Langsung ke konten utama

TUGAS SEORANG PENJAGA

๐—ง๐—จ๐—š๐—”๐—ฆ ๐—ฆ๐—˜๐—ข๐—ฅ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—๐—”๐—š๐—”
Petunjuk-petunjuk lanjutan di atas diberikan Allah kepada sang nabi sesudah tujuh hari, yaitu, pada hari ketujuh setelah penglihatan yang diperolehnya. Sangat mungkin, penglihatan itu dan Firman yang berisi petunjuk ini datang pada hari Sabat, hari yang oleh kaum Israel, bahkan dalam masa pembuangan, masih mereka jalankan sebaik mungkin dalam kondisi mereka saat itu. Kita tidak melihat para penakluk dan penindas mereka mengekang mereka supaya tidak melakukan acara-acara ibadah, seperti yang dilakukan kepala-kepala rodi Mesir dahulu, sebaliknya dalam pembuangan itu mereka boleh menjalankan hari perhentian Sabat sebagai tanda yang membedakan antara mereka dan bangsa-bangsa sekitar. Namun, untuk beribadah pada hari Sabat, mereka tidak memiliki tempat yang sesuai seperti bait Allah atau sinagoge. Tampaknya, mereka hanya memiliki tempat di tepi sungai, tempat di mana sembahyang biasa dilakukan (seperti Kis. 16:13). Di sanalah, mereka berkumpul pada hari Sabat. Di sanalah, para musuh mereka mencela mereka dengan nyanyian dari Sion (Mzm. 137:1, 3). 

Di sanalah, Yehezkiel menjumpai mereka, dan barulah pada saat itu dan di tempat itu Firman Tuhan datang kepadanya. Ia yang telah memikirkan dan merenungkan perkara-perkara Allah sepanjang minggu itu pantas berbicara dengan bangsa itu dalam nama Allah pada hari Sabat, dan siap mendengar Allah berbicara kepadanya. Pada hari Sabat kali ini Yehezkiel tidak begitu ditinggikan dengan penglihatan akan kemuliaan Allah seperti yang ia alami pada Sabat sebelumnya. Namun, dengan jelas, dan dengan suatu kiasan perbandingan yang biasa, ia diberi tahu tentang tugasnya, yang harus disampaikannya kepada bangsa itu. Perhatikanlah, pengalaman pengangkatan dan sukacita mendalam bukanlah makanan sehari-hari anak-anak Allah, sekalipun pada kesempatan-kesempatan khusus mereka pernah menikmatinya. Kita tidak boleh menyangkal bahwa kita tidak memiliki persekutuan sejati dengan Allah (1Yoh. 1:3), walaupun kita tidak selalu bisa merasakannya dengan jelas seperti pada waktu-waktu tertentu. Dan, sekalipun misteri kerajaan sorga sesekali bisa diintip ke dalam, biasanya kerajaan sorga dikenal melalui khotbah biasa yang terutama ditujukan untuk meneguhkan iman. Allah di sini memberi tahu sang nabi apa yang menjadi tugasnya, dan apa kewajiban dari tugas itu. 

Pastilah hal ini yang harus ia sampaikan kepada bangsa itu, agar mereka memperhatikan apa yang ia katakan dan memperbaiki diri seturut dengan itu. 

I. ๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—›๐—”๐—ง๐—œ๐—ž๐—”๐—ก ๐—จ๐— ๐—”๐—ง ๐—ง๐—จ๐—›๐—”๐—ก 
perlu mengetahui dan memikirkan tugas apa yang diemban para pelayan Tuhan atas mereka dan pertanggungjawaban apa yang harus segera mereka berikan untuk tugas itu. Amatilah,

