ⓄⓇⒶⓃⒼ ⓀⓊⒹⓊⓈ ⒹⒾ ⒾⓃⒼⒶⓉⓀⒶⓃ ⓊⓃⓉⓊⓀ ⓂⒺⓂⓊⒿⒾ ⒺⓁⓄⒽⒾⓂ
Ⓡⓔⓕⓡⓐⓝⓒⓔ Ⓑⓘⓑⓛⓔ
Mazmur 149:3 (FAYH)
Pujilah nama-Nya dengan tarian, diiringi rebana dan kecapi.
Keluaran 15:20 (FAYH)
Lalu Nabiah Miryam, saudara perempuan Harun, mengambil rebana dan mengajak kaum wanita menari-nari.
Hakim-Hakim 11:34 (FAYH)
Ketika Yefta pulang ke rumahnya di Mizpa, putrinya—yaitu anaknya yang tunggal—lari menyongsong dia, sambil memukul rebana dan menari-nari kegirangan.
1 Tawarikh 15:29 (FAYH)
Ketika tabut Allah tiba di Yerusalem, Mikhal istri Daud, putri Raja Saul, melihat dari jendela dan ia merasa malu karena Raja Daud melompat-lompat dan menari-nari seperti orang gila.
2 Tawarikh 29:25 (FAYH)
Raja Hizkia mengatur orang-orang Lewi di Bait Allah dan membentuk kelompok-kelompok pemain musik, yang memainkan ceracap, gambus, dan kecapi, sesuai dengan petunjuk Raja Daud, Nabi Gad yang menjadi pelihat raja, dan Nabi Natan; karena Tuhanlah yang telah memberikan perintah itu melalui mereka. Para imam menjadi peniup trompet.
Jika mazmur sebelumnya adalah madah pujian bagi Sang Pencipta, maka mazmur ini adalah madah pujian bagi Sang Penebus. Mazmur ini adalah mazmur kemenangan di dalam Allah Israel, dan atas musuh-musuh Israel. Ada kemungkinan bahwa mazmur ini ditulis pada suatu kesempatan ketika bangsa Israel diberkati dan dihormati dengan suatu kemenangan. Namun ada sebagian orang yang menduga bahwa mazmur ini ditulis setelah Daud menguasai kubu pertahanan Sion, dan mendirikan pemerintahannya di sana. Tetapi sebenarnya mazmur ini memandang lebih jauh, pada Kerajaan Mesias, yang, mengendarai kereta Injil kekal, maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan. Kepada-Nyalah, dan kepada anugerah-anugerah serta kemuliaan-kemuliaan-Nya, kita harus mengarahkan pandangan kita dalam menyanyikan mazmur ini. Sebab, mazmur ini menyatakan,
I. Kelimpahan sukacita bagi seluruh umat Allah (ay. 1-5).
II. Kelimpahan kengerian bagi musuh-musuh mereka yang paling congkak (ay. 6-9).
Orang-orang Kudus Diingatkan untuk Memuji Allah (149:1-5)
Kita mendapati di sini,
I. Panggilan-panggilan yang ditujukan kepada umat Israel milik Allah untuk memuji. Semua ciptaan-Nya, dalam mazmur sebelumnya, digugah untuk memuji Dia. Tetapi di sini orang-orang kudus-Nya secara khusus dituntut untuk memuji Dia.
Maka perhatikanlah:
1. Siapa saja yang dipanggil untuk memuji Allah. Israelsecara umum, seluruh kumpulan jemaat (ay. 2), bani Sion secara khusus, para penghuni gunung yang kudus itu, yang berada lebih dekat dengan Allah daripada orang-orang Israel yang lain. Orang-orang yang dekat dengan firman dan ketetapan-ketetapan Allah, yang tidak harus berjalan jauh-jauh untuk mendengarkannya, patutlah bagi mereka semua untuk berbuat lebih dalam memuji Allah daripada orang lain. Semua orang Kristen sejati dapat menyebut diri mereka sebagai bani Sion, sebab dalam iman dan pengharapan kita sudah datang ke Bukit Sion (Ibr. 12:22). Orang-orang kudus harus memuji Allah, orang-orang kudus menurut pengakuan iman, orang-orang kudus dalam kuasa-Nya, sebab untuk inilah mereka dikuduskan. Mereka diabdikan demi kemuliaan Allah, dan diperbarui oleh anugerah Allah, agar mereka menjadi bagi-Nya kenamaan dan kepujian.
