabiah Di Mana Kita Menemukan Episode-episode Itu.

DI ALKITAB TERCATAT ADA 3 KALI YESUS MENANGIS

PERTAMA KALI YESUS MENANGIS:

“Yesus menangis.” (Yohanes 11:35 KJV)
Yohanes 11:35 adalah ayat terpendek dalam terjemahan bahasa Inggris dari Alkitab. Ayat dua kata dari kitab Yohanes itu memberitahu kita tentang reaksi Yesus ketika Dia sampai di makam Lazarus, yang telah meninggal empat hari sebelumnya (Yohanes 11:39). Yesus dan Lazarus adalah teman dekat. Lazarus adalah saudara Maria dan Marta. Alkitab memberitahu kita bahwa Yesus mengasihi mereka (Yohanes 11:5).
Semua kesedihan atas kematian Lazarus itu membuat Yesus menangis. Dia kemudian mengubah kesedihan menjadi sukacita ketika Dia membangkitkan Lazarus (Yohanes 11:38-44). Namun mukjizat itu adalah titik kritis yang membuat para pemimpin agama memutuskan untuk membunuh-Nya (Yohanes 11:45-53).

KEDUA KALINYA YESUS MENANGIS:

Dan ketika dia sudah dekat, dia melihat kota itu, dan menangisinya,” (Lukas 19:41 KJV)

Lukas 19:28-40 menceritakan kepada kita tentang kemenangan Yesus Kristus masuk ke kota Yerusalem beberapa hari sebelum penyaliban-Nya. Saat itulah ayat 41 datang. Lukas adalah satu-satunya penginjil yang mencatat reaksi Yesus itu. Juruselamat kita tahu bahwa orang-orang Yerusalem akan segera menolak dan mengutuk Dia. Ia juga mengetahui malapetaka yang akan menimpa kota itu karenanya (Lukas 19:44), yang terjadi beberapa dekade kemudian, pada tahun 70 M.

KETIGA KALINYA YESUS MENANGIS:
“Siapa di zaman dagingnya, ketika dia telah memanjatkan doa dan permohonan dengan tangisan dan air mata yang kuat kepadanya yang mampu menyelamatkannya dari kematian, dan didengar dalam ketakutannya;” (Ibrani 5:7 KJV)

Konteks ayat ini tidak mengidentifikasi kapan peristiwa itu terjadi, tetapi jelas bahwa itu sangat dekat dengan kematian Yesus. Beberapa ahli mengaitkan referensi ini dengan doa Yesus di taman Getsemani, tepat sebelum Dia ditangkap (Matius 26:36-56; Markus 14:32-52; Lukas 22:40-53; Yohanes 18:1-11). Meskipun tidak ada penginjil yang menyebutkan bahwa Yesus menangis, mereka menulis bahwa Yesus sangat sedih (Matius 26:37; Markus 14:33-34) dan dalam penderitaan yang sedemikian rupa sehingga Dia mengeluarkan tetesan darah (Lukas 22:44).

Sarjana lain berpendapat bahwa Ibrani 5:7 terjadi ketika Yesus berada di kayu salib. Mereka menunjuk Mazmur 22:24 sebagai momen ketika Bapa mendengar doa Yesus, menghubungkan Mazmur 22 dengan penyaliban dan kebangkitan Yesus. Perhatikan bahwa Ibrani 2:12 juga membuat hubungan itu ketika penulis mengutip Mazmur 22:22 sebagai kata-kata yang diucapkan oleh Kristus Yesus sendiri. Yesus juga mengutip Mazmur 22:1 ketika Ia berada di kayu salib (Matius 27:46; Markus 15:34).

Meskipun Kitab Suci tidak menjelaskan mengapa Yesus menangis pada semua kesempatan itu, kita masih dapat menemukan kemungkinan alasan untuk air mata-Nya dan belajar darinya. Jadi, mari kita lihat 11 pelajaran yang diajarkan oleh air mata Yesus tentang Dia dan bagaimana kita harus menerapkannya dalam hidup kita.

11 Pelajaran untuk Kita
Pelajaran #1: Yesus sepenuhnya manusia
Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Yesus Kristus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia (Yohanes 1:1,14; Kolose 2:9; Titus 2:13; 1 Yohanes 4:2). Dia tidak kekurangan atribut ilahi atau manusia ketika Dia datang ke bumi. Konsep ini melampaui apa yang dapat dipahami oleh pikiran kita yang terbatas, tetapi itulah yang ditegaskan oleh Kitab Suci.