I. TUGAS APA YANG MENJADI PANGGILAN SANG NABI:
 Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel (ay. 17). Penglihatan yang dilihatnya membuatnya tertegun. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dengan penglihatan itu. Oleh karena itu, Allah memakai kiasan yang sederhana ini, yang dapat menuntunnya dengan lebih baik dalam memahami tugasnya dan dengan demikian membuatnya merasa damai dalam menerima tugas itu. Ia duduk di antara orang-orang buangan, dan tidak bicara banyak, tetapi Allah datang kepadanya, dan memberitahunya bahwa tidak ada guna berbuat seperti itu. Ia adalah seorang penjaga, ia harus berbicara kepada mereka. Ia ditunjuk menjadi penjaga di dalam kota, menjaga terhadap kebakaran, pencurian, dan pengganggu keamanan. Ia ditunjuk sebagai penjaga kawanan, menjaga terhadap pencuri dan binatang buas pemangsa. Akan tetapi, ia terutama ditunjuk sebagai penjaga perkemahan, di negeri yang sedang diserang atau kota yang dikepung, yaitu untuk mengamati pergerakan musuh, dan membunyikan tanda peringatan saat bahaya mendekat, bahkan, saat ada tanda-tanda pertama bahaya bisa muncul. Ini mengartikan bahwa kaum Israel sedang ada dalam keadaan darurat militer, dan sedang berjaga-jaga terhadap musuh, yang cerdik dan tidak kenal lelah dalam upaya menyerang Israel. Memang benarlah demikian, setiap anggota kaum itu ada dalam bahaya dan harus berjaga-jaga. Perhatikanlah, para pelayan Tuhan adalah penjaga di atas tembok-tembok jemaat (Yes. 62:6), penjaga yang berkeliling kota (Kid. 3:3, KJV). Tugas ini adalah tugas yang berat. Penjaga harus tetap terjaga, meskipun mereka sangat mengantuk, harus selalu ada di luar, sekalipun cuaca sangat dingin. Mereka harus bertahan dalam segala cuaca di tempat peninjauan (Yes. 21:8; Kej. 31:40). Tugas ini adalah tugas yang berbahaya. Adakalanya mereka tidak bisa mempertahankan tempat penjagaannya, dan berada dalam bahaya binasa oleh musuh, yang akan mendapatkan kemenangan jika mereka membunuh prajurit-prajuritnya. Namun, mereka tidak berani meninggalkan tempat penjagaannya karena takut mati dihukum panglima perang. Keadaan serba salah seperti inilah yang dihadapi para penjaga jemaat. Manusia akan mengutuk mereka jika mereka setia, dan Allah akan mengutuk mereka jika mereka mungkir. Akan tetapi, tugas ini adalah tugas yang penting. Kaum Israel tidak bisa aman tanpa para penjaga. Meskipun demikian, jikalau bukan TUHAN yang mengawal, sia-sialah pengawal berjaga-jaga (Mzm. 127:1-2).

II. APAKAH KEWAJIBAN DARI TUGAS INI.

(1) PEKERJAAN SEORANG PENJAGA ADALAH MEMPERHATIKAN DAN MEMBERI PERINGATAN ‼️

1. Sang nabi, sebagai seorang penjaga, harus memperhatikan apa yang Allah katakan mengenai umatnya, bukan hanya mengenai keseluruhan tubuh umat, yang sering kali menjadi sasaran nubuat Yeremia dan nabi-nabi lain, tetapi juga mengenai orang-orang tertentu, sesuai dengan wataknya. Ia tidak boleh, seperti penjaga-penjaga lain, melihat ke sekeliling untuk mengintai bahaya dan mencari tahu, melainkan ia harus melihat ke atas kepada Allah. Selain Allah, ia tidak perlu melihat ke arah yang lain: Dengarkan sesuatu firman dari pada-Ku (ay. 17). Perhatikanlah, mereka yang mau memberitakan Firman, harus mendengarkan Firman terlebih dahulu. Sebab, bagaimana mungkin orang dapat mengajar orang lain kalau mereka sendiri tidak belajar terlebih dahulu?

2. Ia harus memperhatikan apa yang ia dengar. Seperti seorang penjaga harus memiliki mata di kepalanya, demikian pula ia harus memiliki lidah di kepalanya. Jika ia bisu, sama buruknya dengan jika ia buta (Yes. 56:10). Engkau harus memperingatkan mereka atas nama-Ku, bunyikan tanda peringatan di gunung kudus. Bukan dalam namanya sendiri, sebagai datang dari dirinya sendiri, tetapi dalam nama Allah, dan dari Allah.