2. Apa yang harus menjadi dasar utama dalam puji-pujian kepada Allah ini, yaitu sukacita yang kudus di dalam Allah: biarlah Israel bersukacita, dan bani Sion bersorak-sorak, dan orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan. Puji-pujian kita kepada Allah haruslah mengalir dari hati yang dipenuhi dengan kesukaan dan kemenangan di dalam sifat-sifat (atribut) Allah dan hubungan kita dengan-Nya. Kesalehan di dalam hati terutama berwujud pada menjadikan Allah sebagai sukacita kita yang terutama dan membuat diri kita terhibur di dalam Dia. Iman kita kepada Kristus digambarkan dengan bersukacitanya kita di dalam Dia. Jadi, kita memberikan kehormatan kepada Allah apabila kita bersuka di dalam Dia. Kita harus beria-ria dalam kemuliaan, maksudnya, di dalam Dia sebagai kemuliaan kita, dan dalam kepentingan yang kita miliki di dalam Dia. Jadi, marilah kita melihatnya sebagai kemuliaan kita untuk termasuk di dalam orang-orang yang bersukacita di dalam Allah.
3. Ungkapan-ungkapan apa yang harus ditunjukkan untuk pujian ini. Dengan segala cara yang pantas, kita harus menunjukkan puji-pujian kepada Allah: nyanyikanlah bagi TUHAN. Kita harus menghibur diri kita sendiri, dan memberitakan nama-Nya, dengan memuji-muji nama-Nya(ay. 3), bersorak-sorai (ay. 5), sebab kita harus bermazmur dengan segenap hati kita, sebagai orang yang bukan saja tidak malu dengannya, melainkan juga yang dilapangkan hatinya dalam melakukannya. Kita harus menyanyikan nyanyian baru, yang baru digubah untuk suatu kesempatan khusus, bernyanyi dengan perasaan hati yang baru, yang menjadikan nyanyian itu baru, meskipun kata-katanya sudah digunakan sebelumnya, dan menjaganya agar tidak usang. Biarlah Allah dipuji dalam tari-tarian dengan rebana dan kecapi, sesuai dengan adat kebiasaan jemaat Perjanjian Lama pada masa-masa awal (Kel. 15:20), di mana kita mendapati Allah dipuji dengan rebana dan tari-tarian. Mereka yang dengan demikian menganjurkan penggunaan musik dalam ibadah harus juga, dengan aturan yang sama, menyarankan tari-tarian, sebab keduanya saling beriringan, seperti ketika Daud menari di hadapan tabut Allah dan dalam Hakim-hakim 21:21. Namun demikian, meskipun banyak bagian dalam Perjanjian Baru tetap memelihara nyanyian sebagai suatu ibadah Injil, tidak satu pun bagian yang tetap memelihara musik dan tari-tarian. Pedoman Injil untuk bermazmur adalah menyanyi dengan rohdan dengan akal budi.
4. Pada kesempatan-kesempatan apa kita harus memuji Allah. Jangan ada satu kesempatan pun dibiarkan berlalu begitu saja untuk memuji Dia. Namun, secara khusus,
(1) Kita harus memuji Allah di depan umum, di dalam kumpulan yang khidmat(ay. 1), di dalam jemaah orang-orang saleh. Semakin banyak semakin baik, semakin menyerupai sorga. Demikianlah, nama Allah harus diakui di hadapan dunia. Demikianlah, ibadah harus berhiaskan kekhidmatan, dan kita harus saling menggugah satu sama lain untuk menjalankannya. Asas, tujuan, dan maksud dari berkumpulnya kita bersama-sama dalam ibadah-ibadah adalah agar kita dapat bergabung bersama-sama dalam memuji Allah. Bagian-bagian yang lain dalam ibadah haruslah ditujukan kepada hal ini.
(2) Kita harus memuji Dia secara pribadi. Biarlah orang-orang salehbegitu terhanyut dalam sukacita mereka di dalam Allah sehingga mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur mereka, ketika mereka terjaga di malam hari, dipenuhi dengan puji-pujian bagi Allah, seperti Daud ( 119:62). Ketika Israel milik Allah dibawa ke tempat kediaman yang tenang, biarlah mereka menikmatinya, dengan penuh rasa syukur kepada Allah. Dan lebih-lebih lagi orang-orang percaya sejati, yang telah masuk ke tempat perhentian Allah dan mendapatkan ketenangan di dalam Yesus Kristus, biarlah mereka bersorak-sorai untuk itu. Di atas ranjang pesakitan mereka, di atas ranjang kematian mereka, biarlah mereka menyanyikan puji-pujian bagi Allah mereka.