Sebagai manusia, Yesus mengalami semua yang dilakukan manusia, termasuk emosi manusia. Dia merasakan kesedihan (Matius 26:37), keajaiban (Matius 8:10), penderitaan (Lukas 22:44). Dan Dia menangis. Tubuhnya bukan hanya semacam cangkang untuk makhluk ilahi (Lukas 24:39).

Tangisannya, di antara manifestasi lainnya, menunjukkan kemanusiaan Yesus dan menegaskan bahwa Dia mengalami kehidupan manusia dalam segala aspek. Itulah sebabnya penulis Ibrani mengatakan bahwa kita memiliki Imam Besar yang dapat memahami kita dengan baik (Ibrani 4:14-16).

Pelajaran #2: Yesus menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang berduka
Injil Yohanes memberitahu kita bahwa, sebelum Yesus tiba di kota Betania, di mana makam Lazarus berada, Dia sudah tahu bahwa Dia akan menghidupkan kembali sahabat-Nya (Yohanes 11:11-15). Tujuannya adalah untuk menunjukkan kemuliaan Allah dan dimuliakan melalui mujizat yang menakjubkan itu (Yohanes 11:4). Namun, sebuah pertanyaan logis muncul di benak: jika Yesus tahu itu, mengapa Dia menangis?

Dia menangis karena Dia merasa kasihan pada mereka yang berduka untuk sahabat-Nya, terutama saudara perempuan Lazarus. Meskipun Dia akan memecahkan masalah secara ajaib, Dia masih mengambil bagian dalam kesedihan dan kesedihan orang-orang di sana.

Pelajaran #3: Yesus terganggu oleh kurangnya iman orang-orang
Ketika Yesus bertemu Marta di kuburan Lazarus, Dia mengatakan kepadanya bahwa Dia akan membangkitkan dia (Yohanes 11:20-28). Namun, dia dan Maria kemudian memberi tahu Yesus bahwa saudara laki-laki mereka tidak akan mati jika Dia datang lebih awal (Yohanes 11:21,32). Kemudian, Alkitab memberi tahu kita bahwa Yesus “mengerang dalam roh, dan gelisah” (Yohanes 11:33 KJV), tepat sebelum Dia menangis.

Beberapa hari sebelumnya, murid-murid Yesus juga tidak percaya kepada-Nya ketika Dia memberi tahu mereka rencana-Nya (Yohanes 11:11-16). Tampaknya setiap orang di sana berpikir sudah terlambat bagi Yesus untuk melakukan sesuatu tentang hal itu (Yohanes 11:37). Lazarus telah mati selama empat hari saat itu (Yohanes 11:39). Itu mungkin menunjukkan bahwa Yesus juga menangis karena kurangnya iman mereka. Tidak ada yang percaya bahwa kebangkitan Lazarus bahkan mungkin. Mereka mungkin tidak berpikir bahwa kuasa Yesus dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati.

Pelajaran #4: Yesus menunjukkan kesedihan bagi mereka yang menolak Dia
Saat memasuki kota Yerusalem, Yesus menangis memikirkan kehancuran besar yang akan menimpa kota itu sebagai akibat dari penolakan mereka terhadap-Nya (Lukas 19:41-44). Dia sedih karena Dia tahu bahwa kota besar itu tidak akan menikmati kedamaian-Nya.
Beberapa hari kemudian, orang-orang Yerusalem meminta Pilatus untuk menyalibkan Yesus, meskipun Dia adalah orang yang tidak bersalah (Lukas 23:13-25). Namun, Dia sedih untuk mereka (Lukas 23:27-29). Perhatikan bahwa ini bukan pertama kalinya Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya atas penolakan Yerusalem (lihat Matius 23:37-39).