PARA PELAYAN TUHAN ADALAH MULUT ALLAH BAGI ANAK-ANAK MANUSIA. Kitab Suci ditulis untuk menjadi peringatan bagi kita. Hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu (Mzm. 19:12, KJV: Oleh Kitab Suci hamba-Mu diperingatkan). Namun, karena yang disampaikan vivรข voce – dengan suara yang hidup, biasanya membuat tampak paling berkesan, maka Allah senang menggunakan manusia, seperti kita sendiri, yang sama-sama harus diperingatkan, untuk menekankan kepada kita hal-hal yang diperingatkan dalam Firman yang tertulis. Nah, sang nabi, dalam pemberitaannya, harus membedakan antara orang jahat dan orang benar, orang berharga dan orang keji. Selain itu, dalam penerapannya, sang nabi harus menyesuaikan peringatannya kepada masing-masing orang, memberikan peringatan kepada setiap orang sesuai dengan bagiannya. Jika sang nabi melakukan hal ini, ia akan merasakan ketenangan, apa pun hasilnya, tetapi, jika ia tidak melakukannya, ia akan dimintai pertanggungan jawab.

(1) Sebagian orang yang harus dihadapinya adalah orang jahat, dan ia harus memperingatkan mereka untuk tidak terus hidup dalam kejahatannya, tetapi berbalik daripadanya (ay. 18-19). Kita amati di sini,

[1] Bahwa Allah semesta langit telah mengatakannya, dan memang mengatakannya, kepada setiap orang jahat, bahwa jika ia tetap hidup dalam pelanggaran-pelanggarannya, ia pasti dihukum mati. Kesalahannya tidak diragukan lagi pasti menjadi kehancurannya. Kesalahannya mendorongnya pada kehancuran dan akan berakhir dalam kehancuran. Engkau akan sekarat, engkau akan mati. Engkau akan mati dalam kematian yang mengerikan, akan mati selamanya, selalu sekarat, tetapi tidak pernah mati. Orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, akan mati karena perasaan bersalah, mati karena dikuasai oleh kesalahannya.

[2] Bahwa jika seorang jahat berbalik dari kejahatannya, dan dari hidupnya yang jahat, ia akan tetap hidup, dan kehancuran yang diancamkan kepadanya akan dicegah. Supaya ia dapat berbuat demikian, ia diperingatkan akan bahaya yang dihadapinya. Orang jahat akan mati jika ia tetap dalam kejahatannya, tetapi akan hidup jika ia bertobat. Amatilah, ia harus berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat. Tidak cukup orang hanya berbalik dari hidupnya yang jahat melalui perubahan di luar saja, yang bisa saja akibat dosanya meninggalkan dia, dan bukan ia meninggalkan dosanya. Namun, ia harus berbalik dari kejahatannya, dari cintanya pada kejahatan itu serta kecenderungan hatinya untuk kejahatan itu, melalui pembaruan dari dalam. Jika ia tidak sampai berbalik dari hidupnya yang jahat, kecil harapan bahwa ia akan berbalik dari kejahatannya.

[3] Bahwa tugas para pelayan Tuhanlah untuk memperingatkan orang berdosa akan bahaya dosa sekaligus meyakinkan mereka akan manfaat pertobatan, untuk memperhadapkan kepada mereka betapa menyedihkannya nasib mereka jika mereka tetap dalam dosa, dan betapa bahagianya mereka jika saja mereka mau bertobat dan berubah. Perhatikanlah, pelayanan Firman adalah mengenai perkara kehidupan dan kematian, karena perkara-perkara inilah yang diperhadapkan kepada kita, berkat dan kutuk, agar kita dapat selamat dari kutuk dan mewarisi berkat.