II. Alasan yang diberikan kepada Israel milik Allah untuk memuji.
Pertimbangkanlah:
1. Perbuatan-perbuatan Allah bagi mereka. Mereka mempunyai alasan untuk bersukacita di dalam Allah, untuk mengabdikan diri mereka demi kehormatan-Nya, dan mempekerjakan diri mereka sendiri untuk melayani-Nya. Sebab Dialah yang menjadikan mereka. Ia memberi kita keberadaan sebagai manusia, dan kita mempunyai alasan untuk memuji-Nya karena itu, sebab keberadaan ini sungguh mulia dan luhur. Ia memberi Israel keberadaan mereka sebagai umat, sebagai jemaat, menjadikan mereka sebagaimana adanya mereka, sungguh begitu berbeda dari bangsa-bangsa lain. Oleh sebab itu, biarlah umat itu memuji-Nya, sebab Ia membentuk mereka bagi diri-Nya sendiri, dengan tujuan agar mereka memberitakan kemasyhuran-Nya (Yes. 43:21). Biarlah Israel bersukacita atas Mereka yang menjadikannya (begitulah dalam bahasa aslinya). Sebab Allah berfirman, baiklah Kita menjadikan manusia. Dan di dalam ayat ini, menurut anggapan sebagian orang, terkandung misteri Tritunggal.
2. Kekuasaan Allah atas mereka. Ini berdasarkan hal sebelumnya: jika Ia menjadikan mereka, maka Ia adalah Raja mereka. Dia yang memberikan keberadaan, tidak diragukan lagi dapat memberikan hukum. dan ini haruslah menjadi pokok sukacita dan pujian kita, bahwa kita berada di bawah pimpinan dan perlindungan Raja yang begitu bijak dan berkuasa. Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion! Lihat, rajamu datang, raja Mesias, yang telah diangkat Allah di atas Sion gunung-Nya yang kudus. Biarlah semua anak Sion beria-ria di dalam Dia, dan pergi menyongsong-Nya seraya menyorakkan seruan-seruan hosana mereka (Za. 9:9).
3. Kesukaan Allah di dalam mereka. Dia adalah raja yang memerintah dengan kasih, dan oleh sebab itu harus dipuji. Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, berkenan dengan pelayanan-pelayanan mereka, bersuka dalam kemakmuran mereka, dalam bersekutu dengan mereka, dan dalam mengaruniakan kebaikan-Nya kepada mereka. Dia yang dengan tak terhingga berbahagia dalam menikmati diri-Nya sendiri, dan yang kebahagiaan-Nya tidak dapat diberikan oleh siapa pun, dengan penuh rahmat mau merendahkan diri-Nya untuk bersuka dan berkenan kepada umat-Nya ( 147:11).
4. Rancangan-rancangan Allah berkenaan dengan mereka. Selain kepuasan yang dirasakan-Nya terhadap mereka pada masa kini, Dia juga telah mempersiapkan kemuliaan bagi mereka pada masa akan datang: Iaakan memahkotai orang-orang yang rendah hati, orang-orang yang lemah lembut, yang hina, dan yang hancur jiwanya, yang gemetar mendengar firman-Nya dan tunduk kepadanya, yang sabar menanggung penderitaan-penderitaan mereka dan yang bersikap lemah lembut terhadap semua orang. Orang-orang seperti ini biasanya difitnah dan dihina, tetapi Allah akan membenarkan mereka, dan membersihkan cela dari mereka. Bahkan, Ia akan memahkotai mereka. Mereka bukan hanya akan tampil bersih, melainkan juga indah, di hadapan seluruh dunia, dengan keindahan yang dikenakan-Nya kepada mereka. Ia akan memahkotai mereka dengan keselamatan, dengan keselamatan-keselamatan sementara (ketika Allah mengerjakan pembebasan-pembebasan yang menakjubkan bagi umat-Nya, orang-orang yang sebelumnya berbaring di antara kandang-kandang lalu menjadi seperti sayap-sayap merpati bersalut dengan perak, ( 68:14), tetapi terutama dengan keselamatan kekal. Orang benar akan diberi mahkota pada hari itu ketika mereka bercahaya seperti matahari. Dalam pengharapan-pengharapan akan hal ini, biarlah mereka sekarang, pada hari yang teramat gelap, menyanyikan nyanyian baru.
ⓃⓄⓉⒺ
Uแดแดแด Tแดสแดษด Pแดแดษชสแดส Eสแดสษชแด
Kemenangan yang Allah berikan pujian mazmur sebab "Pedang bermata dua" menjadi alat penghukuman Allah atas mereka.
(1) Pertama, membalas kejahatan setimpal.
(2) Kedua, membelenggu kuasa kejahatan.
(3) Ketiga, melaksanakan penghukuman sesuai dengan firman Tuhan.
Ketiga hal diatas bisa ditimpakan kepada kits ; jikalau kita berubah setia & taat kepada Allah.
Buat kita, umat Kristen, mazmur ini bisa dipakai untuk memuji Allah karena Dia sudah memberikan kemenangan kepada kita atas kuasa dosa, dan bahwa pelaku dosa akan menerima pembalasan setimpal. Namun, kita bisa selangkah lebih maju karena Kristus sudah mati buat pelaku dosa yang bertobat. Pembalasan setimpal untuk mereka sudah ditimpakan kepada Kristus. Maka, berdoalah untuk pertobatan mereka.
Komentar
Posting Komentar