Pelajaran #5: Yesus menanggung penderitaan yang tak terbayangkan menggantikan kita

Terakhir kali Yesus menangis adalah menjelang saat kematian-Nya, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dia telah menanggung penderitaan yang mendalam di taman Getsemani untuk mengantisipasi apa yang akan datang. Segera setelah itu, Dia ditangkap, disiksa, dihina, dan dicemooh. Kemudian, Dia disalibkan. Hukuman mati ini adalah hukuman paling memalukan yang dijatuhkan Kekaisaran Romawi kepada para penjahat terburuk.
Di kayu salib, Yesus menanggung dosa dunia (1 Yohanes 2:2), jadi Dia memuaskan murka Allah (Yesaya 53:5-11; Ibrani 9:26). Di sana, entah bagaimana, Dia mengalami pengabaian Bapa (Matius 27:46; Markus 15:34; Mazmur 22:1).
Air mata Yesus mengingatkan kita tentang apa yang telah Dia lalui bagi kita. Yesus Kristus, Anak Allah, satu-satunya manusia tanpa dosa yang pernah hidup, membayar harga dosa kita untuk memungkinkan kita diampuni dan memiliki hidup yang kekal bersama Allah (Yohanes 3:16; Roma 5:1,8-9) .

Pelajaran #6: Yesus peduli dengan kita

Melihat tiga episode yang menyebutkan bahwa Yesus menangis, kita dapat melihat bagaimana Yesus peduli kepada kita, manusia. Pertama, Dia menangis bersama mereka yang berduka, tidak mengabaikan rasa sakit mereka. Kedua, Dia menangisi mereka yang akan menolak Dia, tidak mengabaikan nasib buruk mereka. Ketiga, Dia menangis kepada Bapa, tidak menyerah pada misi-Nya untuk membayar harga yang mengerikan bagi dosa-dosa kita.
Air mata Yesus menunjukkan bahwa Dia peduli kepada kita. Bahkan, Dia menunjukkan betapa Dia mengasihi kita (Yohanes 15:13), meskipun kita tidak pantas mendapatkannya (Roma 5:8). Dan air mata itu juga mengingatkan kita akan sebuah janji yang berharga: suatu hari nanti, Tuhan sendiri yang akan menghapus setiap air mata dari mata kita, dan tidak akan ada lagi alasan untuk menangis lagi (Wahyu 21:4).


Pelajaran #7: Yesus berduka atas dosa manusia
Tiga episode ketika Yesus menangis memberi kita beberapa contoh konsekuensi dosa yang membawa air mata kesedihan ke mata Tuhan kita:

Kematian Lazarus adalah pengingat akan kenyataan kematian yang dibawa oleh dosa. Alkitab memberitahu kita bahwa “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23 KJV). Kematian pertama kali memasuki dunia dengan kejatuhan Adam dan Hawa (Kejadian 2:16-17, 3:17-19,22-24).
Orang-orang di kota Yerusalem berdosa ketika mereka menolak Yesus.
Yesus tidak pernah berbuat dosa (Ibrani 7:26; 1 Petrus 2:22), tetapi Ia membayar harga dosa kita dan menanggung akibatnya sendiri (2 Korintus 5:21). Kematian Yesus sendiri terjadi karena dosa, dosa kita. Bapa kita yang pengasih memberikan Anak-Nya sendiri untuk membayar mereka (Yohanes 3:16).
Dosa adalah alasan mendasar yang membawa air mata itu ke mata Yesus.

Pelajaran #8: Kita harus menangisi dosa kita
Kecuali Yesus, setiap manusia berdosa (Roma 3:23). Itulah realitas dari sifat manusia kita yang telah jatuh. Namun, kita tidak bisa membiasakan diri. Setiap kali kita menyadari bahwa kita telah melanggar Firman Tuhan, itu pasti membawa rasa sedih yang mendalam dan membuat kita menangis.

Yesus menangisi kehadiran dosa di dunia dan konsekuensinya. Dia menangisi penderitaan yang Dia alami untuk membayar dosa-dosa kita. Kita tidak boleh melupakan itu. Kita harus mengingat malapetaka dosa, betapa mengerikannya itu, dan apa yang diwakilinya: pelanggaran terhadap Allah kita yang pengasih. Jika kita mengasihi Dia, kita harus menangisi dosa kita (Yakobus 4:8-9).

Pelajaran #9: Kita harus menangisi dosa orang lain
Ketika Yesus menghadapi ketidakpercayaan dan penolakan, dia merasakan kesedihan bagi orang-orang. Dia menangisi dosa mereka dan konsekuensinya. Nabi Yeremia menangisi “sungai air mata” atas kehancuran Yerusalem (Ratapan 3:46-51), yang merupakan konsekuensi dari dosa bangsa Israel. Rasul Paulus menangisi orang-orang percaya dan tidak percaya (Kisah Para Rasul 20:31; Roma 9:1-3; 2 Korintus 2:4; Filipi 3:18).