[4] Bahwa, sekalipun para pelayan tidak memperingati orang jahat seperti seharusnya mengenai penderitaan dan bahaya yang akan mereka hadapi, hal itu tidaklah menjadi alasan bagi orang jahat untuk tetap hidup dalam pelanggaran. Karena, sekalipun sang penjaga tidak memperingatkan mereka, mereka akan mati dalam kesalahannya, sebab mereka sudah cukup mendapat peringatan melalui segala bentuk pemeliharaan Allah dan melalui hati nurani mereka sendiri. Karena itu, jika mereka mengindahkan peringatan itu, mereka pasti tetap hidup.

[5] Bahwa, jika pelayan Tuhan tidak setia terhadap tugas yang dipercayakan kepada mereka, jika mereka tidak memperingatkan orang berdosa akan akibat mematikan dari dosa, tetapi membiarkan mereka tetap hidup dalam dosa tanpa ditegur, maka nyawa orang yang binasa akibat kelalaian mereka itu akan dituntut daripadanya. Kelalaian itu akan dituntut dari mereka pada hari pertanggungan jawab bahwa, akibat ketidaksetiaan mereka, jiwa berharga orang ini dan yang lainnya binasa dalam dosa. Sebab siapa yang bisa tahu akibatnya jika ia tidak mendapat peringatan yang adil sehingga bisa sempat lari dari murka yang akan datang? Dan, kalau terlibat dalam membantu membunuh tubuh yang dapat mati saja sudah merupakan kesalahan yang sangat keji, maka bagaimana jadinya bila orang terlibat dalam membantu menghancurkan jiwa yang tidak dapat mati?

[6] Bahwa jika pelayan Tuhan melakukan tugasnya memperingatkan orang berdosa, sekalipun peringatan itu tidak diindahkan, mereka akan mendapat kepuasan ini, bahwa mereka bersih dari tuntutan nyawa orang berdosa itu, dan telah menyelamatkan nyawanya sendiri, sekalipun mereka tidak berhasil menyelamatkan nyawa orang berdosa itu. Orang-orang yang setia akan mendapat upahnya, sekalipun mereka tidak berhasil.

(2) Sebagian orang yang harus dihadapinya adalah orang benar, setidaknya ia punya alasan untuk berpikir, dan menilai dalam kemurahan hati, bahwa mereka adalah orang benar. Ia harus memperingatkan mereka agar tidak murtad dan berbalik dari kebenarannya (ay. 20-21). Kita mengamati di sini,

[1] Orang paling benar di dunia sekalipun perlu diingatkan terhadap kesesatan, dan diberi tahu bahayanya jika mereka sesat atau disesatkan. Hamba-hamba Allah harus diperingatkan (Mzm. 19:12) agar tidak melalaikan tugasnya dan menghentikan pelayanannya. Salah satu cara yang baik untuk menjaga kita dari kejatuhan adalah terus memiliki rasa takut yang kudus akan kejatuhan (Ibr. 4:1). Biarlah kita merasa takut (KJV). Bahkan, dalam Roma 11:20 dikatakan bahwa orang-orang yang tercacak tegak dalam iman tidak boleh sombong, tetapi takutlah, dan dengan demikian menjadi waspada.

[2] Ada kebenaran yang orang bisa berbalik darinya, yaitu kebenaran yang palsu, dan, jika manusia berbalik dari kebenaran ini, maka nyata bahwa kebenaran itu tidak pernah tulus, betapapun baiknya, bahkan, betapapun pantasnya kebenaran itu kelihatannya. Sebab, jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita (1Yoh. 2:19). Ada banyak orang yang mulai dengan Roh, tetapi mengakhirinya di dalam daging, yang menghadapkan mukanya ke langit, tetapi menoleh ke belakang. Ada banyak orang yang memiliki kasih yang mula-mula, tetapi kehilangan kasih itu, dan berbalik dari perintah kudus.

[3] Ketika orang berbalik dari kebenarannya, mereka segera belajar berbuat kesalahan. Ketika mereka mulai ceroboh dan lalai dalam tugasnya menyembah Allah, mengabaikannya, atau sembrono dalam melakukannya, mereka menjadi mangsa empuk bagi si pencoba. Kelalaian membuka jalan untuk kejahatan.