Itulah contoh-contoh yang harus kita ikuti. Daripada menghakimi orang (Yakobus 4:12), kita harus menangisi dosa mereka (Mazmur 119:136). Kita harus merasa sedih dan berdoa untuk mereka, meminta Tuhan untuk mengampuni mereka, membantu mereka bertobat, dan mengubah cara mereka.

Pelajaran #10: Menangis bukanlah tanda kelemahan
Air mata Yesus menunjukkan kepada kita bahwa ada situasi di mana menangis tidak hanya pantas, tetapi juga hal yang benar untuk dilakukan. Alkitab memberitahu kita untuk “bersukacita dengan mereka yang bersukacita, dan menangis dengan mereka yang menangis” (Roma 12:15 KJV). Itulah yang Yesus lakukan di Betania. Dia juga mengungkapkan kesedihan dan penderitaan-Nya melalui air mata-Nya. Dia tidak menyembunyikannya. Perjanjian Lama memberi tahu kita bahwa Mesias akan menjadi “seorang yang penuh kesengsaraan, dan biasa menderita” (Yesaya 53:3 KJV).

Yesus menunjukkan kepada kita bahwa tidak apa-apa untuk berduka, mengakui rasa sakit kita di saat-saat sulit, dan menangis, bahkan jika kita percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Air mata bukanlah tanda ketidakpercayaan. Kita harus belajar dari Yesus dan bebas untuk mengungkapkan rasa sakit kita, kesedihan kita dan menjangkau Tuhan dengan air mata kita karena Dia tidak mengabaikannya (Mazmur 34:15, 56:8).

Pelajaran #11: Air mata Yesus menginspirasi kita untuk mengikuti teladan-Nya

Ada banyak pelajaran yang bisa kita pelajari dari air mata Yesus. Kita dapat belajar dari-Nya dan mengikuti teladan-Nya kapan pun kita berada dalam situasi yang sama:

Ketika kita menemukan diri kita berada di antara orang-orang yang menderita, kita harus berempati dan menangis bersama mereka (Roma 12:15).

Ketika kita melihat ketidakpercayaan pada orang lain, kita harus tetap percaya (2 Korintus 5:7).

Ketika orang menolak kita dan pesan Injil yang kita bawa, kita tidak boleh merasa kesal atau dendam (Matius 5:11-12; Roma 12:19). Kita harus merasa sedih karena dosa yang menjauhkan mereka dari satu-satunya Allah yang benar (Lukas 23:34, Kisah Para Rasul 7:59-60).

Ketika kita menderita bagi Yesus, kita harus yakin akan rencana Allah (Roma 8:28-29). Bahkan jika kita mati, kita tahu bahwa ketika Yesus datang kembali pada hari terakhir, Dia akan membangkitkan kita, dan kita akan menikmati hidup yang kekal bersama-Nya (Yohanes 6:40).

Kesimpulan

Yesus Kristus menangis bersama mereka yang berduka, meskipun Dia tahu Dia akan memperbaiki situasi dalam waktu singkat. Dia menangisi mereka yang menolak Dia, karena Dia tahu konsekuensi dari pilihan mereka. Dan, ketika Dia sendiri menderita, Dia menangis kepada Bapa, kepada satu-satunya Dia yang dapat melakukan sesuatu tentang hal itu. Semoga kita belajar dari Dia dan melakukan yang terbaik untuk menjalani hidup kita dengan cara yang menghormati air mata-Nya dan membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

♥ ๐Œ๐„๐๐‰๐€๐ƒ๐ˆ ๐Œ๐€๐๐”๐’๐ˆ๐€ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ๐Œ๐„๐๐”๐‘๐”๐“ ๐๐€๐๐ƒ๐€๐๐†๐€๐ ๐€๐‹๐Š๐ˆ๐“๐€๐ ♥