[4] Ketika orang berbalik dari kebenarannya, dan berbuat curang, maka adillah bagi Allah untuk meletakkan batu sandungan di hadapannya, agar mereka bertambah buruk dan semakin buruk, sampai mereka siap dituai untuk kehancuran. Ketika Firaun mengeraskan hatinya, Allah mengeraskan hatinya. Ketika orang berdosa berbalik dari Allah, meninggalkan tugasnya, dan dengan demikian mengaibkannya, Allah, dalam cara penghakiman-Nya yang benar, bukan hanya menarik kasih karunianya yang melindungi mereka dan menyerahkan mereka pada keinginan hatinya, tetapi juga menyeret mereka, dalam penyelenggaraan-Nya, ke dalam keadaan yang mendorong mereka untuk melakukan dosa dan mempercepat kehancuran mereka. Bagi orang-orang ini Kristus menjadi batu yang membuat orang terantuk, batu yang membuat mereka jatuh (1Ptr. 2:8, KJV).

[5] Kebenaran yang dilepaskan orang tidak akan diingat lagi sebagai kehormatan atau kebahagiaannya. Kebenaran itu tidak akan berguna apa-apa bagi mereka baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Orang murtad kehilangan semua yang dikerjakannya. Segala pelayanan dan pengorbanan mereka semua sia-sia, dan tidak akan pernah diperhitungkan, karena mereka tidak bertekun di dalamnya. Ada suatu aturan dalam hukum, Factum non dicitur, quod non perseverat – Kita diakui melakukan sesuatu hanya jika kita melakukannya dengan tekun (Gal. 3:3-4).

[6] Apabila pelayan Tuhan tidak memperingatkan dengan adil sebagaimana seharusnya terhadap orang-orang benar akan kelemahannya, akan kemungkinan mereka untuk tersandung dan jatuh, akan pencobaan tertentu yang dihadapi mereka, dan akan akibat mematikan dari kemurtadan, maka kehancuran orang-orang yang murtad akan memanggil dari depan pintu para pelayan Tuhan, dan mereka harus menjawabnya. Bukan berarti bahwa orang-orang yang diperingatkan di sini akan melawan, dan berbalik dari kebenarannya. Sebaliknya, berbeda dengan orang jahat, orang yang benar, setelah diperingatkan, mengindahkan peringatan itu dan tidak berbuat dosa (ay. 21). Sebab, jika engkau memberi orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak. Kita bukan hanya tidak boleh membuai orang jahat, bahkan orang benar pun tidak boleh dibuai, bahwa mereka seratus persen aman-aman saja di mana pun di sisi sebelah sorga ini.

[7] Jika pelayan Tuhan memberi peringatan, dan umat mengindahkannya, hal itu baik bagi keduanya. Tidak ada yang lebih indah daripada teguran orang yang bijak untuk telinga yang mendengar. Yang satu akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan yang lainnya telah menyelamatkan nyawanya. Apa lagi yang lebih diinginkan seorang pelayan Tuhan selain menyelamatkan dirinya dan semua orang yang mendengarnya? (1Tim. 4:16)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

♥ ๐Œ๐„๐๐‰๐€๐ƒ๐ˆ ๐Œ๐€๐๐”๐’๐ˆ๐€ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ๐Œ๐„๐๐”๐‘๐”๐“ ๐๐€๐๐ƒ๐€๐๐†๐€๐ ๐€๐‹๐Š๐ˆ๐“๐€๐ ♥

ส€แด‡ษดแดœษดษขแด€ษด ส€แด€ส™แดœ, 21 า“แด‡ส™ส€แดœแด€ส€ษช 2024 | แด€สŸษชษด_แด‡sส€แดษด | 19 แดแด‡ษดษชแด› ส€แด‡แด€แด… ๐Ÿ—ฏ️ Bagaimanakah Caranya Untuk Memiliki Kehidupan Kristen_Yang Produktif ? ๐‘ท๐‘น๐‘ถ๐‘ณ๐‘ถ๐‘ฎ Renungan ini terinspirasi saat penulis sedang komunikasi tentang seorang pelayan Tuhan ( Gembala Umatv) yang seharusnya menjadi teladan bagi manusia tapi malah menjadi biang kerok bagi sesama ! ๐Ÿ—ฏ️ Kenapa Biang Kerok ? ๐Ÿ—จ️ Karena Menerut Penulis Pribadi Manusia yang tidak produktif perusak dimata Tuhan & keluarga serta sesama . Baiklah tidak usah panjang lebar kita akan bahas apa itu produktif & kenapa orang kristen harus produktif, silakan dengar sampai habis Produktivitas adalah topik yang marak dibicarakan hari ini. Begitu banyak artikel dan buku ditulis untuk menolong kita hidup produktif.[1] Produktivitas biasanya dikaitkan dengan kuantitas yang dihasilkan dalam satu kurun waktu tertentu. Makin banyak yang dihasilkan, makin produktif seseorang. Sebagian orang menyamakan hidup yang sibuk dengan bentuk hidup yang pro...

♥ ๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐Š๐‘๐ˆ๐’๐“๐„๐ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ♥

✦๐‘๐„๐๐”๐๐†๐€๐ ๐‰๐ฎ๐ฆ๐š๐ญ, 30 ๐€๐ ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐ฎ๐ฌ 2024.✦ ♥ ๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐Š๐‘๐ˆ๐’๐“๐„๐ ๐˜๐€๐๐† ๐๐‘๐Ž๐ƒ๐”๐Š๐“๐ˆ๐… ♥ ๐ƒ๐€๐…๐“๐€๐‘ ๐ˆ๐’๐ˆ : 1. Bagaimana Menjadi Orang Kristen Yang Produktif ? 2. Mengapa Kita Perlu Bekerja Untuk Mencari Penghidupan ? 3. Mengapa Kita Perlu Berjuang Untuk Bertahan Hidup ? 4. Apakah Perbuatan Kita Penting Bagi Tuhan ? ๐๐„๐Œ๐๐€๐‡๐€๐’๐€๐ : Dengan produktif, rasa malas dalam jiwa akan tersingkir. Produktif merupakan aktivitas yang bermanfaat untuk mengembangkan diri. Menjadi produktif adalah pilihan yang terbaik untuk  dapat menjadi lebih baik. Sebab, waktu yang kamu miliki tidak terbuang sia-sia. Selain itu, orang yang produktif cenderung memiliki target dan prioritas yang jelas untuk masa depannya. ๐Ÿ—ฏ️ ๐๐„๐‘๐“๐€๐๐˜๐€๐€๐  1. BAGAIMANA MENJADI ORANG KRISTEN YANG PRODUKTIF ?  Firman Tuhan memerintahkan dalam 2 TESALONIKA 3:10-12 (TSI3.2) 10 karena waktu kita masih bersama, kami sudah mengajarkan, “Orang yang tidak mau bekerja tidak b...

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎

♥︎KESEMBUHAN ILAHI♥︎ http://alinesron.blogspot.com/2024/03/kesembuhan-ilahi.html ✦Tersedia Dalam Korban Penebusan YESUS Untuk Semua Orang Yang Percaya✦ FIRMANNYA DALAM ; KELUARAN 15:26 (ILT3)   Lalu berfirmanlah Dia, “Jika engkau mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara YAHWEH, Elohimmu, dan engkau melakukan apa yang benar di mata-Nya, engkau memerhatikan perintah-Nya dan menjaga ketetapan-Nya, Aku tidak akan menimpakan ke atasmu semua tulah yang telah Aku timpakan kepada orang Mesir, karena Akulah YAHWEH, yang menyembuhkan kamu.” DAFTAR ISI A. Pendahuluan B. Dari mana datangnya penyakit? C. Maksud dari kesembuhan ilahi D. Dasar alkitabiah untuk kesembuhan ilahi E. langkah-langkah menerima kesembuhan dari Kristus F. Mengapa ada orang yang tidak menerima kesembuhan ilahi G. Penutup A. Pendahuluan Tentang kesembuhan ilahi ini, ada orang yang beranggapan (dari gereja-gereja tertentu) bahwa kesembuhan ilahi hanya terjadi pada masa Tuhan Yesus masih berada di bumi yait...