ส€แด‡ษดแดœษดษขแด€ษด ส€แด€ส™แดœ, 21 า“แด‡ส™ส€แดœแด€ส€ษช 2024 | แด€สŸษชษด_แด‡sส€แดษด | 19 แดแด‡ษดษชแด› ส€แด‡แด€แด… ๐Ÿ—ฏ️ Bagaimanakah Caranya Untuk Memiliki Kehidupan Kristen_Yang Produktif ? ๐‘ท๐‘น๐‘ถ๐‘ณ๐‘ถ๐‘ฎ Renungan ini terinspirasi saat penulis sedang komunikasi tentang seorang pelayan Tuhan ( Gembala Umatv) yang seharusnya menjadi teladan bagi manusia tapi malah menjadi biang kerok bagi sesama ! ๐Ÿ—ฏ️ Kenapa Biang Kerok ? ๐Ÿ—จ️ Karena Menerut Penulis Pribadi Manusia yang tidak produktif perusak dimata Tuhan & keluarga serta sesama . Baiklah tidak usah panjang lebar kita akan bahas apa itu produktif & kenapa orang kristen harus produktif, silakan dengar sampai habis Produktivitas adalah topik yang marak dibicarakan hari ini. Begitu banyak artikel dan buku ditulis untuk menolong kita hidup produktif.[1] Produktivitas biasanya dikaitkan dengan kuantitas yang dihasilkan dalam satu kurun waktu tertentu. Makin banyak yang dihasilkan, makin produktif seseorang. Sebagian orang menyamakan hidup yang sibuk dengan bentuk hidup yang pro...

♥ ๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐Š๐‘๐ˆ๐’๐“๐„๐ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ♥

✦๐‘๐„๐๐”๐๐†๐€๐ ๐‰๐ฎ๐ฆ๐š๐ญ, 30 ๐€๐ ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐ฎ๐ฌ 2024.✦ ♥ ๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐Š๐‘๐ˆ๐’๐“๐„๐ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ♥ ๐ƒ๐€๐…๐“๐€๐‘ ๐ˆ๐’๐ˆ : 1. Bagaimana Menjadi Orang Kristen Yang Produktif ? 2. Mengapa Kita Perlu Bekerja Untuk Mencari Penghidupan ? 3. Mengapa Kita Perlu Berjuang Untuk Bertahan Hidup ? 4. Apakah Perbuatan Kita Penting Bagi Tuhan ? ๐๐„๐Œ๐๐€๐‡๐€๐’๐€๐ : Dengan produktif, rasa malas dalam jiwa akan tersingkir. Produktif merupakan aktivitas yang bermanfaat untuk mengembangkan diri. Menjadi produktif adalah pilihan yang terbaik untuk  dapat menjadi lebih baik. Sebab, waktu yang kamu miliki tidak terbuang sia-sia. Selain itu, orang yang produktif cenderung memiliki target dan prioritas yang jelas untuk masa depannya. ๐Ÿ—ฏ️ ๐๐„๐‘๐“๐€๐๐˜๐€๐€๐  1. BAGAIMANA MENJADI ORANG KRISTEN YANG PRODUKTIF ?  Firman Tuhan memerintahkan dalam 2 TESALONIKA 3:10-12 (TSI3.2) 10 karena waktu kita masih bersama, kami sudah mengajarkan, “Orang yang tidak mau bekerja tidak b...

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎ http://alinesron.blogspot.com/2024/03/kesembuhan-ilahi.html ✦Tersedia Dalam Korban Penebusan YESUS Untuk Semua Orang Yang Percaya✦ FIRMANNYA DALAM ; KELUARAN 15:26 (ILT3)   Lalu berfirmanlah Dia, “Jika engkau mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara YAHWEH, Elohimmu, dan engkau melakukan apa yang benar di mata-Nya, engkau memerhatikan perintah-Nya dan menjaga ketetapan-Nya, Aku tidak akan menimpakan ke atasmu semua tulah yang telah Aku timpakan kepada orang Mesir, karena Akulah YAHWEH, yang menyembuhkan kamu.” DAFTAR ISI A. Pendahuluan B. Dari mana datangnya penyakit? C. Maksud dari kesembuhan ilahi D. Dasar alkitabiah untuk kesembuhan ilahi E. langkah-langkah menerima kesembuhan dari Kristus F. Mengapa ada orang yang tidak menerima kesembuhan ilahi G. Penutup A. Pendahuluan Tentang kesembuhan ilahi ini, ada orang yang beranggapan (dari gereja-gereja tertentu) bahwa kesembuhan ilahi hanya terjadi pada masa Tuhan Yesus masih berada di bumi yait...